Kamis, 07 Juni 2012

suku batak - FILOSOPI RUMAH ADAT PAKPAK

(suku batak) [Informasi seputer batak Toba, Pakpak, Karo, Simalungun, Angkola, Mandailing dan Wisata Danau Toba] FILOSOPI RUMAH ADAT PAKPAK
FILOSOFI RUMAH ADAT PAKPAK
(Studi Investigasi Antara Kepunahan Dan Nilai Budaya)
Oleh: Saut Boangmanalu, STh, MM

Rumah Adat Pakpak secara fisik menurut sejumlah pemerhati Budaya
Pakpak akan mengalami kepunahan. “Tanpa upaya serius saya pastikan
rumah adat Pakpak dalam bentuk yang sesungguhnya akan kabur, mengalami
pergeseran bahkan kepunahan” kata Zulkarnain Berutu, Sag pemerhati
Budaya Pakpak. Bukan hanya dikawasan perkotaan di Lima Suak (red-Lima
Wilayah) Tanah Pakpak tapi hampir ditingkat Desa/Dusun bahkan di
perkampungan lama pun sudah sangat sulit melihat pemandangan pemukiman
tradisional yang masih memiliki Rumah Adat Pakpak.

Secara harafiah makna-makna setiap komponen yang terdapat pada Rumah
Adat Pakpak hingga generasi saat ini masih dapat dijelaskan. Ada 10
komponen utama dari Rumah Adat Pakpak yang pada tulisan ini dapat
dijelaskan secara sederhana yang diperoleh dari sejumlah sumber.

I.Bubungan Atap
Secara fisik dapat dijelaskan bahwa Rumah Adat Pakpak memiliki bentuk
bubungan atap melengkung berbentuk seperempat lingkaran. Dalam Bahasa
Pakpak bentuk ini dimaknai dalam sebuah kalimat “Petarik-tarik Mparas
igongken Ndengol” yang artinya berani memikul resiko yang berat dalam
mempertahankan adat istiadat Kebudayaan Pakpak yang sejak lama telah
dimiliki oleh masyarakat Pakpak (Kompilasi/resensi Seminar Adat
Istiadat Pakpak-Dairi; tanggal 16 s/d 20 Maret 1970 di Sidikalang)

II.A. Pada bagian paling atas terdapat sebuah Caban (red-Cawan) yang
diletakkan tepat ditengah atas bubungan atap. Simbol ini bermakna
simbol kepercayaan Pakpak yang pada kehidupan lama masyarakat Pakpak
terdapat kepercayaan kepada Debata Kase-kase (Pasca masuknya agama
Tuhan Yang Maha Esa).
B.Tanduk Kerbau yang melekat di bubungan atap, simbol ini memberikan
makna semangat kepahlawanan Puak Pakpak.

III.Pada bagian atap juga terdapat segitiga Rumah Adat Pakpak.
Segitiga ini artinya menggambarkan susunan Adat Istiadat Pakpak yang
dalam kekeluargannya terbagi atas tiga bagian/unsur besar yang dapat
dijelaskan antara lain:
1.Senina artinya saudara kandung laki-laki
2.Berru artinya saudara kandung perempuan
3.Puang artinya kemanakan

IV.Dua Buah Tiang Besar pada bagian muka Rumah Adat Pakpak yang
disebut Binangun. Simbol ini memberikan arti kerukunan rumah tangga
antara suami dan istri.

V.Satu buah Balok besar yang dinamai Melmellen yang posisinya
terletak pada bagian samping muka rumah. Balok besar tersebut melekat
menggambarkan kesatuan dan persatuan dalam segala bidang pekerjaan
melalui musyawarah atau dalam istilah umum disebut Gotong-royong. Suku
Pakpak sejak masa kehidupan lama telah mengenal sistim gotong-royong
yang dalam istilah lokal disebut Rimpah-rimpah, abin-abin ataupun
mersiurupen.

VI.Pada bagian segitiga muka rumah terdapat ukiran yang bentuknya
bermacam-macam yang dalam istilah Pakpak terdapat tiga bentuk yakni:
a.Perbunga Kupkup, dapat dijelaskan bermakna tali persaudaraan yang
begitu erat dan tak terpisahkan ketiga belah pihak sebagaimana
disampaikan Zulkarnain Berutu Pemerhati Budaya Pakpak; wawancara 02
Februari 2012
b.Perbunga Kembang
c.Perbunga Pencur, dsb. Bentuk seperti ini menggambarkan bahwa Suku
Pakpak juga memiliki darah dan jiwa seni yang tergambar dalam berbagai
bentuk ukiran dan seni suara yang dimiliki sejak masa kehidupan lama
d.1. Tangga rumah pada Rumah Adat Pakpak biasanya terdiri dari
bilangan ganjil yakni 3 (Tiga), 5 (Lima) dan 7 (Tujuh). Hal ini
bermakna bahwa penghuni rumah ini adalah keturunan raja (Marga tanah),
sebaliknya yang memakai tangga rumah genap, yang menandakan penghuni
rumah tersebut bukan keturunan marga tanah (Genengen).
2. Pintu masuk dari bagian bawah kolong rumah, menunjukkan kerendahan
hati dan kesiapsiagaan

VII.1. Tangga rumah pada Rumah Adat Pakpak biasanya terdiri dari
bilangan ganjil yakni 3 (Tiga), 5 (Lima) dan 7 (Tujuh). Hal ini
bermakna bahwa penghuni rumah ini adalah keturunan raja (Marga tanah),
sebaliknya yang memakai tangga rumah genap, yang menandakan penghuni
rumah tersebut bukan keturunan marga tanah (Genengen).
2. Pintu masuk dari bagian bawah kolong rumah, menunjukkan kerendahan
hati dan kesiapsiagaan

VIII.Fungsi Rumah Adat
Penggunaan Rumah Adat Pakpak adalah tempat permusyawaratan mengenai
masalah yang menyangkut kepentingan umum dan tempat mengadakan
upacara-upacara adat istiadat. Sementara di dalam rumah adat terdapat
Genderrang (Alat Musik Gendang pakpak), Gerantung (alat musik berupa
Gong), Serunai (Alat Musik Tiup), Sordam, Lobat, Seruling, Kalondang
dan sejumlah alat musik Pakpak lainnya. Selain itu terdapat juga
Patung panglima (Pahlawan-pahlawan), Mejan/Situs Budaya pakpak yang
diletakkan di depan halaman pekarangan Rumah Adat Pakpak

IX.Pilo-pilo digantung dalam segitiga dipermukaan Rumah Adat Pakpak.
Hal ini menggambarkan hubungan harmonis antara masyarakat dan
pemimpinnya dan sebagai lambang kebijaksanaan pimpinan dalam mengayomi
masyarakatnya.
X.Gambar Lidah Pajung, hal ini menggambarkan kepercayaan masyarakat kepada pemimpinnya yang senantiasa memberikan bantuan dalam memelihara kesentosaan dan kesejahteraan masyarakatnya. Kekhawatiran kepunahan bentuk sesungguhnya Rumah Adat Pakpak sangat beralasan, Zulkarnain Berutu, Sag yang biasa menjadi Persinabul (red-pembawa acara adat Pakpak) memberikan komentar keras terhadap pihak-pihak maupun lembaga-lembaga yang berkompeten dalam mengangkat dan melestarikan Budaya pakpak khususnya terkait lestarinya Rumah Adat Pakpak. “Sekali lagi Pemerintah yang menjadi motor penggerak pembangunan sampai saat ini belum memberikan perhatian serius. Ini menjadi sangat penting ditengah pertumbuhan zaman khususnya ditengah masyarakat Pakpak yang seolah tidak lagi peduli dengan Kebudayaa lama” tegasnya.
Mester Padang Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata, pertamanan dan
kebersihan pemerintah Pakpak Bharat saat dikonfirmasi terkait punahnya
bentuk asli Rumah Adat Pakpak, Jumat, 02 Maret 2012 memaparkan bahwa
terdapat banyak keterbatasan yang dimiliki pihaknya dalam menelusuri,
membangun dan melestarikan Kebudayaan Pakpak khususnya menyangkut
Rumah Adat Pakpak asli. Persoalan minimnya anggaran, persoalan
keterbatasan SDM dan luasnya wilayah kerja yang harus digerakkan
instansi tersebut seolah menjadi jawaban kekhawatiran para pemerhati.
“Gambar dan bentuk asli Rumah Adat Pakpak sudah tidak ada lagi. Untuk
tahun depan kita akan ajukan anggaran untuk itu” kilahnya.

Namun ironis, tiga unit Bale (red-rumah pertemuan tradisional Pakpak)
sejak empat tahun yang lalu oleh Pemerintah kabupaten Pakpak Bharat
telah membangun di Kecamatan Salak yang disebut Bale Banurea, di
Pergetteng-getteng Sengkut Bale marga Manik dan di Kecamatan Sitellu
Tali Urang Julu Bale Silendung Bulan Berutu. Dari foto dan bentuk
hanya mampu meniru bentuk, sementara sejumlah kalangan menilai ketiga
bangunan pemerintah tersebut harusnya mampu memberikan gambar asli
Rumah Adat Pakpak. Filosofi yang seharusnya terkandung dalam bangunan
tersebut belum terlihat. “Ini jelas kelemahan Pemerintah kita. Kenapa?
Karena gambar dan bentuk serta filosofi yang terkandung harusnya sudah
ada sebelum bangunan tersebut direalisasi” ungkap Zulkarnai Berutu.

Sementara Ketua DPRD Pakpak Bharat Ir. Agustinus Manik terkait
hilangnya bentuk asli Rumah Adat Pakpak berkilah bahwa pihaknya sudah
memberikan tekanan kepada instansi terkait untuk memberikan perhatian
serius. “Kita jangan hanya mengajukan anggaran semata sementara format
bangunannya hingga saat ini belum dimiliki. Kita sangat mendukung
namun kita ingatkan jangan hanya sekedar membangun” tegasnya. Ia
berharap instansi terkait dapat mengadakan forum yang menghadirkan
tokoh-tokoh masyarakat Pakpak, tokoh masyarakat, tokoh adat dan
tokoh-tokoh pemerhati untuk menggali bentuk dan filosofi Rumah Adat
Pakpak yang sesungguhnya. “Ini tidak boleh dilakukan secara sepihak,
ini harus dilakukan dulu sebelum, kita membangun sebuah bentuk Rumah
Adat Pakpak yang sesungguhnya” pungkasnya.

Dinamika kepunahan dan hilangnya identitas Rumah Adat Pakpak sebagai
sebuah simbol masyarakat yang berbudaya nampaknya harus mendapat
ketegasan dari para Kepala Daerah yang memimpin di wilayah Tanah
Pakpak yakni kabupaten Pakpak Bharat, Kabupaten Dairi, Kabupaten Aceh
Singkil, Kabupaten Humbang Hasundutan dan Kota Subulussalam. Ini
terasa semakin penting ketika lembaga diluar pemerintah hingga saat
ini belum ada yang melakukan upaya pelestarian dan penggalian kembali
bentuk Rumah Adat Pakpak yang asli beserta filosofi yang terkandung di
dalamnya.

Pribahasa Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai budayanya
dapat menjadi renungan bagi masyarakat Pakpak khususnya bagi para
penguasa pemerintahan daerah, sehingga nilai budaya Pakpak yang
merupakan kekayaan budaya bangsa tidak tersia-siakan. Dan kekhawatiran
punahnya benda-benda dan kekayaan Budaya Pakpak dapat tetap lestari
bahkan berkembang mengiringi kehidupan masyarakat Pakpak.

