Sabtu, 21 April 2012

suku batak - Pemilihan Putra Putri Duta Wisata Danau Toba 2012

(suku batak) [Informasi seputer batak Toba, Pakpak, Karo, Simalungun, Angkola, Mandailing dan Wisata Danau Toba] Pemilihan Putra Putri Duta Wisata Danau Toba 2012
Januari 19, 2012

Danau Toba & Pulau Samosir
Anda mungkin tidak asing dengan obyek wisata terkenal di Sumatra Utara yaitu Danau Toba. Danau yang eksotik di puncak gunung dengan Pulau Samosir di tengahnya ini menjadi salah satu obyek wisata andalan Sumatra Utara tepatnya di Kabupaten Toba Samosir(Tobasa). Bukan hanya bagi wisatawan domestik tapi juga wisatawan mancanegara.

Demi melestarikan dan mempromosikan potensi wisata Danau Toba diadakanlah Pemilihan Putra Putri Duta Wisata Danau Toba 2012. Pemilihan Putra Putri Duta Wisata Danau Toba 2012 yang akan diikuti oleh 12 pasang finalis terpilih ini diadakan oleh TB SILALAHI CENTER sebagai sebuah yayasan yang memiliki visi dan misi melestarikan Budaya khususnya Budaya Batak.

Sebelumnya pada tanggal 15 Januari 2012 telah diadakan audisi, audisi yang diikuti sekitar 60 peserta ini akhirnya dikecilkan menjadi 12 pasang finalis putra dan putri. Grand Final Pemilihan Putra Putri Duta Wisata Danau Toba 2012 akan dilaksanakan pada 22 Januari 2012 di Open Stage Museum Batak Balige.

12 Finalis Putri Duta Wisata Danau Toba 2012
Pemilihan Putra Putri Duta Wisata Danau Toba 2012 juga digelar dalam rangka Perayaan HUT ke-1 Museum Batak TB Silalahi Center yang merupakan objek wisata andalan di Sumatera Utara dan berlokasi di pinggiran Danau Toba dan dikelilingi pegunungan Bukit Barisan.



http://theaserworld.wordpress.com/2012/01/19/pemilihan-putra-putri-duta-wisata-danau-toba-2012/

suku batak - Panorama Tanjung Unta, Danau Toba

(suku batak) [Informasi seputer batak Toba, Pakpak, Karo, Simalungun, Angkola, Mandailing dan Wisata Danau Toba]
Panorama Tanjung Unta, Danau Toba
OPINI | 30 July 2009

Danau Toba selalu ingin membuat saya datang dan datang lagi. Keindahan yang mempesona sungguh memanjakan mata. Bulan Juli 2009, saya berkesempatan mengunjungi tanah leluhur saya ini bersama rekan-rekan fotografer dalam rangkaian perjalanan Canon-Fotografer.net Hunting Series 2009 Toba Lake.

Perjalanan menuju Danau Toba dari Medan bisa ditempuh melalui Pematang Siantar dan Brastagi. Atas alasan kondisi jalan, maka rombongan kali ini memilih rute melalui Brastagi dan Kabanjahe, Kabupaten Karo. Tahun 2008, bersama rekan-rekan dari Medan saya pernah melalui rute Pematang Siantar dan Raya, Kabupaten Simalungun, kampung leluhur saya, tapi sayang kondisi jalan rusak di banyak tempat.

Dari mana pun arah mendekat ke Danau Toba, ada tempat wajib yang tak boleh terlewatkan. Di sisi timur danau terbesar bisa dijumpai Tanjung Unta. Morfologinya berapa daratan Pulau Sumatra yang menjorok ke Danau Toba. Lokasi Tanjung Unta menurut Wikimapia berada pada koordinat 2°46′19″N   98°48′32″E dan secara administratif berada di Nagori (Desa) Sipolha, Kecamatan Sidamanik, Kabupaten Simalungun, sekitar 72 km dari Pematang Siantar.

Pemandangan di Tanjung Unta, di tepi Danau Toba, Nagori Sipolha, Sidamanik, Simalungun, Sumatra Utara, sekitar 72 km dari Pematang Siantar - Foto oleh: Kristupa Saragih
Tak sulit menemukan Tanjung Unta, karena di tempat ini sudah disediakan gardu pandang. Meski beratap, tapi kondisi gardu pandang cukup menyedihkan, karena kotor dan jorok. Belum tersedia pagar pengaman yang memadai, kalau-kalau ada pengunjung yang terlalu kagum sampai-sampai lupa tempat berpijak.

Jika hendak memotret, disarankan datang pada saat pagi hari atau sore hari, saat matahari tak terlalu terik. Gunakan lensa selebar-lebarnya, untuk bisa merekam panorama nan indah secara utuh. Peminat fotografi yang serius bisa memanfaatkan keampuhan filter polarizing (PL) untuk memekatkan warna biru di langit.

Lokasi Tanjung Unta, ditunjukkan panah hijau di tengah peta, hasil capture dari Google Map
Dari tempat ini pula pengunjung bisa menyaksikan kerusakan hutan yang mengitari Danau Toba. Saat kemarau, banyak pula pembakar lahan tak bertanggung jawab yang semakin mengurangi keasrian danau volkanik ini. Jadi, datang dan abadikan keindahan Tanjung Unta dan Danau Toba, sebelum semuanya punah dalam waktu tak lama lagi, jika tak ada orang yang berani ambil langkah berani dan tegas untuk melestarikannya.


http://umum.kompasiana.com/2009/07/30/panorama-tanjung-unta-danau-toba/

suku batak - Danau Toba Bukan Tempat Sampah

(suku batak) [Informasi seputer batak Toba, Pakpak, Karo, Simalungun, Angkola, Mandailing dan Wisata Danau Toba]
Lingkungan - Minggu, 08 Jan 2012 02:07 WIB
Danau Toba Bukan Tempat Sampah

Oleh : Maretta Oktari. Upaya pelestarian kawasan ekosistem Danau Toba sebagai salah satu obyek wisata andalan Provinsi Sumatera Utara sudah sejak lama dikumandangkan. Danau Toba pernah mengalami kejayaan dengan arus kunjungan wisata sangat tinggi.

Sejak krisis ekonomi melanda negeri ini, perlahan-lahan jumlah kunjungan wisatawan ke kawasan ini pun semakin menurun. Masyarakat yang dulu pernah merasakan nikmatnya uang dolar masih terbuai. Akibatnya, beberpa pengusaha hotel dan penginapan di kawasan Danau Toba saat ini banyak yang gulung tikar dan menjualnya ke orang lain.

Terlepas dari makin berkurangnya arus kunjungan wisatawan ke kawasan wisata Danau Toba, saat ini yang menjadi perbincangan hangat adalah perlunya revitalisasi pariwisata Danau Toba dan pentingnya tata kelola destinasi pariwisata yang menekankan pentingnya pelestarian alam, budaya, lingkungan dan ekosistem kawasan Danau Toba yang dikelilingi oleh Kabupaten Simalungun, Toba Samosir, Karo, Dairi, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan dan Samosir.

Danau Toba menjadi ikon pariwisata Sumatera Utara, dimana setiap kali wisatawan memutuskan untuk datang ke Suamtera Utara, Danau Toba adalah tempat wisata yang wajib dikunjungi. Keindahan alam dan pemandangan yang ditawarkan sangat memikat. Dengan luas mencapai 1.127 kilometer persegi, Danau Toba memiliki pulau di tengah-tengahnya yang bernama Pulau Samosir dengan luas sekitar 600 kilometer persegi (selain Pulau Samosir sebenarnya masih ada pulau-pulau kecil lainnya yang membuat pemandangan di kawasan ini semakin memesona).

Danau Toba adalah danau vulkanik, danau yang terbentuk akibat letusan gunung berapi, dan merupakan yang terbesar di Asia Tenggara.

Umumnya, yang dijadikan tempat tujuan utama wisatawan untuk menikmati keindahan Danau Toba adalah Parapat (Kabupaten Simalungun) dan Tuktuk Siadong (Samosir). Untuk menyeberang ke Samosir

ada beberapa jalur bisa dilalui, jalan darat melalui Tele-Pangururan-Tuktuk Siadong. Kemudian dengan kapal motor penumpang dari Parapat langsung ke Tomok atau Tuktuk Siadong, ada juga kapal feri yang bisa mengangkut mobil dan kendaraan lainnya dari Ajibata (Toba Samosir) ke Tomok (Samosir).

Keunikan Danau Toba adalah memiliki panorama air, lembah, kekayaan budaya dan merupakan sebuah muara air raksasa. Di seputar danau ini bermukim penduduk dari berbagai suku, dikelililingi hutan tropis, hutan produksi dan lahan pertanian.

Permasalahan yang dihadapi Tao Toba saat ini adalah makin menurunnya kepedulian masyarakat terhadap kelestarian kawasan ekosistem kawasan Danau Toba. Badan Pelaksana Badan Koordinasi Pengelolaan Ekosistem Kawasan Danau Toba (BKPEKDT) pernah melakukan penelitian dan menemukan air di Danau Toba telah tercemar, Badan Lingkungan Hidup Provinsi pun pernah merilis bahwa Danau Toba terancam pencemaran berat yang berasal dari limbah rumah tangga, restoran, hotel serta ulah manusia yang membuang sampah sembarangan ke danau.

Masyarakat yang tinggal di kawasan ekosistem Danau Toba harus diedukasi secara berkesinambungan untuk tetap menjaga kebersihan danau dari sampah, kotoran dan limbah. Karena dari segi estetika, danau ini sangat indah dipandang dari sudut mana pun. Keindahannya telah memikat hati banyak wisatawan untuk datang kembali ke obyek wisata ini. Hanya saja, kalau kita masih tetap mempertahankan pola-pola lama yang meninggalkan aspek lingkungan dalam setiap gerak pembangunan di kawasan ekosistem Danau Toba, perlahan tapi pasti danau ini akan semakin rusak dan estetikanya akan hilang.

Semakin Sadar
Sebenarnya, gerakan untuk membersihkan danau dari sampah dan eceng gondok sudah sejak lama dilakukan oleh berbagai lembaga swadaya masyarakat bekerjasama dengan pemerintah, masyarakat di pinggiran Danau Toba pun saat ini sudah semakin sadar akan arti pentingnya menjaga kebersihan danau dan kualitas air danau. Program Clean-up Danau Toba juga sudah dilakukan secara berkesenambungan di beberapa kabupaten/kota yang bersinggungan langsung dengan kawasan danau.

Berbagai elemen saat ini sudah menaruh kepedulian terhadap pelestarian kawasan Danau Toba. Yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana dengan penataan kerambah ikan di kawasan danau - Pada event Pesta Danau Toba 2010 lalu, ada gagasan untuk menetapkan Haranggaol sebagai zona perikanan air tawar. Bagaimana tindak lanjut dari usulan ini - Apakah masyarakat dan pemerintah benar-benar menjamin dengan ditetapkannya zona ini tidak akan ada lagi kawasan kerambah (ternak ikan) yang muncul di luar daripada zona yang telah ditetapkan ?