Sumber:

suku batak - Budaya Pakpak dalam Tradisi Kulinernya

(suku batak) [Informasi seputer batak Toba, Pakpak, Karo, Simalungun, Angkola, Mandailing dan Wisata Danau Toba]
Budaya Pakpak dalam Tradisi Kulinernya


Budaya Pakpak dalam Tradisi Kulinernya

Dalam adat-istiadat kesukuan di berbagai negara, aspek kuliner alias makanan dan minuman merupakan salah satu poin penting. Tak hanya sebagai pemuas lapar dan dahaga, berbagai jenis makanan serta minuman diolah dan disantap karena berkaitan dengan latar belakang budaya, kepercayaan, serta adat istiadat tertentu. Tak terkecuali dengan suku Pakpak, sebuah kelompok suku yang mayoritas mendiami wilayah Kabupaten Dairi dan Pakpak Bharat di Sumatera Utara. Sebagai suku yang memiliki warisan adat dan budaya yang unik, budaya pakpak pun mengenal adanya tradisi kuliner yang berkaitan erat dengan berbagai aspek dalam kehidupan masyarakat Pakpak. Berbagai jenis makanan diolah tidak hanya sebagai santapan rutin, namun juga untuk mendahului berbagai peristiwa penting seperti panen dan pernikahan. Dalam budaya pakpak, beras merupakan unsur penting untuk membuat makanan adat, baik karena kandungan nutrisi, kemampuannya untuk mengenyangkan perut, maupun makna spiritualnya.

Hidangan Beras dalam Tradisi Kuliner Pakpak
Beras, yang hadir dalam berbagai santapan adat suku Pakpak, menjadi bagian penting dalam hampir setiap peristiwa penting serta aspek kehidupan anggota suku Pakpak. Ada berbagai cara mengolah hidangan beras menurut cara masyarakat Pakpak. Ada yang berupa hasil olahan sederhana, misalnya ginaru ncor yang merupakan bubur beras campur cuka, atau nakan gersing alias nasi kunyit yang dihidangkan dengan telur rebus. Ada juga olahan yang lebih rumit dan memanfaatkan berbagai bahan baku khas Pakpak, misalnya pelleng yang mungkin lebih dikenal masyarakat Indonesia sebagai nasi kuning, dan nakan merasa alias beras yang diolah bersama buah bungke yang pahit, tanaman singgaren, rimbang dan terong. Beras juga diolah menjadi tepung dan dimasak lagi dengan kelapa dan gula merah menjadi semacam kue yang disebut nditak.

Makna di Balik Hidangan Khas Pakpak
Dalam budaya pakpak, berbagai sajian tradisionalnya dimasak dan dihidangkan dengan menyimpan makna atau harapan tertentu. Nasi kuning alias pelleng, misalnya, dipandang sebagai makanan yang tidak hanya kaya dan menyehatkan namun juga memiliki unsur spiritualitas tinggi. Itulah sebabnya makanan ini biasa dihidangkan pada pagi hari sebelum peristiwa-peristiwa penting seperti membuka lahan, mengiringi anggota keluarga yang pergi atau pulang merantau, hajatan, hingga perang. Unsur spiritual beras dalam budaya pakpak juga nampak dalam hadirnya kue nditak di acara pengikiran gigi anak gadis, penyerahan mas kawin alias muat nakan peradupen, serta upacara meneppuh babah untuk mengakhiri panen atau acara pernikahan. Wanita Pakpak yang sedang hamil biasanya diminta memakan nakan merasa atau kadang juga disebut nakan pagit. Hasil olahan beras dengan buah-buahan dan sayuran yang pahit ini dianggap dapat menguatkan fisik dan mental si ibu, serta menghindarkan janin si ibu dari penyakit karena darah si ibu dan bayinya dianggap menjadi pahit akibat makanan tersebut. Biasanya, wanita Pakpak yang sedang hamil diminta memakan makanan ini ketika usia kandungannya sudah mencapai 5 hingga 7 bulan.


Sumber:
http://pakpak.org/budaya-pakpak-dalam-tradisi-kulinernya

suku batak - MENGENAL ADAT DAN BUDAYA PAKPAK

(suku batak) [Informasi seputer batak Toba, Pakpak, Karo, Simalungun, Angkola, Mandailing dan Wisata Danau Toba]

MENGENAL ADAT DAN BUDAYA PAKPAK

PENDAHULUAN
Etnis Pakpak berada di Kabupaten Dairi, Kabupaten Pakpak Bharat dan sebagian berada di Kabupaten Aceh Singkil (Boang) dan Tapanuli Utara/Tengah (Kelasen). Asal etnis Pakpak diperkirakan datang dari India melalui Barus atau Singkil, dan menurut penelitian, tempat pertama orang Pakpak adalah di Kuta Pinagar (Kecamatan Salak), keturunan dari si Kada dengan istrinya Lona. Kemudian lahir anaknya bernama di Hyang dengan keturunannya sebanyak 7 (tujuh) orang yaitu : si Haji (Banua Harhar), Si Raja Pako (Sicike-cike), Mpu Bada (Aceh Singkil), Ranggarjodi (Buku Tinambun), Mbello (Silaan Rumerah), Sanggir (Kelasen/Taput), dan Bata
(tigak diketahui kemana perginya).

Dari masing-masing keturunan tersebut diperincin lagi keturunannya adalah sebagai berikut :
a. Si Haji dengan keturunannya bermarga Padang, Berutu dan Solin;
b. Si Raja Pako bertempat di Sicike-cike dengan keturunannya bermarga Ujung, Angkat, Bintang, Capah, Sinamo, Kudadiri dan Gajah Manik atau disebut juga Sipitu marga;
c. Mpu Bada dengan keturunannya marga Manik, Beringin, Tendang, Banurea, Gajah, Berasa;
d. Ranggarjodi;
e. Mbello disebut juga perbaju bigo, menurut kisah telah tenggelam oleh suatu peristiwa;
f. Sanggir dengan keturunannya Tumangger, Tinambunen, Anakampun, Meka, Mungkur, Pasi, Pinayungen.

STRUKTUR KEMASYARAKATAN
Masyarakat Pakpak terdiri dari marga-marga yang mendiami masing-masing kawasan hak tanah ulayat yang merupakan satu kesatuan dengan hidupnya dimpimpin oleh seorang Pertaki, kemudian di atasnya ada di sebut Aur yang dipimpin oleh seorang Raja. Struktur kemasyarakatan tersebut diletakkan pada sebuah lembaga adat yang disebut Sulang Silima. Sulang Silima terdiri dari PERISANG-ISANG (Sukut), Pertulan Tengah (saudara tengah), Perekur-ekur (saudara bungsu), Bitekken (Berru), dan Punca Ndiadep (Kula-kula). Pembagian status ini mempunyai peranan penting di dalam kemasyarakatan terutama berkaitan dengan status seseorang yang harus termasuk di dalam Sulang Silima tersebut. Pertaki mempunyai peranan yang sangat luas seperti pepatah mengatakan "Bana Bilalang Bana Biruru, Bana Lubalang bana guru" artinya seorang Pertaki mempunyai kelebihan sebagai panglima perang, Raja adat dan sebagai guru yang menjadi suri teladan serta panutan bagi masyarakatnya.

HUKUM ADAT TANAH
Tanah merupakan satu kesatuan dengan kehidupan masyarakat Pakpak atau dengan kata lain tanah menunjukkan identitas tentang keberadaan anggota masyarakat tersebut sehingga tanah menentukan hidup matinya masyarakat tersebut. Tanah dikuasai oleh marga sebagai pemilik ulayat tanah tersebut. Adapun bentuk-bentuk tanah dalam masyarakat Pakpak adalah sebagai berikut :
1. Tanah tidak dikuasai, yaitu "tanah karangen longo-longoon", "tanah kayu ntua", "tanah talin tua", "tanah balik batang" dan "rambah keddep".
2. Tanah yang diusahai, yaitu "tahuma pergadongen", "perkemenjenen" dan "bungus"
3. Tanah Perpulungen, yaitu embal-embal, jampalen, dan jalangen;
4. Tanah Sembahen, yaitu tanah-tanah yang mempunyai sifat magis (keramat) terdiri dari tanah sembahen kuta (tidak diperladangi) dan tanah sembahen ballilon (dapat diperladangi).
5. Tanah Pendebaan, yaitu tanah yang diperuntukkan bagi pekuburan.
6 . Tanah Persediaan, yaitu tanah cadangan (kelompok tertua) dan tidak boleh diganggu.
Menyangkut pergeseran tanah tidak dikenal dalam hukum adat Pakpak, kecuali Tanah Rading Berru(tanah yang diberikan kepada anak perempuan/menantu sepanjang masih dipakai) dan bila tidak dipakai lagi harus dikembalikan kepada kula-kulanya atau yang memberikan tanah rading berru. Bila ada permasalahan mengenai tanah, penyelesaiannya diserahkan kepada Sulang Silima.

PERKAWINAN
Perkawinan dalam masyarakat Pakpak termasuk dalam siklus kehidupan seseorang yang telah diatur tersendiri. Hakikat perkawinan adalah membentuk keluarga untuk mengembangbiakkan keturunan dari kelompok marga, sehingga dapat menjadi penerus dari kelompoknya. Oleh karena itu bila terjadi perkawinan, maka perkawinan itu melibatkan seluruh keluarga baik dekat maupun jauh. Jadi, hakikatnya merupakan ikatan yang tidak ada putus-putusnya.

Dalam masyarakat Pakpak dikenal bentuk perkawinan yaitu kawin resmi, kawin mengeke, kawin mengalihkawin mengerampaskawin menama dan kawin mencukung. Prosesi perkawinan dimulai dengan mengeriritmengkata utang dan diakhiri dengan pernikahan yang disebut merbayo. Di dalam aturannya ditentukan bahwa tidak boleh kawin dengan semarga, setiap perkawinan harus diadati, terjadi penyesuaian tutur, perpantangan-perpantangan dan lain-lain.

Perlu pula diketahui bahwa apabila seseorang mengawini seorang wanita, maka ketentuan-ketentuan pemberian (unjuken) dari pihak laki-laki pada pihak perempuan, yang menerima unjuken adalah takal unjuken, upah turang, todoan, togoh-togoh/penampati, upah puhun, upah mendedah, upah mpung dan Remmen-remmen julun tapiin. Sedang oles (kain) yang diserahkan adalah oles inang niberru, oles inang peduaken, oles turang niberru, oles puhun, oles mendedah, oles mpung, oles persinabul, oles penelangkeen dan oles persintabiin.

Perlu dicatat bahwa Tokor Berru (pemberian pihak laki-laki) bisa berbentuk emas, kerbau dan lain-lain. Setiap pemberian harus dibalas pula oleh pihak perempuan dalam bentuk yang telah ditentukan oleh Pengetuai.

KEPERCAYAAN
Pada saat ini masyarakat Pakpak telah memeluk agama Kristen dan Islam walaupun sebelumnya sangat kuat terhadap kepercayaan Animisme (sipele begu), namun hal ini menunjukkan perubahan yang sangat cepat atas kepercayaan ini, walaupun masih ada kepercayaan-kepercayaan tertentu. Toleransi antara pemeluk agama tersebut sangat tinggi karena masih diikat oleh rasa kekeluargaan.

PAKAIAN
Pakaian sehari-hari pada umumnya saat ini telah disesuaikan dengan perkembangan zaman. Tetapi untuk acara adat mempunyai bentuk tersendiri, yaitu :
a. Laki-laki
Adapun pakaian yang dikenakan dalam acara adat oleh laki-laki adalah oles, bulang-bulang, golok, ucang, borgot, tali abak dan kujur sinane.
b. Perempuan
Pakaian khas adat bagi perempuan adalah baju merapi-api, oles, saong, cimata leppa-leppa, rabi munduk dan ucang.

MAKANAN
Adapun makanan khas suku Pakpak adalah sebagai berikut :
a. Pelleng, yaitu suatu makanan yang diperuntukkan bagi mereka yang akan pergi berperang (mergeraha) atau untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan daam mencapai suatu tujuan;
b. Nditak, yaitu sejenis makanan yang diperuntukkan bagi seseorang supaya "ulang kengaleen" (patah ditengah) dalam suatu usaha;
c. Nakan Mpagit, yaitu makanan yang diberikan kepada seorang wanita yang sedang hamil;
d. Nakan Nggersing, yaitu makanan untuk orang yang meminta agar jangan sakit-sakitan atau sesuatu yang dapat memenuhi maksud;
e. Nakan Pengambat, yaitu makanan yang diberikan oleh keluarganya kepada orang yang sedang sakit keras.

RUMAH ADAT
Bentuk Rumah Adat Pakpak mempunai ciri tersendiri yaitu atapnya berbentuk melengkung (ndenggal). Hal ini diumpamakan "Petarik-tarik mparas igongken ndenggal" artinya berani memikul resiko apabila sesuatu sudah dikerjakan dan berani mempertahankan sesuatu yang telah diperbuat.

Rumah adat mempunyai fungsi sebagai tempat musyawarah mengenai masalah-masalah kemasyarakatan dan merupakan tempat alat-alat kesenian, sedangkan untuk tempat anak muda serta tamu disediakan rumah tersendiri yang disebut "Bale" dan untuk rapat-rapat biasa dan tempat latihan-latihan kesenian, sedangkan untuk musyawarah dalam bentuk besar dipakai "kerungguun".

ALAT KESENIAN
Masyarakat Pakpak mempunyai alat kesenian yang dipelihara sejak nenek moyang yang terdiri dari : Gerantung (tidak terdapat di daerah lain), Gung, Kalondang, Sarune, Sordam, Kucapi, Genggong, Genderang (sembilan buah), dan lain-lain. Alat kesenian ini bisa milik perorangan dan bisa juga milik bersama.

AKSARA DAN BAHASA
Etnis Pakpak sejak dahulu telam mempunyai aksara yang ditulis dalam buku yang disebut "LAPIHEN". Dalam buku lapihen ini terhimpun bermacam-macam catatan dalam bentuk mantera-mantera, religius dan lain-lain dalam bahasa daerah Pakpak. Bahasa ini masih tetap dipakai sebagai bahasa sehari-hari sampai sekarang.

GOTONG ROYONG
Sifat gotong royong masih dipelihara oleh masyarakat Pakpak sampai sekarang. Hal ini tercermin dalam kehidupan sehari-hari, dalam bentuk sebagai berikut :
1. Rimpah-rimpah, yaitu suatu bentuk kerja sama dalam bertanam padi dan lainnya;
Pelaksanaannya diawali dengan cara "merkua" yaitu dengan terlebih dahulu memberitahukan secara satu persatu keluarga masyarakat agar dapat bersama-sama untuk menyelesaikan pekerjaan, misalnya "mardang" (menanam padi).
2. Urup-urup, yaitu suatu bentuk kerja sama untuk menyelesaikan suatu pekerjaan dengan beberapa keluarga sehingga pekerjaan cepat selesai. Misalnya suatu keluarga mengajak satu keluarga lain untuk bersama-sama mengerjakan ladangnya.

PENUTUP
Demikian sedikit ulasan mengenai adat dan budaya Suku Pakpak yang merupakan warisan dari nenek moyang kita sejak dahulu kala. Semoga dapat memberikan manfaat bagi kita masyarakat Pakpak pada khususnya agar kita dapat melestarikan budaya kita yang sangat indah ini. Saya tahu bahwa tulisan ini masih banyak kurangnya sehingga kalau ada yang mau menambahkan silahkan tinggalkan pesan di kolom komentar yang tersedia. Terima kasih dan Njuah-njuah!!

Ditulis kembali oleh : Sehat M Berutu
sumber : H. Kaddim Berutu, SH, seorang tokoh masyarakat Pakpak.


suku batak - Pakpak Bharat Adakan Sosialisasi Gerakan Bangkit PERTAKI

(suku batak) [Informasi seputer batak Toba, Pakpak, Karo, Simalungun, Angkola, Mandailing dan Wisata Danau Toba]

Pakpak Bharat Adakan Sosialisasi Gerakan Bangkit PERTAKI

Pakpak Bharat,BN-Kegiatan sosialisasi gerakan bangkit PERTAKI merupakan upaya masyarakat Pakpak Bharat untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera, berbudaya dan Agamais. Tujuan gerakan bangkit pertaki adalah mengangkat kembali tradisi leluhur yang begitu bermakna dan bermartabat pada dahulu kala di dalam kehidupan masyarakat Pakpak.

Dalam rangka mensukseskan program Pemerintah Pakpak Bharat menuju masyarakat yang sejahtera (Nduma) tersebut, yang salah satunya membangkitkan kembali seni budaya suku Pakpak, dengan ini Gerakan Bangkit PERTAKI (Pertanian Tangguh Komersil Industri) dengan tujuan merubah cara pikir masyarakat Pakpak Bharat untuk mengenal budaya suku sendiri dengan diiringi pertanian yang tangguh komersil dan industri.

Acara bangkit PERTAKI ini dibuat dan digagasi dari kepala BP4K Kabupaten Pakpak Bharat Makner Banurea yang diselenggarakan di lapangan bola kaki Tinada Kecamatan Tinada pada Rabu (1/2) lalu.
Makner Banurea menyampaikan, melalui simbol PERTAKI ini mari suku Pakpak kita bangkit untuk semakin lebih baik, sejahtera/nduma, bangkit melalui pertanian yang tangguh yang mengangkat budaya suku Pakpak yang berkareakter pemberani, tangguh dan siap berperang melawan zaman, berperang dari keterpurukan.

Dalam acara tersebut, tokoh adat, agama dan masyarakat sebanyak lima orang yaitu Mustri Solin, Gayus Sinamo, Budi Arti Solin, Marison Solin (Kades Tinada), S. Lian Sinamo (Camat Tinada) memberikan cendramata berupa kain sarung yang dalam adat pakpak satu lembar Oles kepada Pemerintah Pakpak Bharat dalam hal ini Bupati Pakpak Bharat Remigo Y Berutu, Wakil Bupati Maju Illyas Padang, Dandim 0206 dan salah satu anggota DPRD Pakpak Bharat.
Bupati Pakpak Bharat Remigo Y Berutu menyampaikan, “hari ini kita berkumpul untuk menyajikan apa itu “PERTAKI” didalam kebudayaan Pakpak, saya bangga dengan budaya Pakpak, ucapnya, dimana jaman dahulu PERTAKI itu adalah orang-orang yang tangguh, seorang yang mau berkorban untuk orang-orang yang ada disekelilingnya, juga panutan, tegas dan berani mengambil keputusan. Inilah nilai dari pada PERTAKI tersebut, tegas Bupati. Oleh karena itu, tambahnya, marilah kita hidupkan kembali nilai-nilai dari PERTAKI ini, jangan ada iri dan dengki sesama kita. Mari kita menumbuh kembangkan jiwa kita seperti PERTAKI, kata Bupati.

Kegiatan dihadiri Bupati Remigo Yolando Berutu, Wakil Bupati Maju Ilyas Padang, Anggota DPRD Midun Angkat, Asisten II Sustra Ginting, para pimpinan SKPD Pakpak Bharat dan peserta dari lima Kecamatan (Tinada, Siempat Rube, Kerajaan, STTU Jehe dan Pagindar), juga hadir dari Tokoh Agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, pemuda tani, tokoh perempuan serta cendikiawan. (pb.007/tim)

Sumber:

suku batak - Cerita Rakyat Pakpak – “Berru ni Raja Engket Manuk-Manuk Sigurba-Gurba Sipitu Takal”

(suku batak) [Informasi seputer batak Toba, Pakpak, Karo, Simalungun, Angkola, Mandailing dan Wisata Danau Toba]
Cerita Rakyat Pakpak –
“Berru ni Raja Engket Manuk-Manuk Sigurba-Gurba Sipitu Takal”

Najolo Lot kin ngo sada kalak daholi roh i kecundetennai, Maholi kalohon janah sipande-pande ngo en. Nai laos mo daholi en merdalan mengekutken sada lae mengalir nalako menulusi sada kuta. Nai soh mo ia mi sada bekkas idah ia mo tellu keppe takal lae ndai.

Marsak mo daholi, apina ngo ekutenenku katena. Itengen ia kan kumuhun mbersih janah manum mbue bulung bulung, kantengah idah ia meletuk cituk, kan kambirang mbara warnana. Jadi ipilih ia mo mengekutken sikan tengah kerna idah ia meletuk tandana jelma lot meridi ijulu.

Ibuat iamo sada bulu nalako mahan sulingna, lejja kessa ia merdalan meradi mo ia janah ninganna ipekade mo sulingna. Enggo kessa merdalan ia tah piga ari soh mo ia misada tapin tapi oda ngo ibettoh i peridiin berru ni raja ngo i. Nai ciboni ngo daholi ndai kipema ise ngo ndia si meridi isen katena.

Ikepar tapin lot ngo sada kuta na meriah kalohon, janah iperentah sada raja sitermurmur, i kerajaaen en lot ngo sada berru ni raja na bagak kalohon, gedang bukna, pekilakona pe mahan sitirun.

Berkat mo berru ni raja en lako meridi mi tapin bekkas daholi ndai ciboni, soh kessa ia menter mo keluar daholi ndai ibagas percibonien nai, tersengget mo berru ni rajai, kumerna oda kin ngo pang roh mi tapin i. Nai kirana mo daholi I nina mo “sentabi turang ise ngo ke, janah kade gelar kuta en..?”

“ise ngo pana ko asa berani ko roh mi bekkas tapinkuen” alus berruni raja i.
“lakum aku perdalani ngo turang naing kateku singgah I kuta ndene en” nina sidaholi en mo.

Nai ipeterrang berru ni raja en mo karina, janah iembah mo daholi i mikuta misapo partuana. Nai bagimo, engo mo tah piga minggu tading daholi en I kutai, janah gaji-gajien mo ia rebbak deba, enggo kessa tengah berngin lalap ngo dak ipesora ia sulingna ndai, bagak kalohon ngo sora sulingna i, sennang ngo karina perkuta i megeken sora serulingna i, janah pulung-pulung ngo dak simerbaju engket anak perana ninganna menutu page.

Bagi mamo berru ni raja i oda kessa i begge ia sora suling daholi ndai oda ngo terpeddem ia, janah ngati ngo ia teddoh mengidah daholi ndai. Raja ni kuta i peng tong ngo pana iperateken daholi ndai, idah ia mo mendena pekilakona engket rajinna kerejo daholi ndai, singkat ni cerita, ipesaut ia mo berruna ndai engket daholi i, nai ibaing mo pestana meriah kalohon, pituari pitu berngin mo i baing pesta ni, janah i seat mo pitu kerbo, iberre raja i mo sabah, sapo, pinakan engket hartana sitengah mendahisa.

Tapi enggo kessan piga-piga bulan merubah mo pekilako daholi i, gabe perjodi-jodi ngo ia janah pemabuk, mela ngo i akap berru ni raja i menengen jelma nterrem, enggo mo tah piga kali ipesenget ia daholina I asa mobah, tapi odah ngo meut, malah makkin merajalela, kumerna enggo melasu engket ciona ukur berru nirajai, tutusmo pana ukurna menadingken daholina i.

I tenggoi ia mo manuk-manuk simergelar “Sigurba Gurba Sipitu Takal” I delleng nai, mbelgah kalohon ngo manuk-manuk nai, nai menangkih mo berru ni raja i mi babo manuk-manuk i, isuruh mo kabang merembah ia mi dates, tapi madeng daoh kabang, I begge beru ni raja i mo sora seruling ni daholi na ndai, menter ndabuh mo perasaanna, ipesulak ia mo susur turun manuk-manuk nai, janah seggep mo i dates neur keppel, idah ia mo daholi na ndai pesoraken seruling, ielek daholini mo ia asa turun mi teruh, tapi oda ngeut berru ni raja i.