Ketika melihat secara langsung kawasan wisata Danau Toba, masalah kebersihan lingkungan di obyek wisata dan banyaknya eceng gondok di danau masih jadi persoalan utama yang harus diatasi. Kemudian, tingkat kepedulian masyarakat dan pengunjung dalam membuang sampah masih perlu sosialisasi secara berkesinambungan.

Danau Toba adalah harta yang sangat berharga bagi Sumatera Utara, karena danau ini memiliki keindahan ketika dipandang dari sudut mana pun. Kebersihan lingkungan dan upaya pelestarian kawasan ekosistem Danau Toba perlu dijaga oleh setiap orang yang datang dan berkunjung ke objek wisata ini. Berwisata menikmati keindahan alam sekaligus menikmati perjalanan wisatanya, dan yang terpenting adalah kedatangan kita ke kawasan wisata bukan untuk membuang sampah atau menambah beban bagi upaya pelestarian lingkungan.

Apabila masyarakat pelaku wisata di kawasan Danau Toba benar-benar mendukung upaya pelestarian lingkungan danau, ke depan akan memberi multiplier effect terhadap perekonomian masyarakat di kawasan Danau Toba. Kawasan ini bisa dikembangkan menjadi salah satu kawasan pariwisata kerakyatan, dimana semua kegiatan yang berkaitan dengan peningkatan ekonomi pro rakyat akan bersinggungan langsung dengan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang ada dan hadir di kawasan wisata Danau Toba. Misalnya, penjual suvenir, makanan, minuman, rumah makan serta sektor usaha lainnya. Hanya saja, semua elemen harus benar-benar memperhatikan kebersihan lingkungan dan tidak membuang sampah sembarangan, apalagi mengotori danau.

Jika semua elemen ini bersinergi dengan baik dan saling menguatkan, ke depan DTW kawasan wisata Danau Toba akan dikunjungi oleh banyak wisatawan. Yang terpenting lagi adalah, masyarakat pelaku wisata di Danau Toba harus sadar wisata, sadar lingkungan dan sadar aturan yang berlaku, peningkatan arus kunjungan akan memberi dampak langsung terhadap peningkatan perekonomian masyarakat.

Adanya program dan pelaksanaan pembersihan kawasan ekosistem danau Toba dari sampah maupun eceng gondok pastilah mendapat perhatian khusus dari seluruh elemen masyarakat di seluruh kawasan ekosistem Danau Toba. Masyarakat kalau dilibatkan akan merasa dihargai. Karena Danau Toba bukan hanya milik sekelompok orang, tapi milik semua masyarakat.

Eceng gondok di Danau Toba perlu dibersihkan terutama pada lokasi-lokasi tempat pemandian, dermaga kapal dan alur pelayaran. Akan tetapi, untuk lokasi masuknya air limbah dari beberapa anak sungai atau parit yang mengalir langsung ke danau, keberadaan eceng gondok perlu dipertahankan sebagai filter (penyaring) guna menekan pencemaran air Danau Toba.

Upaya pelestarian Danau Toba sebenarnya tidak hanya masalah sampah dan eceng gondok, penanaman kembali hutan yang gundul dan telah dieksploitasi oleh oknum-oknum tidak bertanggungjawab harus segera dilakukan sejalan dengan program pemerintah penanaman sejuta pohon.

Keindahan alam Danau Toba telah membuat semua orang jatuh cinta untuk datang kembali mengunjunginya. Ayo, tunjukkan aksi nyatamu melestarikan kawasan ekosistem Danau Toba. Apakah itu lewat aksi kecil dengan tidak membuang sampah sembarangan atau aksi lainnya. Upaya pelestarian kawasan ekosistem danau ini tidak akan berhasil kalau aksi untuk mengkampanyekan "Danau Toba Bukan Tempat Sampah" hanya dituangkan di atas kertas. Aksi ini harus nyata dengan melibatkan semua kalangan.


(Penulis adalah pemerhati masalah lingkungan)
http://www.analisadaily.com/news/read/2012/01/08/29621/danau_toba_bukan_tempat_sampah/#.TzroTYGa7hg

suku batak - Melihat Keindahan Panorama Danau Toba

(suku batak) [Informasi seputer batak Toba, Pakpak, Karo, Simalungun, Angkola, Mandailing dan Wisata Danau Toba]
Melihat Keindahan Panorama Danau Toba
January 23, 2012

Danau Toba merupakan danau vulkanik terbesar di Indonesia, bahkan Asia Tenggara. Salah satu keunikannya karena di tengah- danau terdapat sebuah pulau, dinamakan Samosir. Tak mengherankan bila Danau Toba menjadi destinasi wisata unggulan 2012 oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).Indonesia mempunyai banyak tempat wisata yang unik, salah satunya Danau Toba, Sumatra Utara. Danau Toba diperkirakan terbentuk sekira 73.000-75.000 tahun lalu akibat letusan gunung berapi. Dari letusan ini terbentuklah sebuah kaldera yang kemudian terisi air dan kini menjadi Danau Toba. Sementara, Pulau Samosir terbentuk akibat tekanan magma yang belum keluar.

Selain penjelasan secara ilmiah, terbentuknya Danau Toba juga diliputi cerita legenda. Dahulu, ada seorang pria yang memancing ikan di sungai. Ia kemudian berhasil mendapatkan seekor ikan mas, yang ajaibnya dapat berbicara dan memohon kepada pemuda tersebut untuk tidak memakannya.

Ikan kemudian berubah menjadi seorang wanita cantik, merekapun menikah. Tidak berapa lama, pernikahan keduanya dikarunia seorang anak, dan wanita tersebut meminta suaminya berjanji untuk tidak pernah menyebut kepada anaknya bahwa ia adalah anak ikan. Namun ternyata, suatu hari ia kelepasan menyebut anaknya adalah anak ikan. Wanita tadi menyuruh anaknya berlari ke gunung, memanjat pohon tertinggi. Saat itu juga, petir muncul dan menyambar, kemudian terjadi hujan besar hingga sungai meluap. Wanita tadi kembali menjadi ikan mas, kemudian air sungai meluap itulah disebut Danau Toba, sedangkan gunung tempat anak tadi berlari menjadi Pulau Samosir di tengah-tengah danau. Kecantikan dan keunikan alam Danau Toba serta Pulau Samosir menjadikannya salah satu tempat wisata penting di Indonesia, terutama di Sumatra Utara yang selalu ramai dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara.

“Danau Toba memiliki pemandangan yang indah, apalagi di sekitarnya terdapat banyak penginapan dan hotel dengan harga dan tipe yang beragam,” tutur Matthew (22) seorang wisatawan yang sempat berkunjung saat dihubungi okezone. “Biasanya, saya memilih untuk menginap di salah satu hotel di Parapat, dengan tarif Rp300 ribu per malam sudah dapat kamar nyaman ber-AC,” lanjutnya.

Dari Parapat yang terletak di tepi Danau Toba, wisatawan dapat menyeberang ke Pulau Samosir menggunakan kapal ferry. “Dari Parapat ke Pulau Samosir dapat menggunakan dua jalur, jalur darat dan jalur air. Namun jalur darat sangat jauh, sedangkan menyeberang menggunakan kapal ferry hanya butuh waktu 30-45 menit saja,” tambahnya. Apalagi, dari kapal ferry wisatawan dapat dengan santai menikmati pemandangan indah di sekitar Danau Toba. “Biaya menyeberang dari Parapat ke Tomok di Pulau Samosir hanya Rp7.000 per orang,” lanjutnya.

Setelah sampai di Samosir, wisatawan biasanya akan menuju ke Tuk Tuk, kota terbesar di Pulau Samosir. Di sini terdapat tempat-tempat wisata seperti komplek makam Raja Sidabutar dan komplek rumah tradisional Batak Samosir. Ada pula danau di atas danau, yaitu Danau Sidihoni dan Danau Aek Natonang.

Bagi wisatawan yang ingin bermalam di Pulau Samosir, juga tersedia banyak penginapan dengan harga beragam. Kembali ke Parapat juga tak kalah menarik. “Di Parapat ada atraksi wisata Batu Gantung, sebuah batu yang menyerupai tubuh seorang gadis yang seolah-olah menggantung di dinding tebing di tepi Danau Toba,” kata Tupa (24), seorang warga Parapat yang dihubungi okezone secara terpisah. Menurut cerita masyarakat setempat Danau Toba, batu tersebut adalah seorang gadis yang menjelma menjadi batu karena ingin bunuh diri. “Batu ini ramai dikunjungi wisatawan karena penasaran ingin melihat batu yang berwujud seperti manusia,” tuturnya. Pemandangan Danau Toba yang indah memang menjadi daya tarik utama kawasan wisata ini. “Sayang, di sini kurang banyak atraksi wisata selain wisata alam,” ujar Matthew. “Perjalanan yang ditempuh dari Kota Medan ke Parapat juga cukup jauh, mungkin seandainya dibuat bandara di dekat Parapat akan dapat lebih memudahkan wisatawan,” harapnya.

Perjalanan dari kota Medan ke Parapat memakan waktu empat jam perjalanan, dengan bus maupun mobil pribadi. “Selain itu, sebaiknya juga semakin diperbanyak resor-resor di sekitar Danau Toba agar semakin banyak pilihan akomodasi untuk wisatawan,” tutupnya.

Danau Toba masuk dalam 15 destinasi wisata unggulan 2012 yang dirilis Kemenparekraf. Selain Danau Toba, 14 destinasi lainnya adalah Sabang, Kota Tua-Jakarta, Tanjung Putting, Bromo-Tengger-Semeru, Batur-Bali, Rinjani, Toraja, Derawan, Raja Ampat, Bunaken, Komodo-Kelimutu-Flores, Wakatobi, dan Borobudur.



sumber: http://aksesdunia.com/2012/01/23/melihat-keindahan-panorama-danau-toba/#ixzz1mOrkykqX
aksesdunia.com

suku batak - Kemenbudpar Sinkronkan Program Pengembangan Wisata Danau Toba

(suku batak) [Informasi seputer batak Toba, Pakpak, Karo, Simalungun, Angkola, Mandailing dan Wisata Danau Toba]
 Kemenbudpar Sinkronkan Program Pengembangan Wisata Danau Toba
Short URL to this post : http://savelaketoba.org/?p=465

Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) menggelar stakeholder meeting I dalam rangka sinkronisasi dan implementasi program kegiatan DMO (destination management organization) 2011, Rabu (30/3), di Hotel Sopo Toba, Ambarita, Kecamatan Simanindo, Samosir. Dalam pertemuan yang dipimpin Dirjen Pengembangan Destinasi Pariwisata  Kemenbudpar, Acyaruddin, itu, juga hadir perwakilan Dinas Parwisata Sumut, Samosir, Simalungun, Toba Samosir, anggota DPRD Samosir, Wakil Bupati Mangadap Sinaga, Anggota DPRD Samosir,  Ary Suhandi sebagai fasilitator dari INDECON (Indonesian Ecotourism Network), Forum Pengembangan Pariwisata (FPP), Komunitas SLTC (Save Lake Toba Community) Annette H.