Nai isuruh berru raja i mo mulak kabang manuk-manuk nai, tapi ideng ngo i pertengahen delleng mulak mo i begge ia mersora suling ni daholina ndai, roh ma mo menter nteddohna midah daholina ndai, tong mamo i suruh ia turun manuk-manuk sigurba-gurba sipitu takal ndai turun. Seggep mo i dates neur gading, i tatap ia mo daholi na ndai. Tong ngo i suruh ia susur, tapi oda ngo ue ia, puas kessa ntedohna mendahi daholi na ndai, mulak mamo i suruh kabang manuk-manuk ndai.

Nai ideng ma ngo ia i punca delleng roh mo tenggo-tenggo sora seruling ni daholi na ndai, tong ma isuruh ia turun manuk-manukna ndai, janah senggep mi babo neur ijo, nai kirana mo ia i tenahi daholina i nina mo: “ko ale turang tampuk ni pusuhku, tading mo ko laos mo aku, janah enget mo molo ntedoh kono bangku, pangan mo janah enum mo buah neur sini senggepen manuk-manuk en, molo magin ngo ko buah neur en mo baing gabe pinatunna”

Enggo kessa i tenahi menter mo kabang manuk-manuk ndai dekket berru ni raja I oda nenge teridah. Nai tading mo mulak mbalnung daholi ndai, raja ni kuta ipe melaga ngo bana, janah i pelaus ngo ia kan kuta inai.
I asa soh bagendari pe buah neur Keppel, neur gading engket neur ijo ibaing kalak ngo gabe pinantun menambari kalak si mersakit.

Terjemahan :
Puteri Raja dan Burung Sigurba Gurba Berkepala Tujuh
Dahulu kala, hiduplah seorang pemuda yang sangat tampan dan pintar dalam hal memainkan seruling. Pemuda ini hidup sebatang kara dan berkelana dari satu desa ke desa yang lain.

Suatu hari ketika pemuda itu pergi menuju suatu desa, yang mana desa itu tersebut dihuni masyarakat yang banyak, yang dipimpin seorang raja yang arif dan bijaksana.
Raja negeri itu mempunyai seorang puteri yang cantik dan rupawan, baik tutur katanya dan menjadi panutan di seluruh negeri tersebut. Di pinggir desa mengalir sebuah sungai yang menjadi tempat pemandian puteri raja tersebut, tak seorang pun berani mandi di tempat pemandian sang puteri raja.

Suatu hari sampailah pemuda yang berkelana tadi di sebuah muara sungai, yang mempunyai tiga cabang arah sungai. Sang pemuda pun bingung, arus mana yang diikutinya. Diperhatikannya arus sungai tersebut, sebelah kanan airnya jernih dan banyak daun-daun yang mengalir. Sebelah kiri airnya merah dan di tengah airnya keruh dan banyak buih-buih yang bergelombang menandakan adanya yang mandi di di hulu sungai.

Si pemuda pun memutuskan mengikuti arus sungai yang di tengah, begitulah setelah beberapa hari berjalan, sang pemuda pun sampai disuatu tempat terlarang bagi orang biasa untuk didatangi, karena tersebut adalah pemandian putri raja. Si pemuda pun memutuskan untuk bersembunyi di tempat tersebut. Alhasil tiada beberapa lama berselang sang putri rajapun datang untuk mandi, ditemani oleh dayang-dayangnya.
Si pemuda pun keluar dari tempat persembunyiannya dan alangkah terkejutnya putri raja mengetahui hal itu, dan belum hilang rasa terkejutnya, si pemuda pun berkata:
“maafkanlah aku ini hai putri yan cantik dan jelita, bukannya aku berniat jahat, tetapi aku ingin mengetahui desa apakah ini dan siapakah gerangan putri yang cantik dan rupawan ini?”
“Siapakah sebenarnya engkau yang berani datang ke tempat pemandianku ini?” Tanya putri raja tampa memperdulikan pertanyaan pemuda tersebut.

“Aku adalah seorang pengelana yang terdampar di negeri ini dan kalau dibolehkan aku ingin singgah sebentar dan berkenalan dengan masyarakat disini”. Jawab si pemuda.
Esok paginya seperti biasanya putri rajapun pergi ke tempat pemandiannya, tapi alangkah terkejutnya putri raja melihat pemuda kemarin sudah ada di situ duduk memainkan serulingnya dengan merdu. Akhirnya sang putri pun mengajak pemuda tadi ke tempat orang tuanya.Sang rajapun menjamu pemuda tersebut di istana dengan meriah, dan memperkenalkannya dengan permaisuri serta pejabat negeri tersebut. Raja mengijinkan pemuda tersebut tinggal di negeri itu, dan setelah beberapa bulan, raja menjodohkan putrinya dengan pemuda itu. Raja menghadiahi banyak harta berupa sawah, rumah bahkan pengawal dan dayang-dayang.

Namun sifat manusia tak dapat kita pastikan, begitulah setelah beberapa bulan sifat menantu rajapun sudah berubah, peminum dan suka berfoya-foya serta penjudi. Sang putri sudah berkali-kali menasehati suaminya, namun tak pernah didengarkan dan digubris, bahkan makin menjadi-jadi. Hal ini membuat sang putri raja menjadi sakit hati dan menjadi putus asa. Timbullah niat sang putri untuk pergi meninggalkan suaminya untuk selamanya karana sang putri melihat tak ada lagi pertobatan dalam diri suaminya.

Putri rajapun mengambil keputusan dan memanggil burung peliharaannya dari gunung yang selama ini berada di sana. Peliharaan putri adalah seekor burung rakasa yang berkepala tujuh, yang diberi nama oleh putrid yaitu “Burung sigurba-gurba sipitu takal” Sigurba-gurba sipitu takal pun membawa terbang sang putri, akan tetapi belum beberapa jauh mereka terbang , terdengar sang putrilah suara seruling yang dimainkan suaminya. Sang putripun menyuruh burung peliharaannya untuk turun kembali dan hinggap di nyiur keppal.

Sang Putri melihat suaminya duduk memainkan seruling seraya memintanya untuk turun, Tapi sang putri tidak mau, setelah puas memandang suaminya diapun meminta burung terbang kembali, akan tetapi kembali ia mendengar suara seruling yang mendayu-dayu dan hal ini membuat sang putri rindu dan kasihan melihat suaminya.
Burung peliharaannya pun kembali di suruhnya turun hinggap di pohon nyiur Gading. Suaminya pun memohon sang putri untuk turun dan berjanji akan bertobat. Tetapi sang putri tidak mau mendengarkan perkataan suaminya dan meminta kembali burung peliharaannya untuk terbang. , namun seperti semula kembai terdengar suara seruling suaminya memanhgilnya dan hal ini membuat sang putri terpaksa turun kembali bersama peliharaannya dan hinggap di pohon nyiur ijo. “Suamiku tercinta, apa boleh buat sudah nasib dan rejeki badan kita berpisah, kala engkau rindu pakdaku , carilah nyiur keppal, nyiur gading dan nyiur ijo dan minumlah airnya sebagai penawar rindumu dan dikala engkau sakit, buatlah buahnya sebagai obat”

Selesai berpesan kepada suaminya, sang putripun terbang bersama burung peliharaannya dan tak pernah kembali dan tinggallah suamiya dengan penyesalan yang terlambat. Alkisah buah nyiur keppal, nyiur gading dan nyiur ijo bisa dijadikan menjadi obat penawar sakit dan sampai sekarang banyak dipakai manusia sebagai ramuan obat-obatan.

Dari buku “Kumpulan Cerita Rakyat Pakpak”(Editor : Dina L.Tobing, Sonti Banurea & Muda Banurea)


Sumber:
http://rheein.wordpress.com/category/pendidikan/budaya/suku-pakpak/

suku batak - Sicike-cike, dari Legenda Menuju Surga Anggrek

(suku batak) [Informasi seputer batak Toba, Pakpak, Karo, Simalungun, Angkola, Mandailing dan Wisata Danau Toba] Sicike-cike, dari Legenda Menuju Surga Anggrek


Sepertinya kehadiran danau-danau di Sumatera tak bisa dipisahkan dari legenda. Lihatlah Danau Toba, Lau Kawar, Danau Siais, dan tak ketinggalan pula tiga danau di TWA Sicike-cike, yang masing-masing mempunyai cerita yang berbeda. Hanya satu hal yang mengikat dari cerita-cerita itu, yakni sama-sama mempunyai pesan moral yang kuat. Kami, mahasiswa Biologi FMIPA USU, tentu tertarik akan suatu lokasi yang sedikit unik. TWA Sicike-cike nun di Kabupaten Dairi adalah sebuah rawa dataran tinggi seluas 575 hektar. Rawa ini memiliki kemiripan dengan rawa yang terletak di kawasan Gunung Tujuh, Kerinci Seblat, karena sama-sama tidak berada di dataran rendah sebagaimana lazimnya sebuah rawa. Keinginan kami untuk mengunjungi TWA Sicike-cike yang mempunyai 3 danau ini pun akhirnya dilaksanakan awal April lalu. 



Setelah enam jam perjalanan melewati Berastagi-Kabanjahe–Merek–Sumbul-Taman Wisata Iman–Bangun-Desa Laehole II, rombongan kami yang terdiri dari 75 orang sampai ke pintu masuk hutan. Kami telah menempuh jarak 170 km sejak berangkat dari Medan. Hari sudah Maghrib, gubuk polisi hutan yang masih setengah jadi, kami tempati satu malam sebelum mendirikan 10 tenda di bibir hutan. Suhu 18 derajat celsius memaksa kami merapat dan merindukan kopi sidikalang yang hangat. Kami tak mendapatkannya. “Dik, hati-hati masuk hutan itu, banyak orang kesasar di sana,” kata penduduk yang rumahnya tidak jauh dari TWA, mencoba mengingatkan kami. Sebelumnya, cerita tentang kesakralan TWA Sicike-cike sudah kami serap dari seorang suku Pakpak bernama Konstan Capah. Konon, banyak pengunjung yang diganggu arwah dengan cara menyesatkan pengunjung, sehingga tak tahu jalan pulang. “Peneliti Jerman pernah kesasar beberapa hari di sana, dan mahasiswa yang berkunjung digigiti sesuatu ketika mandi-mandi, sampai ia minta ampun di danau pertama. Semuanya bergantung niat, bersihkan hati sebelum masuk hutan agar tidak diganggu,” saran pria dengan cambang lebat yang sudah memutih itu. 


Sesuai prosedur adat yang disarankan Konstan Capah dan demi kebaikan kami sebagai pengunjung, ada baiknya kami mengikuti ritual adat sipitu marga, yakni menyediakan pelleng (makanan khas Suku Pakpak), pisang, nditak, lae rimo mukur, gatap, timun, dan berbagai tambahan buah lainnya. Mengejar waktu yang singkat, kami pun mulai memotong dua ayam beserta nasi yang diaduk dengan air perasan kunyit, sekaligus belajar membuat makanan khas Sidikalang. Inilah saatnya kami menumbuk beras untuk nditak, dan menyusun buah sesuai tata letaknya. Dahulu, pelleng identik dengan peristiwa mergeraha (perang), dan selalu disajikan untuk para pemuda yang hendak maju ke medan tempur untuk mempertahankan haknya. Bumbu pedas yang sengaja ditambahkan pada makanan ini dimaksudkan dapat memacu semangat dan keberanian para ksatria Pakpak. Dari jenis makanan pedas ini, pemuda mencoba menyatukan dan merebut Pegagan, Keppas, Simsim, Kelasen, dan Boang, lima daerah yang didiami Suku Pakpak yang sengaja dipecah penjajah. Sampai saat ini, tradisi memakan pelleng masih banyak dilaksanakan pada seremoni hajatan. 


Memakan pelleng bisa membuat semangat membara. Tapi kami hanya menerima rasa pedasnya, dan membuat liur mencair tak ketulungan. Ada kecenderungan di tengah masyarakat, untuk menghargai makanan khas ini, mereka tidak menjual paket makanan pelleng. “Kesakralannya bukan untuk dikomersilkan,” kata mereka. Sekitar dua jam kemudian, sudah tersaji ayam panggang cincang “ekspres” sebagai lauk nasi kuning. Sangat beraroma dan menggoda lidah. Dengan memakai pakaian khas Pakpak, oles, dimulailah seremoni yang dibuka dengan pembacaan sodip, semacam mantra dalam Bahasa Pakpak. Usai berdoa sejenak, saatnya makan hidangan yang terkenal dengan kepedasannya tersebut. Waduh, hancur. Tapi orang Pakpak adalah jenius tradisional. Rasa pedas kemudian disembuhkan dengan meminum lae rimo mukur (air jeruk purut). Luar biasa, rasa pedas itu hilang dalam sekejap. Apakah kami sudah siap untuk berperang? Gatap (daun sirih), disisipkan ke pinggiran danau yang diyakini meninggalkan situs peradaban yang hilang, kemudian tepung beras giling sedikit ditaburkan mengelilingi tenda kami. Banyak di antara rombongan yang menanyakan keampuhan ramuan itu. Kita semua mungkin tidak tahu. 
*** 


Lima hari di rawa dataran tinggi TWA Sicike-cike sudah cukuplah bagi kami untuk mengenal kekayaan flora dan fauna beserta faktor fisiknya. Dibantu tiga pemandu, kami menerapkan metode ilmiah, menganalisis keberadaan hutan Taman Wisata Alam (TWA) tersebut yang dibagi atas tiga tim, yakni tim tumbuhan, hewan dan perairan. Salah satu yang menjadi perhatian kami adalah anggrek dan Nepenthes spp (kantung semar), di samping banyak lagi tumbuhan dataran tinggi lainnya. Tak ketinggalan pula bunga bangkai (Rafflessia sp.) yang sedang mekar seukuran kepalan tangan. Intensitas cahaya yang masuk cukup baik untuk pertumbuhan kedua jenis tanaman eksotis ini. Di kisaran danau yang lebih terbuka, sinar matahari dapat masuk sepanjang hari. Sekitar 112 jenis anggrek terfokus pada ketiga danau tersebut. Anehnya, kami tidak pernah menemukan ikan di sepanjang danau itu. 


Penduduk kerap masuk hutan mengambil beberapa petik anggrek untuk dibuat ramuan obat. Danau pertama mempunyai jumlah anggrek tertinggi dan puluhan jenis Nephentes. Di titik inilah surga anggrek untuk Sumatera Utara, bahkan diduga surga anggrek terbaik untuk Sumatera secara keseluruhan. Lain lubuk lain ikannya, adalah ungkapan nyata bagi keanekaragaman hayati. Geografi yang berbeda diikuti faktor fisik (ketinggian, kelembaman, suhu udara dan tanah, intensitas cahaya, pH dan kecepatan angin) yang berbeda pula. Kondisi inilah yang mengilhami tidak adanya ikan ditemukan di hutan ini, kecuali ikan gobi. Konon, ikan gobi ini bisa dijadikan obat. “Ikan gobi yang berwarna kemerahan adalah obat paling ampuh di sini,” terang salah satu pemandu. Selain itu, di danau kedua dan ketiga ditemukan dua jenis belibis dari suku Anatidae. Sedikitnya ada 15 ekor yang kami jumpai. Belibis ini kerap terbang ke ladang dan ditangkap penduduk. Di tengah hutan, belibis ini sangat terjamin keselamatannya. Di saat-saat istirahat di tepi danau, pemandu yang tahu persis akan legenda danau ini mengisahkan terbentuknya ketiga danau tersebut. 


Dahulu, hutan ini adalah satu perkampungan kecil. Ada keluarga rukun yang mempunyai 7 anak. Mereka bekerja sebagai petani dengan memelihara pesuruh. Alkisah, si ibu menyuruh pesuruhnya mengantarkan makanan untuk suami dan anaknya yang bekerja di ladang. Di tengah perjalanan, pesuruh mencium aroma makanan dan tergoda untuk menyantapnya. Lalu ia menggantinya dengan kotoran. Ketika makanan dibuka si ayah dan anak-anaknya, mereka terkejut, lalu melaporkan kejadian ini kepada si ibu. Si ibu murka. Ia meluapkan kemarahannya dengan memandikan kucing yang berakibat pada datangnya hujan terus menerus sehingga menenggelamkan perkampungan. Setelah mulai surut, tinggallah air sisa yang selanjutnya menjadi danau. Ke-7 anak tersebut selamat dan ketujuh anak inilah yang menjadi calon sipitu marga (tujuh marga) Pakpak Suak Keppas. 


Hingga sekarang, memandikan kucing bagi suku Pakpak adalah pantang. Sampai sekarang, marga Capah, Bintang, Ujung, Angkat, Kudadiri, Gajahmanik, dan Sinamo, masih mengakui tempat itu sebagai asal nenek moyang mereka. Ketujuh marga ini sering mengunjungi Sicike-cike dan mengikuti perkembangannya walaupun mereka sudah banyak terpencar ke mana-mana. Suku Pakpak yang hanya dijajah 10 tahun ini memang sangat mudah beradaptasi dan hampir manguasai semua Bahasa Batak. Capah, marga tertua dari sipitu marga, termasuk salah satu suku tertua di Tanah Batak. Sampai sekarang, menurut perkiraan Konstan Capah, jumlah marga Capah tidak bertambah, hanya dalam hitungan ratusan saja. Suku Pakpak merupakan suku yang paling mudah untuk berbaur dan ber-akulturasi dengan suku pendatang seperti Batak Toba dan Karo. Proses pembauran budaya dengan suku pendatang cenderung melunturkan budaya asli suku tersebut. Orang Pakpak sendiri banyak menggunakan bahasa selain Bahasa Pakpak. Pernah isu beredar, dan cukup mengkawatirkan para penghulu adat, bahwa Bahasa Pakpak bisa saja punah. 
*** 


Jejak kami sebanyak 75 orang di hutan selama lima hari, pasti memberi bekas. Sudah berapa banyak tanaman yang terpijak. Sebagian batang tumbuhan kecil telah kami potong di luar bibir hutan tempat tenda kami berdiri. Dan masing-masing anggota rombongan sudah berutang budi pada 10 pohon berumur 10 tahun untuk menetralisir buangan CO2 kami. Nah, untuk itu, kami bersama penduduk menanam 100 pohon mahoni di dalam hutan dan di kisaran pemukiman penduduk yang diharapkan dapat melunasi “utang-utang” itu. Satu malam terakhir, sengaja kami nantikan untuk presentasi hasil kegiatan. Di situ diundanglah pemandu dan kepala desa untuk mendengarkan dan mendiskusikan hasil penelitian. Pertanyaan demi pertanyaan muncul tentang keberadaan TWA Sicike-cike ini. Situasi memanas ketika ada yang menanyakan mengapa anggrek dan Nephentes terpusat di danau, dan mengapa ikan tak bisa hidup di sana walaupun sudah dibenihkan. Diskusi baru selesai setengah tiga pagi setelah kami sama-sama sepakat berhenti bertengkar karena cuaca terlalu dingin. Anda tidak mau bertanya juga? Akhmad Junaedi Siregar/Rahmad Lingga | mahasiswa Biologi FMIPA USU/mahasiswa pemerhati suku Pakpak)




Sumber:
http://www.insidesumatera.com/?open=view&newsid=251&go=Sicike-cike,%20dari%20Legenda%20Menuju%20Surga%20Anggrek

suku batak - LUAH KITEDDOH

(suku batak) [Informasi seputer batak Toba, Pakpak, Karo, Simalungun, Angkola, Mandailing dan Wisata Danau Toba]

LUAH KITEDDOH

Kiteddoh, dulu bagi orang Pakpak adalah tradisi mengunjungi keluarga, baik sesama “dengan sebeltek”, atau tutur “kula-kula”, maupun “berru”. Adakalanya ada pesan spesifik yang ingin disampaikan melalui kunjungan itu, ataupun sekedar silaturahmi melepas rasa rindu karena mungkin lama tidak ketemu. Bagi orang Pakpak biasanya tidak ada kiteddoh tanpa “luah” (oleh-oleh) yang disesuaikan dengan posisinya dalam kekerabatan. Dengan sebeltek dan kula-kula membawa “manuk” (ayam) sedangkan pihak berru membawa “oles” berupa sarung (“mandar”). Seringpula disertai dengan “sira” (garam) dan ikan asin. Sira dan ikan asin, menjadi oleh-oleh penting terutama oleh karena daerahnya yang terdiri dari pegunungan dan jauh dari laut. Kedua jenis barang itu merupakan sesuatu yang mahal, langka tetapi merupakan kebutuhan sehari-hari. Oleh karenanya sebagai luah tentu sangat disambut sebagai sesuatu yang berharga.

Kiteddoh, dulu merupakan tradisi oleh karena transportasi terbatas, infrastruktur jalan belum tersedia luas sehingga intensitas pertemuan rendah. Mobiltas masyarakat untuk saling mengunjungi juga rendah. Meski hubungan keluarga teramat dekat, tetapi oleh jarak yang jika ditempuh dengan berjalan kaki teramat jauh maka dapat dipastikan sangat jarang bertemu. Sehingga, kiteddoh melembaga menjadi tradisi, menjadi sakral sehingga jangan melakukannya jika tidak disertai “luah”. Akibatnya, hubungan komunikasi antar keluarga memiliki jarak, karena sangat ditentukan dengan keberadaan dan kondisi ekonomi. Sebab “alang ate” mengunjungi kerabat jika tidak punya “sibaingen”. Kondisi itu dipahami dalam logika dan pandangan rasio secara umum. Faktanya kini tradisinya tetap berlangsung, meski mengalami penurunan. Saling mengunjungi masih dilakukan dengan landasan adat, tidak asal berkunjung. Luah masih menjadi kebutuhan bahkan mungkin keharusan.

Kini budaya itu memang semakin menghilang. Keberhasilan pembangunan dengan semakin tersedianya infrastruktur jalan yang memadai, lancarnya arus transportasi, sehingga mobilitas penduduk meningkat drastic, bisa jadi menjadi faktor penting Intensitas pertemuan meningkat, tidak lagi hanya dirumah, bisa di jalan, di “onan”, di “lapo” atau ditempat lainnya bahkan mungkin di kantor kantor. Rasa rindu tidak lagi terpendam dan menumpuk, semakin longgar dan hubungan semakin terbuka. Secara institusional, kiteddoh kehilangan kesakralan dan menjadi biasa-biasa saja.

Luah, terutama dalam bentuk “oles” atau ”mandar” terikut kehilangan makna. Dalam pemilihan Kepala Desa, Pemilu Legislatif, Pemilihan Kepala Daerah, tradisi oles mengalami perubahan makna yang signifikan. Sosialisasi dan ajakan untuk memilih orang tertentu, diawali dengan pemberian oles disertai pula dengan “rambu”nya berupa uang. Ia menjadi alat pengikat, semacam komitmen diantara pemilih dan yang dipilih. Pola yang dilakukan bisa jadi masih merupakan refleksi kiteddoh, meski tidak lewat pendekatan kekerabatan, Dengan oles dan rambunya, kedekatan hubungan bisa dibangun kendatipun bersifat sementara dan hanya pada satu agenda. Agenda lain, tentu akan lain pula ceritanya. Dan hubungan yang dibangun bisa terhenti dan putus seketika, karena dianggap kontraknya berakhir.