Acyaruddin mengatakan, pertemuan ini untuk mensinkronkan secara terstruktur dan sinergi pengembangan destinasi pariwisata Danau Toba oleh para stakeholder yang tergabung dalam wadah DMO.

Diharapkan kerja sama yang bersinergi antara pemerintah pusat melalui Kemenbudpar, Disbudpar propinsi, Dinas Pariwisata kabupaten di kawasan Danau Toba serta stakeholder lainnya.

“Pembangunan jalan outer ring road Danau Toba sudah menjadi salah satu program nasional dalam rangka percepatan pengembangan destinasi pariwisata Danau Toba,” ujar Acyaruddin.

Untuk saat ini, paparnya, ada  3 wilayah yang menjadi fokus utama, yakni Tomok, Tuktuk dan Ambarita, dengan tidak mengesampingkan wilayah lainnya.

Sebab itu, diharapkan kepada pemerintah daerah agar meningkatkan fasilitas-fasilitas kebersihan.
Wakil Bupati Samosir Mangadap Sinaga mengatakan, pihaknya sangat mendukung kegiatan ini, yang diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pengembangan kawasan wisata Danau Toba sebagai tujuan wisata nasional.

“Seluruh warga Samosir dapat berpartisipasi sekecil apapun, sehingga mendukung percepatan pencapaian visi Kabupaten Samosir sebagai daerah tujuan wisata lingkungan yang inovatif,” ujar Mangadap.

Dalam pertemuan tersebut, juga dilaksanakan pemaparan program kerja dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumut, Simalungun, Toba Samosir, Samosir, Komunitas SLTC, Forum Pengembangan Pariwisata Samosir dan Simalungun.


Sumber : MedanBisnis – Samosir. (tumpal sijabat)
http://www.savelaketoba.org/event-kegiatan/kemenbudpar-sinkronkan-program-pengembangan-wisata-danau-toba/

suku batak - Referensi Tempat Jalan-jalan

(suku batak) [Informasi seputer batak Toba, Pakpak, Karo, Simalungun, Angkola, Mandailing dan Wisata Danau Toba]
Referensi Tempat Jalan-jalan


Bagi Anda yang ingin jalan-jalan ke Medan - Danau Toba, semoga rute perjalanan kami ini bisa membantu Anda.

NB : Pada saat kami liburan ke Medan - Danau Toba, kami tidak menggunakan city tour. Kami menyewa mobil dan supir, jadi rute perjalanan kami tentukan sendiri.

Kami beruntung sekali mendapatkan seorang supir sekaligus tour guide yang benar-benar tahu rute perjalanan tempat wisata di Medan - Danau Toba.

Bagi Anda yang mungkin membutuhkan supir sekaligus tour guide, silahkan contact  Bpk Nanang : 081260948348.

Hari 1 : Medan - Brastagi

Rute Perjalanan :
1. Green Hill City
2. Makan Jagung Bakar
3. Pemandian Air Panas si Debuk-debuk
4. Mikie Holiday
5. Makan Wajik di Peceran
6. Gundaling
7. Tugu Revolusi (Brastagi)
8. Belanja Buah-buahan di Pasar Brastagi
9. Memetik Jeruk Medan

1. Green Hill City
Green Hill City adalah perumahan elit yang yang bernuansa alam pegunungan, terletak di Sibolangit. Di perumahan ini terdapat Green Hill Park yang dilengkapi dengan wahana pemainan dan lokasi atraksi hiburan. Terdapat juga Festifal Walk untuk Anda yang ingin berbelanja makanan & keperluan sehari-hari. Katanya di dalam perumahan tersebut, ada danau buatan juga.

Patung Pramuka...letaknya di di sekitar Green Hill City

2. Makan Jagung Bakar
Kawasan ini cukup dingin. Anda bisa menikmati jagung bakar dan segelas minuman hangat, sambil menikmati view kota dari ketinggian.
Daerah ini mirip-mirip kawasan Puncak - Bogor

NB : Yang makan jagung bakar koq sahabat kita, si "Monyet" :)

3. Pemandian Air Panas Alam Sidebuk-debuk
Di tempat ini ada banyak pemandian air panas alam, diantaranya pemandian air panas 'Sibayak'. Tempat pemandian air panasnya sudah dilengkapi kolam renang.


4. Mikie Holiday
Mikie Holiday adalah resort & hotel. Katanya di hotel ini banyak fasilitas untuk liburan keluarga. Ada hiburan untuk anak-anak dan orang tua (dewasa).
Kita seh tidak menginap di sini. Kita numpang lewat doank :)


5. Makan Wajik di Peceran
Wisata kuliner makan wajik dan pecel sayuran di wilayah Peceran.


6. Bukit Gundaling
Dari bukit Gundaling, kita bisa melihat Gunung Sibayak dan Gunung Sinabung.

Beli oleh2 khas Brastagi.
7. Tugu Revolusi
Tugu revolusi terletak di tengah kota Brastagi.


8. Belanja Buah-buahan di Pasar Brastagi
Untuk Anda yang akan membeli buah-buah segar hasil pertanian, bisa mampir di pasar Brastagi. Letak pasarnya di sekitar tugu Revolusi. Anda bisa membeli jeruk medan, buah markisa, terong belanda, dan buah-buahan lainnnya. Anda  juga bisa membeli sayur-sayuran segar.
Buah dan sayuran ini dipetik dari hasil perkebunan sendiri. Dan bonusnya untuk Anda, perkebunan tersebut Anda bisa nikmati pemandangannya sepanjang perjananan di sekitar Brastagi.

9. Memetik Jeruk Medan
Ini seninya beli jeruk medan. Metik sendiri di kebun. Beli jeruknya 2 kg, tetapi yang di makan di dalam kebun bisa 5 kg, ha...ha...


Hari kedua : Pearl of Lake Toba (Simalam Resort) - Parapat

Rute Perjalanan :
1. Pearl of Lake Toba (Simalem Resort)
2. Air Terjun Sipiso-piso
3. Bukit Iman / Bukit Doa
4. Rumah Bolon
5. Parapat

1. Pearl of Lake Toba (Simalem Resort)

Anda bisa menghabiskan setengah hari atau seharian penuh di tempat ini.
Di Pearl of Lake Toba, banyak tempat yang bisa dikunjungi. Ada taman agrowisata (kebun markisa, kebun terong belanda, dll), ada Buddhist Temple, ada Restaurant, ada stadiun/tempat untuk konser, ada resort & hotel, ada toko sayuran hidroponik, ada toko bunga...pokoknya complete dech. Untuk Anda yang senang wisata air terjun, pihak pengelola hotel menawarkan wisata jalan-jalan ke air terjun kembar, yang bisa ditempuh beberapa jam dari Pearl of Lake Toba.

Tempat ini keren abizzzttt. View-nya adalah Danau Toba. Muantapppp.
Tempat untuk konser. Anda bisa bayangkan menonton aksi panggung artis/penyanyi idola Anda dari tempat ini dengan background danau Toba....Wow... !!!

Ini view Danau Toba dari area Pearl of Lake Toba (sore hari).
2. Bukit Iman / Bukit Doa
Untuk Anda yang ingin menikmati wisata rohani, tempat ini perlu Anda kunjungi.
Lokasinya tidak jauh dari Pearl of Lake Toba.

3. Air Terjun Sipiso-piso
Ini view Danau Toba dari area air terjun Sipiso-piso.

Air terjun Sipiso-piso.
Air terjunnya keren abizzzTtt.....
Untuk Anda yang suka tantangan, bisa turun ke dasar air terjun dan mandi di situ. Turunnya seh tidak menyita tenaga, tetapi nanjaknya....kamu kudu siapin tenaga extra.

4. Rumah Bolon
Istana Raja Batak zaman dulu.
5. Parapat
Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya tiba juga di Parapat. Parapat adalah kota yang terletak di pinggir danau Toba. Anda bisa menginap di hotel di wilayah Parapat.

Hari ketiga : Pulau Samosir

Rute Perjalanan:
1. Danau Toba
2. Meja & Kursi Batu di Ambarita
3. Museum Huta Bolong - Simanindo
4. Patung Si Gale-gale
5. Makam Raja Batak
6. Museum Batak
7. Saulina Resort
8. Pemandian Air Panas Alam 'Pangunguran'

1. Danau Toba

Indahnya Danau Toba...

Ehm, teduhnya...

Tugu & Danau Toba
Bagus yach...tugu-nya menghadap ke Danau Toba.

Dari jauh kelihatan di gunung itu kan ada sumber air panas alami. Namanya pemandian air panas "Pangururan".

Mencari Ikan di Danau Toba
Di Danau Toba ini banyak ikan air tawar. Namanya ikan Pora-pora atau ikan Bilih. Ikannya kecil-kecil, lebih besar sedikit dari ikan Teri. Pada saat kita lagi berenang di pinggir danau pun, kita bisa melihat ikan-ikan tersebut sedang berenang dalam danau. Ikan tersebut rasanya enak dan gurih, apalagi kalau digoreng agak garing. Chrunzhy....
Berenang Sambil Membersihkan Danau
Hotel di Pulau Samosir itu rata-rata memiliki view Danau Toba. Ada beberapa hotel yang benar-benar di tepi danau. Jadi begitu buka pintu kamar, langsung nyebur berenang di danau...

2. Meja & Kursi Batu di Ambarita
Meja & kursi dari batu ini, konon digunakan untuk rapat pada zaman dahulu.
3. Museum Huta Bolong - Simanindo
Kapal penumpang untuk pesiar keliling Pulau Samosir dan Danau Toba.

Yang Biru Yang Teduh
Birunya Danau Toba ampuh banget untuk terapi stress :)
Selancar
Di satu tempat ini, kita bisa menemukan banyak aktivitas masyarakat Samosir. Mulai dari mencuci baju, mencuci piring,membersikan ikan, mandi/renang, dll...semuanya di satu tempat ini. Lantainya sangat licin sehingga digunakan anak-anak kecil untuk bermain "selancar".

4. Patung Si Gale-gale
Katanya zaman dulu patung ini bisa menggerakkan tangannya sendiri (menari). Tetapi  sekarang, nih patung bisa bergerak karena di "drive" oleh manusia.
Kalau ingin nonton pertunjukan tari Sigale-gale, Anda harus membayar Rp 60.000/pertunjukan.

5. Makam Raja Batak
Apabila ingin wisata ke makan raja Batak zaman dulu, kita harus pake Ulos. Ulos adalah selendang tenun khas Batak.

Beli oleh2, antara lain sarung wangi (terbuat dari pohon yang apabila digosok-gosok akan menebarkan aroma wangi).
6. Museum Batak
Di Museum ini terdapat barang-barang peninggalan sejarah. Antara lain, peralatan memasak zaman dulu, peralatan perang, dan juga pakaian adat Batak.
Di museum ini, Anda bisa menyewa pakaian adat Batak.

7. Pemandian Air Panas Alam 'Pangururan'
Tempat wisata itu asyik banget, bisa mandi air panas sambil mengobati borok, he..he...
8. Saulina Resort
Resort ini memiliki view yang bagus banget. View-nya menghadap ke danau Toba. Letaknya tidak jauh dari lokasi pemandian air panas 'Pangururan'.

Di Saulina Resort, Anda bisa berenang di danau Toba
Melewati senja di Saulina Resort sambil menikmati segelas jus terong belanda. Saulina Resort ini terletak di area pemandian air panas alam "Pangururan".

Di area Saulina Resort, Anda bisa mengunjungi Rumah Doa Ebenezer.
Hari keempat : Kembali ke Medan melalui Pematang Siantar

Rute Perjalanan:
1. Pulau Samosir - Parapat
2. Pematang Siantar
3. Beli oleh2, al :
    Beli oleh2 di Toko A1 (al : ting-ting, teng-teng, tong-tong, dll)
    Beli roti di toko GANDA
    Beli oleh2 di toko PATEN (al : ting-ting, teng-teng, tong-tong, dll)
    Beli oleh2 Bakpia cap Beo
    Beli oleh2 Lemang
    Beli oleh2 Dodol Duren di BENGKEL
4. Pantai Cermin

1. Pulau Samosir - Parapat
Kapal ferry untuk penyebrangan mobil dari Pulau Samosir ke Parapat. Tarif Rp 95.000 per mobil.

Selamat Tinggal Pulau Samosir...
2. Pematang Siantar
Di sepanjang jalan, Anda bisa melihat hutan pinus, perkebunan karet, dan perkebunan kelapa sawit.
Anda juga bisa mampir di kota ini untuk menikmati Mie Siantar.

3. Beli oleh2
Anda bisa mampir untuk membeli oleh-oleh. Beberapa tempat yang sempat kami singgahi adalah :

Beli oleh2 di TOKO A1 (al : ting-ting, teng-teng, tong-tong, dll).

Beli roti di Toko GANDA
Yang khas adalah roti selai srikaya. Anda juga bisa membeli selai srikaya.
Beli oleh2 di Toko PATEN (al : ting-ting, teng-teng, tong-tong, dll).

Beli oleh2 Bakpia cap Beo.

Beli oleh2 Lemang.

Beli oleh2 Dodol Duren di BENGKEL.
Di area BENGKEL ada banyak toko yang menjual oleh2 khas Medan & Pematang Siantar.
4. Pantai Cermin

Senja di Pantai Cermin
Pantainya luas, seperti tidak berujung, seperti tiada batas....mungkin karena itulah dinamakan Pantai Cermin.

Hari kelima : Jalan-jalan di Kota Medan

Rute Perjalanan:
1. Istana Maimun
2. Masjid Raya
3. Vihara Maitreya
4. Penangkaran Buaya

1. Istana Maimun
Menjadi Pangeran dan Permaisuri sehari. Kostum ini disewakan Rp 15.000. Jika Anda mau foto, harus bawa kamera sendiri karena pihak istana tidak menyediakan kamera.

2. Masjid Raya Medan
Jika Anda ingin masuk ke Masjid, yang cewek harus pake kerudung.

3. Vihara Maitreya
Katanya ini Vihara terbesar di Asia Tenggara. Vihara-nya lengkap banget....ada sekolah, tempat memperdalam ilmu keagamaan, kantin, dll.

4. Penangkaran Buaya
Di tempat penangkaran buaya, kita bisa lihat buaya yang umurnya udah tua. Ada yang umurnya 35 tahun lho.

Buaya yang Kelaparan
Anak-anak, mari kita belajar berhitung. Berapa banyak buaya yang sedang kelaparan ???

Buaya lagi Makan
Buaya yang kelaparan lagi pada makan. Makanannya adalah anak ayam/anak itik yang baru lahir (baru keluar dari cangkang telor). Kadang-kadang anak ayam/anak itik tersebut ada yang masih hidup terpaksa sudah menjadi santapan para buaya. Kadang sudah di depan mulut buaya pun, masih terdengar suara 'cit...cit...cit' dari anak ayam/anak itik yang malang ini. Agak sadis juga sech sebenarnya, hiks...hiks....Bagi yang mau menyaksikan "sadis"-nya para buaya memangsa anak ayam/anak itik, datangnya pada jam 5 sore hari.

Hari keenam : Wisata Kuliner di Kota Medan

Rute Perjalanan :
1. Beli oleh2, al :
    Sirup Markisa Noerlen
    Bika Ambon Zulaikah
    Bolu Gulung Miranti
2. Wisata Kuliner, al :
    Tip Top Restaurant
    Kwetiau ATENG ACHENG
    Mie Aceh
3. Selamat tinggal kota Medan

1. Beli oleh2
Sirup Markisa' Noerlen' adalah sirup home made dengan menggunakan gula alami, tanpa pewarna dan tanpa bahan pengawet. Sirup ini udah ada sejak 1985. Harganya agak mahal seh dibandingkan sirup markisa lainnya yang sering dijual di supermarket, tetapi rasanya lebih segar :).
Kalau mau beli sirup markisa ini, datang langsung ke alamatnya : Jl Sei Tuan No 7, Medan.


2. Wisata Kuliner di kota Medan
NB : Mohon maaf neh, untuk wisata kuliner, fotonya tidak banyak, disebabkan photographernya jika lagi asyik makan, tidak boleh diganggu, sehingga tidak sempat motret, hehehe....

* Tip Top Restaurant
Ini tempat wisata kuliner yang wajib dikunjungi. Ini resto es cream yang sudah ada sejak zaman Belanda. Berdiri sejak 1943. Proses pembuatan es cream masih menggunakan peralatan dari zaman Belanda jg... dan resep pembuatan es cream masih sama sejak thn 1943...WOW !!! .
Alamatnya : Jl. Jend. A. Yani 92 (Kesawan), Medan.

* Kwetiau ATENG ACHENG
Kwetiau ini dimasak menggunakan bara api (tidak menggunakan kompor gas atau kompor minyak tanah).

Di Merdeka Walk, Anda bisa menikmati sajian makan malam yang modern di suasana alam yang asri dan sejuk. Disini harga makanannya agak mahal :)

* Jl. Pagaruyung
Di sepanjang Jl. Pagaruyung, Anda bisa menikmati makanan eunakk yang murah meriah :))

* Kampung Keling
Disebut Kampung Keling karena penduduknya banyak orang India yang kulitnya agak gelap. Di tempat ini ada banyak makanan yang murah. Yang perlu dicoba adalah makanan khas India. Kampung Keling letaknya di dekat2 Sun Plaza, Medan.

* Mie Aceh.

3. Selamat tinggal kota Medan
Apabila jalan-jalan di kota Medan,jangan lupa naik bentor (becak motor).

Selamat tinggal kota Medan....Terima kasih atas liburan yang sangat menyenangkan :)


Sumber:
http://ourfootprint.multiply.com/journal/item/8

suku batak - Danau Toba Kekayaan yang Disia-siakan…

(suku batak) [Informasi seputer batak Toba, Pakpak, Karo, Simalungun, Angkola, Mandailing dan Wisata Danau Toba]
Toto Pardamean
Danau Toba Kekayaan yang Disia-siakan…
REP | 15 November 2011 | 13:52

Siapa yang tak kenal Danau Toba ? Danau terbesar yang dimiliki Indonesia itu terletak dipinggiran kota Parapat Kabupaten Tobasa Sumatera Utara.Disana para wisatawan sekaligus dapat menimati pesona danau yang menawan,udara sejuk,serta wisata agro dan budaya. Dulu danau Toba pernah menjadi tujuan wisata utama di Sumatera Utara mulai dari wisatawan lokal hingga wisatawan luar negeri. Kini Danau itu tinggal sendirian dalam sepi tak lagi menjadi primadona bahkan terkesan berubah menjadi puing-puing kejayaan masa silam.

Danau Toba yang dianugerahkan Tuhan bagi bangsa Indonesia umumnya serta bangsa Batak khususnya pastilah ditujukan untuk kesejahteraan bangsa ini terutama rakyat yang ada disekitar danau Toba tersebut. Tetapi keadaannya sekarang ini sangat menyedihkan, keindahannya mulai terusik oleh berbagai bangunan hotel dan penginapan yang menutupi hampir seluruh tepiannya sehingga menutup akses masyarakat yang bukan penginap hotel untuk menikmatinya,airnya yang mulai tercemar oleh pakan ternak pabrikan yang digunakan para pengusaha keramba ikan tanpa perhitungan ekosistem dan ekologi.

Kondisi itu diperparah lagi dengan kondisi jalan untuk mencapainya rusak tanpa perhatian dari pemerintah kabupaten dan pemerintah provinsi. Dari dulu hingga saat ini tidak ada perhatian serius dari pihak pemerintahnya dalam melestarikan danau Toba yang indah ini apakah itu tentang penjagaan orisinalitasnya demikian pula tentang pemberdayaan masyarakat dan budaya lokal yang dapat mendukung semarak kunjungan wisata ketempat ini.

Pada hal masyarakat yang tinggal disekitar danau Toba ini memiliki kekayaan budaya yang jauh lebih besar dibandingkan budaya masyarakat Bali (misalnya) sebab ada beberapa etnis yang berada di sekitarnya seperti Batak Toba, Simalungun, Dairi, Karo, Mandailing, Melayu bahkan Jawa. Tapi seperti yang disinggung diatas tadi, berbagai potensi ini tidak menarik perhatian pemerintah termasuk tokoh-tokoh masyarakat untuk memberdayakannya sebagai usaha lain dalam mensejahterakan rakyat. Tata ruang wilayah-wilayah diseputar Danau Toba inipun sepertinya tidak mempertimbangkan dan memprioritaskan unsur-unsur natural yang menjadi ciri khas sebuah tempat tujuan wisata panorama alam.

Ini hanya salah satu fakta yang menunjukkan betapa pemerintah dan masyarakat Sumatra Utara sama-sama tidak sensitif terhadap harta karun yang dimiliki alamnya. Jika dicermati pesona wisata danau Toba ini tidak hanya bertumpu pada danau Toba saja, danau ini juga dikelilingi oleh perkebunan teh,karet,kelapa sawit,dan pepohonan buah-buahan lainnya baik yang dikelola BUMN maupun Rakyat. Danau Toba ini juga dikelilingi hamparan sawah dan tanaman holtikultura lainnya. Istimewanya semua unsur-unsur tersebut tidak terletak pada satu tempat saja melainkan dibeberapa tempat yang pada akhirnya akan menuju Parapat/Danau Toba sehingga jika dikelola dengan baik maka paket wisata Danau Toba menjadi tidak menjemukan.

Dari kota Medan sebagai ibukota provinsi Sumatera Utara, Lokasi Danau Toba bisa dicapai melalui 2 pintu masuk utama.

1. Medan-Parapat/Danau Toba via Tanah Karo. Disini turis akan bisa menikmati objek wisata Agro dan budaya di Kota Berastagi, Kabanjahe. Wilayah dataran tinggi dengan udara sejuk Tanah Karo ini terkenal dengan hasil pertaniannya berupa Buah Jeruk,Markisa dan Tanaman sayur mayur lainnya. Dua kota utama Kabupaten Karo ini akan dilalui sebelum menuju Danau Toba, bahkan disepanjang jalan antara Kabanjahe dan kota kecamatan Merek para wisatawan akan bisa memandangi pinggiran sebelah Barat Danau Toba yang masih alami. Didua kota utama Kabupaten Karo ini para wisatawan bisa membekali perjalanannya dengan aneka buah-buahan dan sayur mayur segar untuk diolah dipenginapan nantinya.