Tulisan ini tidak bermaksud memberikan penilaian terhadap pola seperti yang diungkapkan diatas, melainkan hanya membagi cerita tentang fakta sosial yang terjadi. Terserah pembaca memberikan penilaian, pembenaran maupun penolakan terhadap keadaan semacam itu. Yang pasti, bahwa pergeseran makna pemberian “oles” dan tradisi kiteddoh dimungkinkan karena tradisi itu sendiri telah mulai hilang dan jarang dilakukan. Tersedianya sarana dan inrastruktur, terbukanya hubungan komunikasi elektronik dan telepon selular, merupakan salah satu factor penyebabnya. Selain karena ikan asin tidak lagi menu lauk idola, karena tingkat pendapatan yang meningkat, atau mungkin karena ketakutan terhadap formalin. Sudah banyak orang menikmati “gule”. Atau mungkin pula karena perikanan darat sudah mendekati sukses bagi masyarakat. Sira memang masih menjadi kebutuhan utama, namun untuk mendapatkannya kini semakin mudah dan harganya relative tidak bergeser jauh dari hari-kehari sehingga masih dapat terjangkau masyarakat. Yang perlu dikhawatirkan adalah jangan sampai bentuk kerja adat kita bertambah, karena kerja politik kini memiliki kecenderungan menjadi kerja adat. Atau pertanyaannya apakah akan terbangun kesepakatan bahwa kerja politik menjadi agenda tambahan dalam adat kita. Artinya sesuai perkembangan akan tambah jenis-jenis “kerja” dalam struktur peradatan kita.

Sumber:

suku batak - Sekilas Busana Pakpak

(suku batak) [Informasi seputer batak Toba, Pakpak, Karo, Simalungun, Angkola, Mandailing dan Wisata Danau Toba]
Sekilas Busana Pakpak
Oleh Muda Banurea

Busana budaya Pakpak yang lazim digunakan kini oleh masyarakat Pakpak adalah busana kebanggaan yang menggambarkan keagungan, tetapi penuh kesantunan. Ada demikian banyak perangkat yang melekat dalam busana Pakpak secara Paripurna. Tidak dipungkiri bahwa tentu, bentuk jenis bahan dan coraknya mengalami beberapa kali perubahan sesuai dengan perkembangan zaman. Perkembangan busana secara nasional tentu pula memberikan pengaruh kuat. Terutama perkembangan teknologi pertekstilan.

Selain itu, pemakaian busana dimaksud lebih dikonotasikan dalam penggunaan pada pesta-pesta (upacara adat ) atau kerja-kerja baik kerja njahat maupun kerja mbaik. Jadi bukan pada penggunaan keseharian. Busana ini kemudain terdokumentasikan secara kolektif oleh masyarakat Pakpak sebagai penggunanya. Kini terdapat berbagai variasi baik pada model, bentuk api-api (manik-maniknya) yang tampaknya dimaksudkan untuk memperindah sebagai modifikasi dari bentuk semula. Bahkan terdapat pula upaya meletakkan beberapa komponen pendukung busana semisal borgot dan leppa-leppa yang personifikasikan lewat manik-manik yang terukir dan melekat pada baju. Penempatan ini simbolik, menyerupai benda asli yang semestinya terdapat pada posisi dimana modifikasi diletakkan. Dapat dipahami bahwa ini juga dimaksudkan karena tidak banyak lagi orang Pakpak yang memiliki kedua jenis kalung Pakpak itu. Disisi lain secara ekonomis dengan bahan emas atau perak berlapis emas dinilai terlalu mahal. Dengan demikian belum ditemukan kesepakatan tertulis dan bersifat final terhadap berbagai modifikasi ini. Tetapi inisiatif dan inovasi semacam itu harus dipahami sebagai bentuk kreatifitas yang patut dihargai. Sebab jika harus disesuaikan dengan bentuk atau model asal, sulit didapatkan kesamaan pandangan. Hal ini dikarenakan variasi pengalaman dari masing-masing warga masyarakat, termasuk disebabkan oleh perbedaan kelas ekonomi yang tentu mempengaruhi pula kelengkapan busana yang biasa digunakan. Pada kalangan muda perubahan oleh karena modifikasi itu tentu lebih dapat diterima dibanding generasi yang lebih tua. Pada generasi ini sinisme pada upaya modifikasi masih saja terlihat.

Jika dahulu lebih banyak digunakan pada upacara-upacara adat bahkan pada upacara ritual kini upacara lain baik bersifat nasional maupun keagamaan juga semakin sering digunakan. Selain untuk kepentingan penyeragaman,  terlihat pula refleksi rasa bangga untuk menampilkan tradisi dalam kegiatan-kegiatan publik. Perwujudan kebanggaan pada budaya sendiri. Tidak mengerankan pada acara-acara sekolah, paduan suara gereja, penyambutan tamu pemerintah daerah  dan acara hiburan lainnya busana Pakpak mulai menjadi primadona. Kepercayaan diri, keinginan kuat untuk melestarikan budaya, dan rasa bangga terhadap budaya sendiri mulai mengemuka pada interkasi sosial masyarakat Pakpak. Hal ini pulalah yang barangkali mendorong munculnya berbagai variasi modifikasi.

Warna dominan pada busana Pakpak sebagaimana umumnya warna busana melayu adalah hitam, ditambah dengan variasi warna merah dan putih. Ketiga warna ini sering disebut “bennang sitellu rupa” dan diyakini sebagai warna dasar bagi masyarakat Pakpak. Meskipun dalam busana, warna merah putihnya tidak menonjol. Warna itu tidak saja terrefleksi pada baju tetapi juga pada oles dan peralatan lainnya.

BUSANA DAN PERLENGKAPANNYA

BUSANA PRIA
BAJU MERAPI-API
Baju model melayu leher bulat berwarna hitam yang dibubuhi atau dihiasi dengan manik-manik (Api-api). Jenis kain yang umum digunakan sejenis beludru namun belakangan lebih disesuaikan  dengan model dan jenis kain terbaru. Ada beberapa variasi lain yang melekat dan pada leher dan ujung lengan terdapat warna merah putih.

BULANG-BULANG
Bulang-bulang Adalah penutup kepala, sebuah lambang kehormatan dan kewibawaan, dibetuk sedemikian rupa dari bahan oles  perbunga mbacang.

CELANA PANJANG
Celana panjang berwarna hitam, sama dengan kemeja pada ujungnya juga terdapat variasi warna merah dan putih. Ukurannya umumnya tidak sampai menyentuh ujung kaki melainkan berada pada posisi tanggung, seperti celana yang biasa digunakan oleh atil silat atau karate.

SARUNG (OLES SIDOSDOS)
Celana panjang hitam kemudia ditutupi oleh oles sidosdos secara melingkar dengan ujung yang terbuka didepan.

BORGOT
Kalung yang terbuat dari emas, baik emas murni atau perak dilapisi emas. Sangat tergantung pada kemampuan ekonomi pemilik atau penggunanya. Rangkaian emas yang diikat dengan benang Sitellu rupa dan diujungnya terdapat mata kalung bergambar kepala kerbau. Rangkaiannya terdiri dari 32 keping

SABE-SABE
Oles Polang-polang atau pada pemakai yang punya keberadaan lebih tinggi oles Gobar, diletakkan pada bahu sebelah kanan terurai dari belakang hingga kedepan. Oles dilipat dan disesuaikan dengan corak oles.

REMPU RIAR
Sejenis pisau yang dibungkus dengan sarung yang diliti atau dilapisi emas atau perak (riar=uang jaman dahulu). Diselipkan di pinggang melalui rante abak.

RANTE ABAK
Ikat pinggang dan dahulu terbuat dari perak, tetapi lazim pula menggunakan oles diikat untuk memperkuat posisi sarung oles sidosdos dan memperindah penampilan, serta menggambarkan pula kewibawaan dan keberadaan penggunanya.

UCANG
Anyaman daun pandan (legging) berbentuk tas dihiasi dengan manik-manik dengan tali terbuat dari kain berwarna merah. Bisa dilatakkan pada bahu sebelah kiri namun sesekali juga dipegang oleh pemakai.

TONGKET
Tongkat yang sering juga dinamai tongket balekat, terbuat dari kayu berkwalitas tinggi, pada kepala dan batangnya terukir dengan gerga pakpak. Beberapa bukunya diikat dengan bahan emas, perak, atau loyang.

WANITA
BAJU MERAPI-API
Baju modelleher segitiga berwarna hitam yang dibubuhi atau dihiasi dengan manik-manik (Api-api). Jenis kain yang umum digunakan sejenis beludru namun belakangan lebih disesuaikan  dengan model dan jenis kain terbaru. Berebda dengan pria variasi warna merah putih tidak ditemukan, namun disekitar lengan atas terdapat manik-manik dengan gambar terlihat seperti kepala kerbau. Demikian juga pada ujung lengan. Kancing yang digunakan pada kemeja ini berbentuk bulat melingkat berlobang dengan  ukuran jari-jari 3 Cm

SARUNG (OLES PERDABAITAK)
Hampir sama dengan Pria, oles perdabaitak dililit pada pinnggang secara melingkar.

SAONG
Tutup kepala yang dibentuk sedemikian rupa dengan oles silima takal. Pada wanita muda dibentuk lonjong dengan sudut runcing kebelakang, dengan rambu yang terurai di dahi. Namun pada usia dewasa bentuknya lebih sederhana dengan rambu terurai kebelakang.

LEPPA-LEPPA
Kalung wanita dengan bentuk dan bahan yang sama dengan pria. Bedanya dengan pria barangkali  karena tidak ata mata kalung sebagaimana yang terdapat pada borgot. Jumlah rangkainnya juga berbeda dan cenderung lebih pendek.

RANTE ABAK
Ikat pinggang dan dahulu terbuat dari perak, tetapi lazim pula menggunakan oles diikat untuk memperkuat posisi sarung oles sidosdos dan memperindah penampilan, serta menggambarkan pula kewibawaan dan keberadaan penggunanya.

RABI MUNDUK
Sejenis Pisau yang terbuat dari besi dengan ujung pisau melingkar kecil keatas, gagangnya (sukul) terbuat dari jenis kayu berkwalitas tinggi, berukir dan ujungnya dililiti emas atau perak.

PAPUREN
Sejenis sumpit dari rajutan atau anyaman daun pandan dilapisi dengan api-api (manik-manik). Sama dengan pria sumpit ini juga bertali berwarna merah.

CULAPAH
Kotak kecil tempat tembakau dengan bahan yang terbuat bdari emas, perak atau loyang berukir sesuai gerga atau ornamen Pakpak yang ada. Ukurannya lebih kurang 6 x 8 cm.

KANCING EMMAS
Kancing bulat (berbentuk lingkaran) namun dengan lobang ditengah. Jari-jari lebih kurang 3-4 cm. Terbuat dari emas, perak atau logam yang dilapisi emas. Fungsinya sebagai hiasan, dan menutupi kancing sebenarnya. Artinya umumnya tidak berfungi sebagai kancing dalam artian yang sebenarnya, hanya merupakan assesories semata.


Sumber:
http://pakpaksim.wordpress.com/2010/08/24/busana/

suku batak - ADAT PERKAWINAN PAKPAK DAIRI

(suku batak) [Informasi seputer batak Toba, Pakpak, Karo, Simalungun, Angkola, Mandailing dan Wisata Danau Toba]
ADAT PERKAWINAN PAKPAK DAIRI
Oleh Prof. DR. W.E Tinambunan, Drs., Msi
Disampaikan Pada : Musyawarah Besar Keluarga Pakpak Dairi
Provinsi Riau Pekanbaru, 5 Agustus 2006

MENGINDANGI
· Memulai perkenalan disebut I terruh nai asa mi bages artinya maulai dari bawah baru naik tangga ke rumah atau orang tua.
· Langsung kedua belah Pihak membicarakannya

MERSIBREN TANDA KATA
1.Pepatah : Pedoro ndapdap dan pedoro tada tada maksudnya pedoro ndapdap hanya diluar saja, sedangkan pedoro tada-tada sampai didalam.
2.Berlaku hukum adat : Tinundangna milikna; dan Siganda sigandua urat ni peddem-peddem, sisada gabe dua sitellu gabe ennem
3.Berlaku pepatah : Kong pe urat ni buluh, kongen deng ngo urat ni teladan, kong pe kata ni hukum, kongen deng ngo kata ni padan.