2. Medan-Parapat/Danau Toba via Tebing Tinggi. Dirute ini wisatawan akan bisa menikmati objek wisata kuliner dan agro berupa perkebunan karet,kelapa sawit di wilayah Kabupaten Deli Serdang dan Kota Tebing Tinggi. Di sepanjang jalan Kab.Deli Serdang ,Kota Tebing Tinggi akan ditemukan tempat-tempat makan (wisata kuliner) yang khas. Selanjutnya di kota Pematang Siantar anda akan bisa berkunjung dalam nuansa perjalanan lainnya seperti ; pemandian air panas,lokasi legenda masyarakat,kuliner yang khas serta mengunjungi wisata agro seperti perkebunan teh Sidamanik (yang terkenal hingga kemanca negara itu).

Paket perjalanan wisata Danau Toba yang bisa menarik minat kunjungan wisatawan sebenarnya sangat ditentukan pengelolaan infrastruktur disepanjang dua jalur masuk yang disebutkan tadi. Pengelolaan jalan yang baik yang menguhubungkan Kota Medan dengan kota-kota kecamatan sebelum sampai ketujuan utama (Parapat/Danau Toba) akan menjadi pendongkrak minat para wisatawan, begitu pula dengan Prasarana dan Sarana pendukung di kota-kota kecamatan yang dilalui sepanjang Medan-Parapat/Danau Toba dikedua jalur tadi. Jika semua tempat yang disebutkan tadi dikelola dengan baik maka diyakini paket perjalanan wisata Medan Danau Toba akan memiliki nilai jual/tawar yang tinggi dan yang paling penting perputaran ekonomi diwilayah-wilayah yang dilalui (dikedua jalur itu) akan dapat digerakkan sehingga memberi nilai tambah ekonomi bagi masyarakat. Patut dicatat bahwa jika sebuah jalur perjalanan menjadi laluan wisatawan, rakyat akan terdorong untuk berkreasi memanfaatkan peluang ekonomi itu. Jika ini terjadi maka peran pemerintah sebagai fasilitator dan dinamisator barulah terbukti dengan benar.

Khusus untuk Parapat dan Danau Toba sebagai akhirperjalanan wisata ini maka pemerintah daerah ini mestinya sadar bahwa daerahnya harus bisa memberikan ketenangan,kenyamanan untuk wisatawan yang sudah lelah disepanjang perjalanan. Pemerintah daerah tujuan akhir dari sebuah paket perjalanan wisata harus bisa menjawab semua kebutuhan para wisatawan itu agar mereka betah berlama-lama di Parapat/Danau Toba sebagai akhir dari sebuah perjalanan paket wisata. Pemerintah daerah harus jeli melihat kriteria-kriteria kenyamanan,ketertiban dan kebersahajaan itu. Akhir perjalanan sebuah paket wisata adalah klimaks kepuasan para wisatawan, itu mesti menjadi dasar strategi pembangunan kota/daerah tujuan wisata. Maka sangat aneh jika di Parapat hanya ada satu pesta rakyat (pesta danau Toba) yang sekali dalam setahun itu, itupun tak jelas nilai kepuasaan apa yang didapatkan wisatawan dari pesta itu, setelah itu Danau Toba kembali tertidur dalam kelelahannya.

Untuk mengembalikan kejayaan Danau Toba sebagai kunjungan wisata terkemuka, maka pemerintah provinsi,kabupaten dan kota disekitar Danau Toba harus segera melakukan dialog-dialog kepariwisataan dengan melibatkan komunitas masyarakat tertentu dan tokoh-tokoh masyarakat (terutama disekitar wilayah yang dilalui dalam dua jalur yang disebutkan diatas), agar terjadi synergi untuk melaksanakan program kepariwisataan di Sumatera Utara ini. Pariwisata mampu membuka peluang-peluang ekonomi masyarakat terutama masyarakat kelas bawah.

Semoga pemerintah Sumatera Utara beserta pemerintah Kabupaten dan Kota yang ada didaerah ini bersama-sama dengan Masyarakat Sumatera Utara segera menyadari kekeliruannya selama ini yang mensia-siakan kekayaan yang dijanjikan Danau Toba. Ayo bersama-sama kita benahi danau Toba kita demi kesejahteraan rakyat Sumatera Utara, demi kejayaan Indonesia negeri anugerah Illahi ini.



http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2011/11/15/danau-toba-kekayaan-yang-disia-siakan/

suku batak - Jadikan LTRM Jadikan Danau Toba Wisata Bertaraf Internasional Danau Toba Wisata Bertaraf Internasional

(suku batak) [Informasi seputer batak Toba, Pakpak, Karo, Simalungun, Angkola, Mandailing dan Wisata Danau Toba] LTRM Jadikan LTRM Jadikan Danau Toba Wisata Bertaraf Internasional Danau Toba Wisata Bertaraf Internasional

Pangururan, Sumut, 14/12 (ANTARA) – Forum Lake Toba Regional Management (LTRM) akan menjadikan potensi pariwisata yang dimiliki Danau Toba di Sumatera Utara sebagai tujuan wisata bertaraf internasional.

“Danau tropis yang sangat indah pada jalur khatulistiwa berukuran panjang 100 kilometer dan lebar 30 kilometer itu akan dijadikan sebagai tujuan wisata bertaraf internasional,” kata Kabag Humas Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Samosir, Gomgom Naibaho di Pangururan, Rabu.

Dikatakannya, forum yang bergerak dalam empat substansi tersebut, yakni pariwisata, agribisnis, usaha mikro kecil dan menengah serta transportasi perhubungan telah melaksanakan lokakarya di Hotel Niagara Parapat Kabupaten Simalungun pada Selasa (13/12) dihadiri Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sapta Nirwandar.

Forum yang diketuai Bupati Samosir Mangindar Simbolon yang menawarkan empat kesepakatan tersebut direspon positif oleh Sapta Nirwandar.

Gomgom menyebutkan, sejumlah kabupaten/kota di kawasan Danau Toba yang tergabung dalam LTRM terus melakukan kerja sama melalui terobosan-terobosan baru dengan kesepakatan untuk menobatkan danau vulkanik terluas di dunia tersebut sebagai daerah tujuan wisata utama.

Memang, kata dia, gagasan-gagasan yang telah dicanangkan LTRM perlu didukung percepatan pengembangannya, sebab Kawasan Pengembangan Pariwisata Nasional (KPPN) Danau Toba-Medan sangat potensial sebagai Destinasi Pariwisata Nasional (DPN).

“Danau Toba yang sudah tersohor di seluruh dunia itu harus segera dibenahi dan dipromosikan dengan sistem pemasaran yang lebih baik dan luas,” ujar Gomgom.

Dalam kesempatan itu, Sapta Nirwandar menyebutkan, daya tarik wisata Danau Toba cukup banyak, mulai dari potensi alam, budaya, kesenian, kultur, kuliner, souvenir dan lainnya.

Oleh karena itu, katanya, Danau Toba sebagai destinasi pariwisata harus mewujudkan fasilitas pariwisata dan daya tarik wisata.

Kabupathttpen/kota se-kawasan Danau Toba harus terpadu dan terintegrasi secara nasional maupun internasional demi memajukan aksesibilitas sebagai dukungan transportasi, pemberdayaan masyarakat dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

“Forum LTRM harus mampu mengambil langkah konkrit dan terukur serta hasilnya dapat langsung bermanfaat bagi masyarakat,” kata Sapta. ***5***
(T.pso-219)
(T.PSO-219/C/M034/M034)
http://www.antarasumut.com/berita-sumut/ltrm-jadikan-danau-toba-wisata-bertaraf-internasional/
L

suku batak - Danau Toba layak jadi objek wisata nasional

(suku batak) [Informasi seputer batak Toba, Pakpak, Karo, Simalungun, Angkola, Mandailing dan Wisata Danau Toba]
Friday, 16 December 2011 01:22  
Danau Toba layak jadi objek wisata nasional
WASPADA ONLINE

SAMOSIR - Potensi pariwisata danau Toba sangat layak untuk dikembangkan menjadi Destinasi Pariwisata Nasional (DPN), karena daya tarik wisata yang dimilikinya cukup banyak, mulai dari potensi alam, budaya serta kesenian yang unik dan khas.

"Untuk menjadikan danau Toba sebagai objek tujuan wisata bertaraf nasional, danau vulkanik terluas di dunia tersebut perlu segera dibenahi dan sistem pemasarannya harus ditata lebih baik," kata Kabag Humas Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Samosir, Gomgom Naibaho di Pangururan, hari ini.

Bahkan kata dia, daya tarik wisata yang dimiliki danau tropis terindah pada jalur khatulistiwa berukuran panjang 100 kilometer dan lebar 30 kilometer itu, meliputi berbagai unsur menarik dengan latar belakang sejarah yang unik, hingga cukup layak dikembangkan sebagai tujuan wisata bertaraf international.

Untuk itu, menurutnya, potensi pariwisata danau Toba harus lebih gencar dipromosikan melalui event-event nasional maupun internasional guna menarik wisatawan mancanegara, sekaligus pengembangan wisata daerah yang tentunya akan berdampak pada peningkatan penghasilan para pelaku pariwisata, terutama masyarakat setempat.

Sebab, kata juru bicara Pemkab Samosir tersebut, sektor pariwisata sendiri mampu menciptakan dampak ekonomi multiganda, yakni dampak langsung dan tidak langsung, ikut membuka peluang bagi tumbuhnya usaha serta peran masyarakat lokal dalam sektor kepariwisataan.

Oleh karena itu, lanjutnya, dalam mewujudkan danau Toba sebagai objek tujuan wisata, fasilitas infrastrukturnya perlu dibenahi, hingga tercipta daya tarik pariwisata melalui aksesibilitas sebagai dukungan transportasi, pemberdayaan masyarakat dan peningkatan kualitas SDM.

Sebelumnya, dalam lokakarya kerjasama antar daerah se-kawasan danau Toba di Parapat, Selasa (13/12), Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sapta Nirwandar menyebutkan, daya tarik wisata Danau Toba cukup banyak, mulai dari potensi alam, budaya, kesenian, kultur, kuliner, souvenir dan lainnya.

Oleh karena itu, katanya, pihak Pemerintah provinsi Sumut serta Kabupaten/kota se-kawasan Danau Toba harus dapat bersama-sama secara terpadu untuk memajukan industri pariwisata, karena muaranya demi kesejahteraan masyarakat.

"Pemerintah pusat dan pemerintah daerah, terutama yang dekat dengan kawasan Danau Toba, akan merevitalisasi serta memperkuat ekistensi danau Toba agar tetap menjadi tujuan wisata bertaraf nasional dan internasional," katanya.



http://waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=227236:danau-toba-layak-jadi-objek-wisata-nasional&catid=66:pariwisata&Itemid=50

suku batak - Segera Benahi Destinasi Pariwisata Danau Toba

(suku batak) [Informasi seputer batak Toba, Pakpak, Karo, Simalungun, Angkola, Mandailing dan Wisata Danau Toba]
Segera Benahi Destinasi Pariwisata Danau Toba
Rabu, 14 Desember 2011 | 8:35

[PARAPAT] Kawasan Pengembangan Pariwisata Nasional (KPPN) Toba-Medan sangat potensial untuk dikembangkan sebagai Destinasi Pariwisata Nasional (DPN). Oleh karena itu, wisata Danau Toba di Sumatra Utara (Sumut), harus segera dibenahi dengan adanya sistem pemasaran yang lebih baik dan luas lagi.

Hal itu dikatakan Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Wamenparekraf) Sapta Nirwandar dan Bupati Samosir Mangindar Simbolon dalam Forum Lake Toba Regional Management (LKRM), sebuah lokakarya Kerjasama Antar Daerah Sekawasan Danau Toba di Parapat, Sumut, Selasa (13/12).

Sapta menjelaskan begitu banyak daya tarik wisata Danau Toba mulai dari potensi alam, budaya, kesenian, kultur, kuliner, souvenir dan lainnya. Oleh karena itu Danau Toba sebagai destinasi pariwisata harus mewujudkan fasilitas pariwisata dan daya tarik wisata. Maka Sumut harus terpadu dan terintegrasi nasional maupun internasional demi memajukan aksesibilitas sebagai dukungan transportasi, pemberdayaan masyarakat, peningkatan kualitas SDM dan fasilitas yang memadai.

”Komitmen kami sebagai pemerintah pusat dan pemda terutama yang dekat dengan kawasan Danau Toba, bersama-sama merevitalisasi dan memperkuat Danau Toba tetap menjadi destinasi yang berkualitas nasional dan internasional. Ada 11 kabupaten dan kota yang harus mendukung untuk potensi kepariwisataan,” ujarnya di Parapat, Sumut, Selasa (13/12) yang dihadiri oleh 9 bupati dan 2 walikota kawasan Toba.

Sebagai penghasil devisa ke-4 dan keluarnya Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan (Ripanas) 2010-2025, pemerintah mencari terobosan pada wisata Toba agar berlangsung tidak terlalu lama. MP3EI juga memetakan akses utama untuk ke Toba karena semakin banyak mobil dan perekonomian yang semakin hidup

Sapta menjelaskan, semua hal itu ada pada program 2012 yang memerlukan lobi dan tekanan untuk mengingatkan  kesiapan daerah yang berkaitan dengan pariwisata seperti hotel, jalan-jalan daerah dan fasilitas yang ada. Begitu juga SDM yang profesional dan masyarakat yang turut serta membangun didalam karena ujungnya untuk kesejahteraan masyarakat.

Hal itu dikarenakan pariwisata sendiri menciptakan dampak ekonomi multiganda yaitu dampak langsung, tak langsung, ikutan, yang memberi peluang bagi tumbuhnya usaha dan peran masyarakat lokal dalam sektor kepariwisataan.

”Toba harus dipromosikan dengan penciptaan event-event nasional dan internasional demi menghidupkan wisata daerah dan dapat menarik wisatawan mancanegara dan lokal. Kalau perlu percepat adanya event karena dengan adanya event membuat tergerak orang berdatangan dan menciptakan infrastruktur,” jelasnya.

Untuk itu program percepatan pariwisata adalah tata kelola destinasi (DMO) pariwisata Danau Toba, pengembangan desa wisata dan PNPM Mandiri. Maka perlu disepakati bersama sebagai action plan program quick win dan strategis yaitu aksesibilitas, bandara, fasilitas pariwisata, destinasi, pemasaran, MICE dan SDM, baik jangka pendek, menengah, panjang dan penanggung jawab setiap program.

Bupati Samosir Mangindar Simbolon berharap, Danau Toba dan Samosir bisa menjadi tempat wisata yang banyak dikunjungi wisman dan wisnus, sehingga menjadi ikon dari Sumatra Utara. Hal itu dikarenakan pariwsata mempunyai daya dorong yang ampuh. Para bupati dan walikota kawasan Danau Toba dan sekitarnya sepakat untuk adanya penjualan paket-paket wisata baik didalam negeri maupun luar negeri.

”Ini adalah Forum LTRM yang inginkan adanya kebersamaan keinginan dan mempunyai suatu visi kedepan bersama membangun kembali pariwisata Danau Toba. Untuk itu kita memerlukan penciptaan event-event baru dan semangat kebersamaan. Tentunya semua ini harus dikemas secara baik, terkoordinasi, terpadu dan persiapan yang matang. Untuk itu kami tidak akan mensia-siakan event-event kedepannya dengan promosi dan pemberitaan yang luas,” ujarnya.

Ia juga mengusulkan adanya deregulasi, perda-perda yang tidak kondusif dengan program aksi, revitalisasi kelembagaan dan koordinasi. Selain itu perlunya insentif dan dukungan fasilitas antar daerah seperti destinasi, paket wisata tur travel, daya tarik wisata buatan seperti museum, diorama dan lainnya. [H-15]



Segera Benahi Destinasi Pariwisata Danau Toba

suku batak - Kapal Restoran Terapung Berkeliling Danau Toba

(suku batak) [Informasi seputer batak Toba, Pakpak, Karo, Simalungun, Angkola, Mandailing dan Wisata Danau Toba]
Kapal Restoran Terapung Berkeliling Danau Toba
Posted March 23, 2011 by maskalsaintek13 in wisata.

MEDAN (SIB) – Rombongan tour operator dari biro-biro perjalanan wisata ternama dan para wartawan Singapura berkunjung ke TB Silalahi (TBS) Center, Balige hari Selasa (13/5). Menumpang pesawat Silk Air jenis Boeing 737, mereka mendarat langsung di Bandara Silangit, Siborong-borong. Ini momentum untuk menghidupkan kembali pariwisata Sumut, khususnya kawasan Danau Toba.

Selain mengunjungi museum Batak dan perkampungan Batak di TBS Center, para tour operator itu juga direncanakan berkeliling melihat obyek-obyek wisata di sekitarnya seperti Hutaginjang sebagai salah satu pemandangan terindah di dunia, Pulau Samosir hingga objek wisata Salib Kasih dan tempat pemandian air belerang yang ada di Tarutung.

Hal itu disampaikan Robert Njo, staf khusus anggota Dewan Pertimbangan Presiden Letjend (Purn) DR TB Silalahi kepada wartawan di Medan, Sabtu (10/5). Seperti diketahui, pendirian TBS Center adalah bentuk perhatian TB Silalahi melestarikan warisan budaya atau heritage Batak Toba agar tidak hilang ditelan jaman

“Sejalan dengan itu, pak TB Silalahi berpikir menjadikannya TBS Center sebagai obyek wisata agar dikunjungi masyarakat lokal dan turis-turis mancanegara. Hal ini supaya pembiayaan program pelestarian budaya dan perawatan TBS Center itu bisa mandiri. Soalnya pak TB juga tetap menganggarkan subsidi besar untuk anak-anak SMU Yayasan Soposurung dan untuk pengembangan dan penelitian pertanian di bona pasogit,” ujar Robert.

Menyadari kondisi kepariwisataan di kawasan Danau Toba yang kian sepi, TBS Center bekerjasama dengan Pemkab di dataran tinggi Tapanuli, Badan Pariwisata Sumatera Utara (Bawisda) dan ASITA atau assosiasi biro perjalanan wisata Sumut memikirkan program bersama untuk menghidupkan kembali industri pariwisata Danau Toba.

Para tour operator diharapkan segera membuat paket wisata untuk dijual ke masyarakat Singapura maupun negara-negara tetangga, bekerjasama dengan para biro perjalanan wisata Sumut. Para jurnalis Singapura itu pun diharapkan membantu mempromosikannya.

“Sebagaimana diketahui, Singapura merupakan kota transit paling ramai dikunjungi berbagai Negara di dunia. Para tour operator itu nantinya akan mengalihkan turis mancanegara yang berkunjung ke Singapura untuk terbang ke Sumut,” ujarnya.

Kapal restoran terapung

Dalam waktu dekat, TBS Centre akan mengoperasikan kapal mewah yang disulap jadi restoran terapung. Kapal itu, kata Robert, nantinya akan membawa para turis mancanegara maupun domestik; termasuk para pejabat asal Jakarta; mengitari kawasan Danau Toba sambil menikmati jamuan makan di atas kapal.

TB Silalahi mengharapkan, seluruh lapisan masyarakat dan pemerintah daerah mendukung. Karena sektor pariwisata memberi dampak luas (multiplier effects) bagi perekonomian masyarakat.

“Contoh, pendapatan Kota Las Vegas di Amerika Serikat, Singapura dan Malaysia dari kompleks perjudian sebenarnya hanya menyumbang 20 persen sebagai devisa negara yang dirasakan masyarakat. Yang lebih banyak adalah pariwisata sebesar 80 persen. Kalau turis ramai, jasa taksi, angkot, tingkat hunian hotel, restoran, para pedagang, seniman dan lain-lain akan bergeliat. Belum lagi komoditi pertanian daerahnya akan bergairah dengan meningkatnya pasokan makanan ke hotel dan restoran,” paparnya.

Jumlah wisatawan merosot tajam

Untuk itu, di kawasan Danau Toba, harus tersedia akomodasi yang bersih. Sarana jalan diperbaiki. Dan Bandara Silangit akan dikembangkan lagi, terutama terminal penumpangnya. “Prinsip pariwisata itu jangan susah ditempuh dan sebaiknya dekat dengan Bandara,” katanya.

TB Silalahi akan membicarakan masalah pariwisata Sumut dengan Menteri Pariwisata dan Kebudayaan. Apalagi menurut informasi dari masyarakat pariwisata Sumut, provinsi ini tidak lagi masuk dalam lima kota tujuan atau destinasi pariwisata di Indonesia. Padahal, sebelumnya, Sumut merupakan daerah paling ramai dikunjungi turis di Indonesia setelah Bali.

“Informasi kita dengar, tahun-tahun lalu jumlah wisatawan ke Sumut rata-rata 500 ribu per tahun. Sekarang turun jadi rata-rata 150 ribu orang per tahun. Tapi itu pun masih di atas Jogjakarta. Tapi kenapa Sumut tidak masuk dalam lima kota destinasi pariwisata. Masalah ini akan dibicarakan pak TB khusus dengan Menteri Pariwisata,” ujarnya.


sumber : http://tobadreams.wordpress.com/2008/05/14/kapal-restoran-terapung-berkeli
ling-danau-toba/
http://paristakal.wordpress.com/2011/03/23/kapal-restoran-terapung-berkeliling-danau-toba/

suku batak - Toba, Kecantikan Alami Danau Terbesar Indonesia

(suku batak) [Informasi seputer batak Toba, Pakpak, Karo, Simalungun, Angkola, Mandailing dan Wisata Danau Toba]
Destinasi Unggulan 2012
Toba, Kecantikan Alami Danau Terbesar Indonesia
Selasa, 17 Januari 2012 - 19:15 wib
Mutya Hanifah - Okezone


DANAU Toba merupakan danau vulkanik terbesar di Indonesia, bahkan Asia Tenggara. Salah satu keunikannya karena di tengah- danau terdapat sebuah pulau, dinamakan Samosir. Tak mengherankan bila Danau Toba menjadi destinasi wisata unggulan 2012 oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).