MENGELCING UTANG
1.Tangis berru sijahe
2.Meningkah Uruk : laki laki mengantar nakan sada mbari  disertai oles kepada Pihak Puhun ( pamitan )
3.Papiren mi bages dan papiren mi bale : disebut papuren dudur ( atau wanita dan pria sudah sama sama senang )
4.Saat mengelcing utang ditetapkan mengkias Tepak ( waktu perkawinan )
5.Uang pengkelcing dan 2:1 artinya sepertiga pada yang datang dan 2/3 pada orang tua kampung
6.Seekor ayam hidup dan beras lebih kurang satu selup ( dua liter ), satu ucang dan lengkap isinya ( silima bage ) pada telangke mangemolih

PERKAWINWAN
·Mangan Peradupen ( Jamuan makan oleh Pihak siperanak kepada sebeltek, berru dan pengetua )
·Sebelum mersora renggur ( sebelum berbunyi gemuruh )
·Pengantin lakil laki makan diatas tikar baru ( Tempat ngean, nasi dialasi dengan baka silampis, merorohken ikan cayur, disuguhkan oleh pengantin wanita dan orang tuanya )

PELAKSANAAN ADAT
a) Utang unjuken berbentuk uang maupun  benda benda terdiri dari, mas, kerbau, kemenyan dan sebagainya.
b) Oles berdasarkan kesepakatan
c) Besar takal unjuken dapat menentukan persentase pada :
§ Upah Puhun
§ Upah Turang
§ Upah Pendedah
Contoh :
Takal unjuken Rp. 100.000 dan satu ekor lembu, maka upah puhun, upah turang, dan upah pendedah masing masing Rp. 50.000 dan ½ ekor lembu.

YANG BERHAK MENERIMA UNJUKEN
·Takal unjuken  ( kepala mas kawin ) orang tua laki laki dari wanita ditambah :
- Oles inang ni berru
- Oles cabal-cibal
- Oles Cilkkai
- Oles peraleng
- Oles pematum ( merpunjut )
·Uapah turang yaitu saudara perempuan atau  adik bapak wanita
·Todoan untuk famili semarga dan yang banyak jasa-jasanya  sekarang  berubah kepada ibu kandung si wanita.
·Togoh-togoh, Penempati, Sikarkar parmonangan,  yaitu untuk denggan sibeltek, famili semarga.
· Upah puhun;  untuk saudara dari ibu pengantin wanita
· Upah pendedah;  untuk kakak pengantin wanita
· Upah Empung ; untuk nenek pengantin wanita
· Rame-ramessen ;  orang banyak yang tidak termasuk peroles/perjambar dalam acara perkawinan
· Dsb.

MERKAING
Merkaing adalah pelaksanaan penyerahan oles yang diawali dengan minum Ndirabaren
Karena uang Unjuken pada laki laki, maka oles untuk ibu-ibu yang terdiri dari :
1. Oles Inang ni Berru untuk ibu dari pengantin wanita
2. Oles inang Peduaken, peteluken dst, Todoan, Togoh-togoh penempati, sikarkar parmonangan adalah dengan sibeltek Bapak pengantin Wanita
3. Oles turang ni berru
4. Oles puhun ni berru
5. Oles Upah mendedah
6. Oles Upah empung
7. Oles Persinabul
8. Oles Penelangken
9. Oles pergemgem
10.Oles persintabien ( bagi yang melangkahi kakaknya )
Uang unjuken ( uang jujuren ) harus tidak boleh lunas dibayar sampai mendapat anak di kemudian hari :
1.Tandean berru kela ;  bila anak laki laki yang pertama lahir boleh dilunasi
2.Mersae Utang ; bil anak pertama wanita, maka harus lunas pada anak kedua.
Pada saat penyerahan oles dan tata tertib menerima unjuken, saat itu pula tikar adat, belagen dan tumbuk tumbuk berjalan diterima Pihak pengantin laki laki dari keluarga pengantin wanita.
Jika perceraian terjadi dari Pihak wanita, maka mas kawin dibayar perberru lipat ganda. Jika disebabkan laki-laki maka mas kawin disebut “Tinunjangna Milikna” artinya anak yang diperoleh sebelum cerai, menjadi hak milik suami.

MENGAPA BERRU MEMBERI OLES KEPADA KULA-KULA ?
1.Sebagai ungkapan rasa terima kasih kepada orang tua, pada masa kecil memenuhi kebutuhan anak sampai dewasa.
2.Setelah anak dewasa orang tua sudah tua, maka wajib hukumnya membalasnya melalui oles kepada orang tuanya termasuk unsur kula-kula dari pihak wanita.
3.Berdasarkan sejarah Raja dan Sihaji Lae Sicike-cike

BAGAIMANA WARNA OLES PAKPAK DAIRI
·Oles umumnya terdiri dari benang berwarna :
- Putih
- Merah
- Hitam
Mempunyai lambang informasi sebagai suatu pengikat antara lain : mengikat janji, persahabatan, hubungan kekeluargaan dan sebagainya.
Maknanya : mempersatukan yang terikat dalam Dalikan Si Tellu, Sulang Silima dan Sangkep Ngelluh

TENNAH PERBANTO
Roroh bulung rintua
Ipoles lempit dua
Mella roh simatua
Oles Jaloenna
Itasak buah cingkerru
Campur sira mi tabohna
Mula roh berru
Adat manuk jaloenna
Sakit urat tangan
Tambar sira ni ogosken
Rubat sempanganen
Kula kula niolessen


njuah-juah

dua mo lubang nisige
sada mo gerrit-gerriten
tah soh pe kita miladang dike
ulang mamo benrnit-berniten


Sumber:
http://medukblogspotcom.blogspot.com/2011/07/adat-perkawinan-pakpak-dairi.html

suku batak - Dekranasda Pakpak Bharat Gelar Pelatihan Tenun Lanjutan

(suku batak) [Informasi seputer batak Toba, Pakpak, Karo, Simalungun, Angkola, Mandailing dan Wisata Danau Toba]

MedanBisnis – Pakpak Bharat. Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Pakpak Bharat melaksanakan pelatihan tenun lanjutan. Kegiatan tersebut dimaksudkan sebagai upaya peningkatan kemampuan dan kapasitas para penenun, khususnya menyangkut motif, kualitas dan kuantitas bahan tenunan.
Hal tersebut disampaikan Ketua Dekranasda Pakpak Bharat Made Tirta Kusuma Dewi, Senin (7/5). Pelatihan tersebut, lanjutnya, akan dilaksanakan 14 hari yang ditempatkan di Workshop Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Pemkab Pakpak Bharat, tepatnya di Desa Siempat Rube II Pakpak Bharat.

Diungkapkannya, dengan melibatkan penenun remaja putus sekolah, kaum ibu yang tidak memiliki pekerjaan tetap, ke depan Dekranasda dapat membuka ruang pendapatan bagi keluarga dan pengurangan pengangguran. Selain itu, target memunculkan Kabupaten Pakpak Bharat dengan ulos bermotif seni budaya Pakpak yang dikenal dengan Oles Pakpak bisa terwujud. "Apalagi kami sudah buktikan pada saat Pameran HUT Aceh Singkil beberapa waktu yang lalu, Oles Pakpak habis terjual bahkan kurang," terang Dewi.

Ditambahkannya, Dalam waktu dekat hasil tenun binaan Dekranasda Pakpak Bharat juga akan dipasarkan melalui outlet-outlet yang akan dibuka di setiap Kecamatan. "Ini merupakan tahap awal untuk selanjutnya menguoayakan agar Oles binaan Dekranasda mampu menembus pasar nasional bahkan internasional," tambahnya.

Pernyataan tersebut diperkuat oleh Merdi Sihombing, desainer nasional yang pada kesempatan tersebut hadir sebagai pelatih. Menurutnya, warna merah yang menjadi warna Oles Pakpak, produksi Dekranasda akan mampu menembus pasar nasional dan bahkan Internasional, mengingat Gambir merupakan penghasil zat pewarna merah alami yang banyak diminati dunia usaha pertenunan.

Untuk itu Merdi mengharapkan Dekranasda Pakpak Bharat memperkuat peranserta para tokoh masyarakat setempat, tokoh budaya, LSM dan pers agar kelak semua lini dapat satu visi dalam mengangkat potensi Oles Pakpak Bharat ke pasar dunia. (ck 08 )

Sumber:


suku batak - Oles Pakpak Ditargetkan Mampu Bersaing di Pasar Nasiona

(suku batak) [Informasi seputer batak Toba, Pakpak, Karo, Simalungun, Angkola, Mandailing dan Wisata Danau Toba]

Oles Pakpak Ditargetkan Mampu Bersaing di Pasar Nasional

OLES: Bupati Pakpak Bharat Remigo Yolando Berutu melihat pengrajin oles.
SUMUT POS / TAMBA TINENDUNG
OLES: Bupati Pakpak Bharat Remigo Yolando Berutu melihat pengrajin oles.
PAKPAK BHARAT- Oles (ulos) yang dihasilkan pengrajin tenun asal Kabupaten Pakpak Bharat ditargetkan dapat bersaing di pasar nasional. Karena Oles yang dimaksud bernuansa khas Pakpak merupakan produk tenun dengan motif yang baru dan hasil kreatif dari pelatihan tenun lanjutan yang diprakarsai Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Pakpak Bharat.
Demikian disampaikan Ketua Dekranasda Kabupaten Pakpak Bharat Ny Made Tita Kusuma Dewi, Rabu (23/5) saat penutupan pelatihan tenun lanjutan, yang digelar selama 14 hari di Gedung Workshop Desa Traju, Kecamatan Siempat Rube, Kabupaten Pakpak Bharat bekerjasama dengan Desainer Nasional Merdi Sihombing.
Pada pelatihan tenun lanjutan tersebut, para pengrajin dikelompokkan pada tiga bagian yakni Menghani, Gedogan dan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). Dari pelatihan yang dimaksud sebanyak enam oles selesai ditenun dengan kreatif warna baru dan nantinya akan dipasarkan untuk melestarikan kebudayaan turun-menurun.
Sementara itu Bupati Pakpak Bharat Remigo Yolando berpesan kepada para pengrajin tenun yang telah dilatih diharapkan dapat berhasil kedepannya untuk meningkatkan dan memajukan budaya tenun oles di daerah ini. “Oles merupakan salah satu kebudayaan Pakpak yang telah turun-menurun yang harus dilestarikan. Dan pelatihan ini, nantinya dapat meningkatkan pendapatan bagi para pengrajin tenun,”tandas Remigo.(mag-14)

Sumber:

suku batak - Ulos Batak Toba

(suku batak) [Informasi seputer batak Toba, Pakpak, Karo, Simalungun, Angkola, Mandailing dan Wisata Danau Toba]
Ulos Batak Toba

“Ulos Batak”, dikenal sebagai Jati diri orang Batak sesuai Budaya dan Adatnya.

Orang Batak sudah dikenal sebagai “Bangso Batak”, kenapa..?
Dahulu sudah memiliki Kerajaan sendiri, Mardebata Mulajadi Nabolon (“pencipta yang maha besar”), memiliki Surat Aksara Batak, dan sudah pernah memiliki Uang tukar yakni Ringgit Batak (“Ringgit Sitio Suara”), uning-uningan namarragam (“musik”), memiliki Budaya Adat, dan mempunyai Hukum.

Namun sekarang ini sudah menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia, bahkan orang Batak Toba sudah banyak yang tidak mengetahui :
1. Bahasa daerahnya sendiri
2. Dasar dan tahapan tor-tor Batak, sudah banyak yang tidak mengetahuinya, bahkan secara filosofi tidak mempunyai standard
3. Ulos Batak tidak dikenal jenis-jenis dan Fungsinya secara filosofi.
*’ Hal ini terjadi karena seorang penasehat atau pemerhati mengaku pintar, namun menimbulkan kesalapahaman tentang budaya batak yang benar

2 Musa 19 ayat 10:
Dung i didok Jahowa ma tusi Musa laho maho tumopot bangso i jala urasi nasida sadarion dohot marsogot asa ditatap nasida Ulos na.