Pada dua tulisan sebelumnya, okezone sudah mengulas keindahan panorama Pangandaran dan Sabang yang menjadi bagian dari 15 destinasi wisata unggulan di 2012. Kini giliran Danau Toba.

Indonesia mempunyai banyak tempat wisata yang unik, salah satunya Danau Toba, Sumatra Utara. Danau Toba diperkirakan terbentuk sekira 73.000-75.000 tahun lalu akibat letusan gunung berapi. Dari letusan ini terbentuklah sebuah kaldera yang kemudian terisi air dan kini menjadi Danau Toba. Sementara, Pulau Samosir terbentuk akibat tekanan magma yang belum keluar.

Selain penjelasan secara ilmiah, terbentuknya Danau Toba juga diliputi cerita legenda. Dahulu, ada seorang pria yang memancing ikan di sungai. Ia kemudian berhasil mendapatkan seekor ikan mas, yang ajaibnya dapat berbicara dan memohon kepada pemuda tersebut untuk tidak memakannya.

Ikan kemudian berubah menjadi seorang wanita cantik, merekapun menikah. Tidak berapa lama, pernikahan keduanya dikarunia seorang anak, dan wanita tersebut meminta suaminya berjanji untuk tidak pernah menyebut kepada anaknya bahwa ia adalah anak ikan.

Namun ternyata, suatu hari ia kelepasan menyebut anaknya adalah anak ikan. Wanita tadi menyuruh anaknya berlari ke gunung, memanjat pohon tertinggi. Saat itu juga, petir muncul dan menyambar, kemudian terjadi hujan besar hingga sungai meluap. Wanita tadi kembali menjadi ikan mas, kemudian air sungai meluap itulah disebut Danau Toba, sedangkan gunung tempat anak tadi berlari menjadi Pulau Samosir di tengah-tengah danau.

Kecantikan dan keunikan alam Danau Toba serta Pulau Samosir menjadikannya salah satu tempat wisata penting di Indonesia, terutama di Sumatra Utara yang selalu ramai dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara.

"Danau Toba memiliki pemandangan yang indah, apalagi di sekitarnya terdapat banyak penginapan dan hotel dengan harga dan tipe yang beragam," tutur Matthew (22) seorang wisatawan yang sempat berkunjung saat dihubungi okezone, Selasa (17/01/2012). "Biasanya, saya memilih untuk menginap di salah satu hotel di Parapat, dengan tarif Rp300 ribu per malam sudah dapat kamar nyaman ber-AC," lanjutnya.

Dari Parapat yang terletak di tepi Danau Toba, wisatawan dapat menyeberang ke Pulau Samosir menggunakan kapal ferry. "Dari Parapat ke Pulau Samosir dapat menggunakan dua jalur, jalur darat dan jalur air. Namun jalur darat sangat jauh, sedangkan menyeberang menggunakan kapal ferry hanya butuh waktu 30-45 menit saja," tambahnya.

Apalagi, dari kapal ferry wisatawan dapat dengan santai menikmati pemandangan indah di sekitar Danau Toba. "Biaya menyeberang dari Parapat ke Tomok di Pulau Samosir hanya Rp7.000 per orang," lanjutnya.

Setelah sampai di Samosir, wisatawan biasanya akan menuju ke Tuk Tuk, kota terbesar di Pulau Samosir. Di sini terdapat tempat-tempat wisata seperti komplek makam Raja Sidabutar dan komplek rumah tradisional Batak Samosir. Ada pula danau di atas danau, yaitu Danau Sidihoni dan Danau Aek Natonang. Bagi wisatawan yang ingin bermalam di Pulau Samosir, juga tersedia banyak penginapan dengan harga beragam.

Kembali ke Parapat juga tak kalah menarik. "Di Parapat ada atraksi wisata Batu Gantung, sebuah batu yang menyerupai tubuh seorang gadis yang seolah-olah menggantung di dinding tebing di tepi Danau Toba," kata Tupa (24), seorang warga Parapat yang dihubungi okezone secara terpisah.

Menurut cerita masyarakat setempat, batu tersebut adalah seorang gadis yang menjelma menjadi batu karena ingin bunuh diri. "Batu ini ramai dikunjungi wisatawan karena penasaran ingin melihat batu yang berwujud seperti manusia," tuturnya.

Pemandangan Danau Toba yang indah memang menjadi daya tarik utama kawasan wisata ini. "Sayang, di sini kurang banyak atraksi wisata selain wisata alam," ujar Matthew. "Perjalanan yang ditempuh dari Kota Medan ke Parapat juga cukup jauh, mungkin seandainya dibuat bandara di dekat Parapat akan dapat lebih memudahkan wisatawan," harapnya.

Perjalanan dari kota Medan ke Parapat memakan waktu empat jam perjalanan, dengan bus maupun mobil pribadi. "Selain itu, sebaiknya juga semakin diperbanyak resor-resor di sekitar Danau Toba agar semakin banyak pilihan akomodasi untuk wisatawan," tutupnya.

Danau Toba masuk dalam 15 destinasi wisata unggulan 2012 yang dirilis Kemenparekraf. Selain Danau Toba, 14 destinasi lainnya adalah Sabang, Kota Tua-Jakarta, Tanjung Putting, Bromo-Tengger-Semeru, Batur-Bali, Rinjani, Toraja, Derawan, Raja Ampat, Bunaken, Komodo-Kelimutu-Flores, Wakatobi, dan Borobudur.(ftr)



http://travel.okezone.com/read/2012/01/17/408/558824/toba-kecantikan-alami-danau-terbesar-indonesia

suku batak - TANAH BATAK dan TANAH TUHAN

(suku batak) [Informasi seputer batak Toba, Pakpak, Karo, Simalungun, Angkola, Mandailing dan Wisata Danau Toba]
Asal Mula Kata Samosir
TANAH BATAK dan TANAH TUHAN


Pelayaran orang Mesir kuno ke berbagai belahan dunia telah diketahui bermula sekitar 4000 tahun yang lalu. Setidaknya berbagai literatur dan bukti-bukti sejarah telah mengarah kepada adanya pelayaran kuno yang bahkan telah sampai ke benua Amerika beberapa abad sebelum ditemukan oleh Colombus.

  Para arekeolog telah menemukan sisa-sia kapal berusia 4000 tahun, kapal tertua yang menjelajahi lautan dunia, di goa-goa dekat Laut Merah. Keenam goa buatan manusia itu digali di Wadi Gawasis, sekitar 13 mil (21 Kilometer) selatan pelabuhan Safaga. Kapal itu mungkin merupakan salah satu dari beberapa kapal yang digunakan Ratu Mesir Hatshepsut untuk ekspedisi perdagangan ke selatan Laut Merah pada sekitar 1500 SM.

Beberapa benda ditemukan seperti papan-papan dan kayu-kayu dek, dayung, kotak-kotak kargo, jangkar-jangkar batu, pot-pot tembikar, dan gulungan tali yang masih utuh di dalam gua. Kondisi papan kayu dan artefak yang lain tersebut mengindikasikan bahwa orang-orang Mesir tampaknya membawa kapal-kapal itu dalam bentuk kepingan sejauh 90 mil (145 kilometer) dari padang pasir terbuka menuju Laut Merah, di mana kemudian kapal tersebut dirakit menjadi sebuah kapal yang utuh.

Huruf hieroglif pada pot tembikar dari goa tersebut memperlihatkan detail ekspedisi perdagangan ke Punt. Punt atau yang diartikan Tanah Tuhan, merupakan pusat perdagangan yang misterius dari mana orang-orang Mesir memperoleh dupa (kemenyan) dan barang-barang berharga lainnya.

Para akademisi bertahun-tahun memperdebatkan letak Punt serta bagaimana orang Mesir pergi dan pulang dari tempat yang menjadi “dongeng” itu. Inilah yang menjadi masalah? Di manakah Punt itu sebenarnya? Bila kita melihat bahwa tujuan pelayaran tersebut adalah mencari dupa, bukankah dari dulu kala tempat muasal dupa dan kemenyan adalah di tanah Batak. Apakah Punt tersebut adalah Pancur, Pansur atau Fansur atau yang disebut oleh orang Cina dengan istilah P'o-lu atau P'o-lu-shih??? Dari manakah Ptolemy menemukan Barus, Tanah Batak, di abad ke-2 SM, kalau bukan dari tradisi berlayar bangsa Mesir sejak zaman kuno?

Dalam tulisannya La Cola del Dragón, Paul Gallez mengemukakan sebuah perkiraannya yang menjelaskan pelayaran kuno ke tanah yang jauh yang sampai sekarang masih misterius. Sebuah pelayaran yang dikatakan menuju Tanah Punt (Richard Hennig, Terrae Incognitae, 4 vols, Leiden, Brill 1950, in vol. I, pages 5-13).

Inilah sebuah pelayaran yang pernah dikenal dalam sejarah (mungkin saja sebelumnya ada) yang dikirim oleh Dinasti kelima Fir’aun, dalam pemerintahan Sahure sekitar 2550 SM. Kapal-kapalnya dikatakan membawa kembali kemenyan (dupa), myrrh, emas, perak, kayu-kayu berharga (meranti? yang menjadi andalan tanah Batak) dan para budak, dari Punt dan tanah-tanah dan pulau di sekitarnya.Walaupun begitu, tidak semua barang-barang tersebut didapatkan dari Punt, ada beberapa nama yang disebutkan dalam perjalanan tersebut.

Dinasti Fir’aun dari pemerintahan Asa (Isei) mengulangi ekspedisi Sahure, dan pada tahun 2400 SM dia juga mengirimkan armada lautnya ke Punt. Salah satu putri kaisar dinasti yang keenam tersebut dimasukkan ke peti jenazah untuk dibawa ke Tanah Kematian, bibirnya diwarnai dengan logam keputihan, sebuah benda yang benar-benar belum dikenal di Mesir dan negara-negara tetangganya. Batu yang berada di pusaran Knemhopet, seorang nakhoda dari pulau Elephantine yang telah melakukan sebelas kali perjalanan ke Punt, mempunyai penanggalan yang sama dengan periode perlayaran tersebut (Paul Herrman; La aventura de los primeros descubrimientos, Labor Encyclopaedia, 1967).

Selama pemerintahan Dinasti yang kesembilan, Fir’aun Seanjkare mengirimkan beberapa ekspedisi ke tanah misterius tersebut dengan keberhasilan yang sama. Perjalanan yang paling berhasil dan paling terkenal adalah yang diorganisir oleh Ratu Queen Hatshepsut (kadang-kadang dipanggil Hacheput, Hatcheposut, Huschpeswa, Hatashopsitu, Hachepsowe, Hatasuput and Hatscheposut, 1501-1482 SM) yang diabadikan dalam tulisan di kuil Deir-el-Bahari. Kuil ini dibangun atas prakarsa Ratu di Thebes untuk mengenang jasa-jasa Amen-Ra.