Jenis dan Fungsi Ulos Batak:

Ulos (lembar kain tenunan khas tradisional Batak) pada hakikatnya adalah hasil peradaban masyarakat Batak pada kurun waktu tertentu. Menurut catatan beberapa ahli ulos (tekstil) sudah dikenal masyarakat Batak pada abad ke-14 sejalan dengan masuknya alat tenun tangan dari India. Hal itu dapat diartikan sebelum masuknya alat tenun ke Tanah Batak masyarakat Batak belum mengenal ulos (tekstil).
Komunitas Tenun Ulos Batak merupakan kelompok masyarakat yang mengerjakan tenun tradisional ulos batak dan salah satunya yang terletak di kota Balige.

1. Beberapa jenis ulos batak yang ada di komunitas tenun ulos adalah: Ulos Jugia : Ulos ini disebut juga “ulos naso ra pipot atau pinusaan”






2. Ulos Ragi Hidup : Banyak orang beranggapan ulos ini adalah yang paling tinggi nilanya, mengingat ulos ini memasyarakat pemakainya dalam upacara adat Batak.


3. Ragi Hotang : Ulos ini biasanya diberikan kepada sepasang pengantin yang disebut sebagai ulos Marjabu. Dengan pemberian ulos ini dimaksudkan agar ikatan batin seperti rotan (hotang).




4. Ulos Sadum : Ulos ini penuh dengan warna warni yang ceria hingga sangat cocok dipakai untuk suasana suka cita.



7. Ulos Suri-suri ganjang : Biasanya disebut saja ulos Suri-suri, berhubung coraknya berbentuk sisir memanjang.



8. Ulos Mangiring : Ulos ini mempunyai corak yang saling iring-beriring. Ini melambangkan kesuburan dan kesepakatan.
 
 


9. Bintang Maratur : Ulos ini menggambarkan jejeran bintang yang teratur. Jejeran bintang yang teratur didalam ulos ini menunjukkan orang yang patuh, rukun seia dan sekata dalam ikatan kekeluargaan.
 

 

10. Sitoluntuho-bolean : Ulos ini biasanya hanya dipakai sebagai ikat kepala atau selendang wanita. Tidak mempunyai makna adat kecuali bila diberikan kepada seorang anak yang baru lahir sebagai ulos parompa.
alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5642778902247136530" />
 

11. Ulos Jungkit : Ulos ini jenis ulos nanidondang atau ulos paruda (permata). Purada atau permata merupakan penghias dari ulos tersebut
 

Sortali
 
 

12. Ulos Lobu-lobu : Jenis ulos ini biasanya dipesan langsung oleh orang yang memerlukannya, karena ulos ini mempunyai keperluan yang sangat khusus, terutama orang yang sering dirundung kemalangan (kematian anak).



Bahan dasar ulos
Bahan dasar ulos pada umumnya adalah sama yaitu sejenis benang yang dipintal dari kapas. Bila kita memperhatikan ulos Batak secara teliti, akan kelihatan bahwa cara pembuatannya yang tergolong primitif bernilai seni yang sangat tinggi. Yang membedakan adalah poses pembuatannya yang mempunyai tingkatan tertentu. Ini merupakan ukuran penentuan nilai sebuah ulos. Misalnya bagi anak dara, yang sedang Helajar bertenun hanya diperkenankan membuat ulos “parompa” Ini disebut “mallage” (ulos yang dipakai untuk menggendong anak). Tingkatan ini diukur dari jumlah lidi yang dipakai untuk memberi warna motif yang diinginkan. Tingkatan yang tinggi ialah bila dia telah mampu mempergunakan tujuh buah lidi atau disebut “marsipitu lili”. Yang bersangkutan telah dianggap cukup mampu bertenun segala jenis ulos Batak.
1. Proses Pembuatan ulos batak yang sering dilakukan di komunitas ulos batak yaitu: Pembuatan benang : Proses pemintalan kapas sudah dikenal masyarakat batak dulu yang disebut “mamipis” dengan alat yang dinamai “sorha”.
2. Pewarnaan : Bahan pewarna ulos terbuat dari bahan daundaunan berbagai jenis yang dipermentasi sehingga menjadi warna yang dikehendaki.
3. Gatip : Rangkaian grafis yang ditemukan dalam ulos diciptakan pada saat benang diuntai dengan ukuran standard.
4. Unggas : Unggas adalah proses pencerahan benang.
5. Ani : Benang yang sudah selesai diunggas selanjutnya memasuki proses penguntaian yang disebut “mangani”.
6. Tonun : Tonun (tenun) adalah proses pembentukan benang yang sudah “diani” menjadi sehelai ulos.
7. Sirat : Sirat adalah hiasan pengikat rambu ulos. “Manirat” merupakan proses terakhir untuk menjadikan ulos yang utuh.

Ulos Batak Toba
Ulos adalah kain tenun khas Batak berbentuk selendang. Benda sakral ini merupakan simbol restu, kasih sayang dan persatuan, sesuai dengan pepatah Batak yang berbunyi: “Ijuk pangihot ni hodong, Ulos pangihot ni holong", yang artinya kira-kira "Jika ijuk adalah pengikat pelepah pada batangnya, maka ulos adalah pengikat kasih sayang antara sesama.".

Secara harfiah, ulos berarti selimut yang menghangatkan tubuh dan melindunginya dari terpaan udara dingin. Menurut kepercayaan leluhur suku Batak ada tiga sumber yang memberi panas kepada manusia, yaitu matahari, api dan ulos. Dari ketiga sumber kehangatan tersebut ulos dianggap paling nyaman dan akrab dengan kehidupan sehari-hari.

Pada awalnya nenek moyang mereka mengandalkan sinar matahari dan api sebagai tameng melawan rasa dingin. Masalah kecil timbul ketika mereka menyadari bahwa matahari tidak bisa diperintah sesuai dengan keinginan manusia. Pada siang hari awan dan mendung sering kali bersikap tidak bersahabat. Sedang pada malam hari rasa dingin semakin menjadi-jadi dan api sebagai pilihan kedua ternyata tidak begitu praktis digunakan waktu tidur karena resikonya tinggi. Al hajatu ummul ikhtira'at, karena dipaksa oleh kebutuhan yang mendesak akhirnya nenek moyang mereka berpikir keras mencari alternatif lain yang lebih praktis. Maka lahirlah ulos sebagai produk budaya asli suku Batak.

Tentunya ulos tidak langsung menjadi sakral di masa-masa awal kemunculannya. Sesuai dengan hukum alam ulos juga telah melalui proses yang cukup panjang yang memakan waktu cukup lama, sebelum akhirnya menjadi salah satu simbol adat suku Batak seperti sekarang. Berbeda dengan ulos yang disakralkan yang kita kenal, dulu ulos malah dijadikan selimut atau alas tidur oleh nenek moyang suku Batak. Tetapi ulos yang mereka gunakan kualitasnya jauh lebih tinggi, lebih tebal, lebih lembut dan dengan motif yang sangat artistik.

Kini ulos memiliki fungsi simbolik untuk berbagai hal dalam segala aspek kehidupan orang Batak. Ulos menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan adat suku Batak.
Mangulosi, adalah salah satu hal yang teramat penting dalam adat Batak. Mangulosi secara harfiah berarti memberikan ulos. Mangulosi bukan sekadar pemberian hadiah biasa, karena ritual ini mengandung arti yang cukup dalam. Mangulosi melambangkan pemberian restu, curahan kasih sayang, harapan dan kebaikan-kebaikan lainnya.

Dalam ritual mangulosi ada beberapa aturan yang harus dipatuhi, antara lain bahwa seseorang hanya boleh mangulosi mereka yang menurut tutur atau silsilah keturunan berada di bawah, misalnya orang tua boleh mengulosi anaknya, tetapi anak tidak boleh mangulosi orang tuanya. Disamping itu, jenis ulos yang diberikan harus sesuai dengan ketentuan adat. Karena setiap ulos memiliki makna tersendiri, kapan digunakan, disampaikan kepada siapa, dan dalam upacara adat yang bagaimana, sehingga fungsinya tidak bisa saling ditukar.

Dalam perkembangannya, ulos juga diberikan kepada orang non-Batak. Pemberian ini bisa diartikan sebagai penghormatan dan kasih sayang kepada penerima ulos.
Beberapa jenis ulos yang dikenal dalam adat Batak sebagai berikut:

1. Ulos Ragidup
Ragi berarti corak, dan Ragidup berarti lambang kehidupan. Dinamakan demikian karena warna, lukisan serta coraknya memberi kesan seolah-olah ulos ini benar-benar hidup. Ulos jenis ini adalah yang tertinggi kelasnya dan sangat sulit pembuatannya. Ulos ini terdiri atas tiga bagian; dua sisi yang ditenun sekaligus, dan satu bagian tengah yang ditenun tersendiri dengan sangat rumit. Ulos Rangidup bisa ditemukan di setiap rumah tangga suku batak di daerah-daerah yang masih kental adat bataknya. Karena dalam upacara adat perkawinan, ulos ini diberikan oleh orang tua pengantin perempuan kepada ibu pengantin lelaki.
 
 

2. Ulos Ragihotang
Hotang berarti rotan, ulos jenis ini juga termasuk berkelas tinggi, namun cara pembuatannya tidak serumit ulos Ragidup. Dalam upacara kematian, ulos ini dipakai untuk mengafani jenazah atau untuk membungkus tulang belulang dalam upacara penguburan kedua kalinya.
 


3. Ulos Sibolang
Disebut Sibolang sebab diberikan kepada orang yang berjasa dalam mabolang-bolangi (menghormati) orang tua pengantin perempuan untuk mangulosi ayah pengantin laki-laki pada upacara pernikahan adat batak. Dalam upacara ini biasanya orang tua pengantin perempuan memberikan Ulos Hela yang berarti ulos menantu kepada pengantin laki-laki.
 
 

 
 
 
 

Mengulosi menantu lelaki bermakna nasehat agar ia selalu berhati-hati dengan teman-teman satu marga, dan paham siapa yang harus dihormati; memberi hormat kepada semua kerabat pihak istri dan bersikap lemah lembut terhadap keluarganya. Selain itu, ulos ini juga diberikan kepada wanita yang ditinggal mati suaminya sebagai tanda penghormatan atas jasanya selama menjadi istri almarhum. Pemberian ulos tersebut biasanya dilakukan pada waktu upacara berkabung, dan dengan demikian juga dijadikan tanda bagi wanita tersebut bahwa ia telah menjadi seorang janda. Ulos lain yang digunakan dalam upacara adat adalah Ulos Maratur dengan motif garis-garis yang menggambarkan burung atau banyak bintang tersusun teratur. Motif ini melambangkan harapan agar setelah anak pertama lahir akan menyusul kelahiran anak-anak lain sebanyak burung atau bintang yang terlukis dalam ulos tersebut.

Dari besar kecil biaya pembuatannya, ulos dapat dibedakan menjadi dua bagian:
Pertama, Ulos Na Met-met; ukuran panjang dan lebarnya jauh lebih kecil daripada ulos jenis kedua. Tidak digunakan dalam upacara adat, hanya untuk dipakai sehari-hari.

Kedua, Ulos Na Balga; adalah ulos kelas atas. Jenis ulos ini pada umumnya digunakan dalam upacara adat sebagai pakaian resmi atau sebagai ulos yang diserahkan atau diterima.

Biasanya ulos dipakai dengan cara dihadanghon; dikenakan di bahu seperti selendang kebaya, atau diabithon; dikenakan seperti kain sarung, atau juga dengan cara dililithon; dililitkan dikepala atau di pinggang.


Sumber:
http://ulosbatakornamen.blogspot.com/2011_08_01_archive.html