Kekuatan utama dari ekspedisi Ratu terbuat dari lima kapal raksasa untuk ukuran saat itu dengan tiga puluh pelaut per kapalnya. Mereka berlayar menuju ke selatan Laut Merah dan menempuh waktu selama tiga tahun.

Salah satu inskripsi di kuil Deir-el-Bahari mengemukakan: “Penduduk di sana bertanya: Bagaimana kalian bisa sampai ke sini yang belum diketahui oleh manusia? Bagaimana kalian terbang ke sini melalui langit atau apakah kalian sampai ke sini melalui Samudera Luas dari dari arah Tanah Tuhan?” (Richard Hennig: Terrae Incognitae, 4 vols, Leiden, Brill 1950, I, 5, Ophir).

Diyakini bahwa penduduk yang bertanya tersebut adalah penduduk Benua Amerika. Sementara Samudera Luas yang dimaksud adalah Samudera Pasifik dan tanah yang dilalui mereka atau Tanah Tuhan yang dimaksud adalah sebuah daerah sebelum Samudera Pasifik yang menjadi pusat perdagangan saat itu yakni Barus.

Untuk sekedar diketahui, Benua Amerika khususnya peradaban Maya telah melakukan kontak hubungan sejak 4000 tahun yang lalu dengan peradaban Batak yang ditunjukkan dengan adanya transfer teknologi pembuatan kertas dari kulit kayu dari Bangsa Batak ke Bangsa Maya.

Dari legenda kehidupan Ramses IV dari Harris Papyrus di British Library, Ramses III diketahui mengirimkan ekspedisi terakhirnya dalam jumlah besar sekitar 10.000 orang ke Punt sekitar 1180 SM. Sementara itu ekspedisi yang paling terkenal ke Barus terjadi pada sekitar abad ke-2 M oleh Ptolemy.

Para ahli dari Mesir tidak pernah sepakat mengenai makna dari Tanah Punt tersebut. Ada yang mengatakan bahwa itu adalah Eritrea, Somalia, Zimbabwe, Hadramaut atau India. Tapi melihat dari lamanya berlayar dan muatan-muatan yang mereka bawa yang dimaksud Punt tersebut kemungkinan besar adalah Barus yang juga dikenal dengan nama Pancur yang merupakan penghasil satu-satunya kemenyan dan emas sejak zaman kuno. Kemungkinan besar pula, dari Barus mereka kemudian melanjutkan perjalanan ke timur melewati Samudera Pasifik sampai ke Benua Amerika yang dihuni oleh Bangsa Maya.

Orang Libya-Mesir Di Amerika Kuno

Pelayaran-pelayaran Dinasti tersebut di atas juga menjadi sangat menarik dengan keberadaan beberapa manuskrip di Benua Amerika, yang menunjukkan adanya pelayaran kuno yang sangat berhasil dari Mesir (Afrika) ke Amerika melalui Nusantara (Barus atau Punt) melewati Samudera India dan Pasifik.

Paul Gallez, menjelaskannya dalam Predescubrimientos de América (Instituto Patagónico, Bahía Blanca 2001, p 52 onwards), yang mengatakan bahwa pada tahun 1976, Barry Fell (América A.C. Los primeros colonizadores del Nuevo Mundo. México, Diana 1983) telah memberikan sebuah terjemahan sebuah inskripsi yang terdiri dari tiga bahasa yang ditemukan di perkuburan di Davenport, Iowa. Inskripsi tersebut terdiri dari bahasa Mesir, Funisia dan Libya.

Batu tersebut bertanggal 800 SM, dalam pemerintahan Dinasti Mesir yang ke-21 yang berpusat di Libya. Kalimat-kalimatnya menjelaskan masalah-masalah astronomi, agama dan tradisi-tradisi dengan huruf-huruf Mesir kuno. Menurut para ahli, mumi-mumi Mesir yang diawetkan dalam masa yang sama menggunakan tembakau dan kokain, dua produk khas dari Amerika. Pemumian di Mesir menggunakan berbagai bahan yang berbeda untuk masa yang berbeda, diyakini kemenyan dan kafur dari Barus juga digunakan sebagai bahan dasar untuk pemumian.

Orang-orang India Micmac dari Arcadia, Kanada, dikatakan dapat membaca tulisan-tulisan hieroglif Mesir kuno yang menunjukkan adanya hubungan antara Mesir dan Amerika zaman kuno. Misteri ini semakin menarik saat diketahui bahwa orang-orang Micmac percaya bahwa mereka menggunakan tulisan-tulisan gambar Mesir dan mereka mempelajarinya dari orang-orang Mesir. Bahkan orang-orang India Algonquin, diketahui, setiap tahun mengadakan upacara untuk menandakan perayaan kedatangan nenek moyang mereka ke Amerika dari laut seberang, namun mereka tidak tahu dari mana asal muasalnya.

Dalam bab yang lain, Fell menunjukkan sebuah inskripsi yang ditemukan di Texas, ditulis dengan bahasa Libya dengan menggunakan huruf Olgam, yang menceritakan kedatangan para pelaut dari sebuah kapal yang dimiliki oleh Raja Shishong, nama dari beberapa raja yang memerintah antara tahun 1000 sampai dengan 800 SM.

Barry Fell yakin bahwa koordinat yang ditemukan di batu prasasti yang ditemukan di Tinguiririca (34º 45´S) merupakan klaim teritorial Mesir. Prasasti tersebut ditemukan oleh Karl Stolp di sebuah gua di Andes pada tahun 1885 dan dipublikasikan pada tahun 1877 di jurnal Sociedad Científica de Chile.

Di tahun yang sama, pada bulan Oktober 1974, Barry Fell menelitik artikel Karl Stolp dengan menjelaskan kembali batu prasasti Tinguririca dan menemukan bahwa tulisan batu tersebut juga menunjukkan bahwa ekspedisi yang sama juga telah singgah di New Guinea. Fell menerjemahkannya sebagai berikut:

“Bagian selatan dari pantai dicapai oleh Mawi. Wilayah ini terdiri dari wilayah tanah pegunungan di bagian selatan, klaim kapten tersebut diwujudkan dalam bentuk proklamasi tertulis atas kepemilikan atas tanah. Armada kapal mencapai batas-batas selatan. Atas nama Raja Mesir, permaisuri dan putera mahkota, nakhoda kapal mengklaim tanah yang memanjang sekitar 4000 mil yang terdiri dari bebatuan, tanah tandus dan sampai ke atas.

Tanggal 5 Agustus, Tahun Keenam Pemerintahan Raja.”

Di saat itu, Fir’aun yang memerintah adalah Ptolemy III Evergetes, nama permaisurinya dalah Berenice dan putera mahkota adalah Fir’aun masa depan yakni Ptolemy IV Philopathor. Bahasanya menggunakan bahwa Libya, yang berhubungan dengan bahasa Mesir dan Maori Kuno; Tulisan Libya telah digunakan selama berabad-abad di Selandia Baru sampai abad ke-15 Masehi. Kemampuan Fell menerjemahkan bahasa Libya dan Maori telah membuat para ahli serius dengan temuannya ini.

Torquetum: Alat Navigasi Kuno

Torquetum adalah instrumen pintar yang dapat digunakan untuk menghitung koordinat tanpa penghitungan rumus-rumus lainnya. Alat ini disebut dengan nama “tanawa” sebelum masehi dan kemudian disebut dengan torquetum pada tahun 1492. Alat ini dapat mengukur jarak bulan dan benda-benda luar angkasa lainnya. Dengan bantuan tabel-tabel astronomi juga dapat mengukur secara kasar koordinat longitudinal.

Alat ini ditemukan di berbagai tempat di dunia. Salah satunya adalah di pantai McCluer dekat Sosora, Irian Jaya di sebuah gua yang disebut Gua Para Nakhoda. Sebuah prasasti kuno telah ditemukan di gua tersebut oleh Barry Fell pada tahun 1970. Dijelaskan bahwa pada tahun 232 SM, sebuah armada Mesir, yang terdiri dari enam kapal dengan komando Rata dan Mawi, seorang teman dari Eratosthenes, berlayar dari Laut Merah dan sampai ke pantai barat Amerika. Informasi ini disampaikan oleh Rick Sanders “Ancient navigators could have measured the longitude”, Oktober 2001, diterbitkan di 21st. Century Science & Technology Magazine. Sebuah prasasti yang berhubungan dengan yang ditemukan di Irian Jaya tersebut juga ditemukan di Tiguiririca (Cili), 34º 45´ S.

Kesimpulan

Argumen-argumen mengenai eksistensi Tanah Batak sebagai Punt atau Tanah Tuhan adalah sebagai berikut:

1. Adanya Barus atau Pancur sebagai Bandar pelabuhan kuno di tanah Batak. Barus telah diakui pernah disinggahi oleh Ptolemy di abad ke-2 M dan itu berdasarkan kepada peta yang dibuat sebelum zaman tersebut.

2. Kemenyan dan dupa, sejak zaman dahulu kala hanya ditemukan di Tanah Batak yang didapat melalui Barus. Mungkin saja kemenyan dapat ditemukan di belahan bumi lainnya, namun fakta sejarah mengatakan transaksi kemenyan yang paling lama ditemukan adalah di Barus. Dan kemenyan dari daerah ini merupakan mutu yang terbaik.

3. Di Barus juga ditransaksikan berbagai logam mulia dan didukung oleh adanya tambang-tambang emas kuno di banyak tempat di Tanah Batak yang tentunya mengundang berbagai bangsa untuk datang berdagang alias membelinya.

4. Terdapat banyak literatur yang mengarah kepada dupa dan kemenyan yang di dapat dari Barus yang diperkuat oleh ketertarikan Bangsa Arab, sebagai bangsa yang paling mengenal peradaban Mesir, Romawi dan Yunani Kuno, untuk mendatangi Fansur dengan sebutan berbagai keistimewaannya.

5. Gambar Naga Padoha diyakini mempunyai kesamaan dengan salah satu gambar dalam karya Ptolemy yang menguatkan eksistensi Barus dan Tanah Batak sebagai Bangsa yang beradab sejak dahulu kala.

6. Adanya hubungan budaya antara Batak dan Maya di benua Amerika yang diperkuat dengan kesamaan budaya teknologi kertas khususnya Maya Yucatan. Yang menunjukkan adanya pelayaran Batak Kuno menuju Benua Amerika melalui Samudera Pasifik

7. Barus dan Tanah Batak merupakan tempat transit pelayaran kuno dari berbagai bangsa kuno, khususnya India dan Cina yang tidak tertutup kemungkinan dari Mesir dalam perjalanan mereka ke timur melewati Samudera Pasifik.

8. Terdapat hubungan budaya yang sangat dekat antara Bangsa Maori di Selandia Baru dengan Mesir dari budaya Libya kuno. Tulisan Libya Kuno pernah dipakai berabad-abad di Selandai baru sampai abad ke-15 M. Kemungkinan besar Bangsa Libya kuno telah lalu lalang dari Afrika menuju Selandia Baru dan titik transit kuno yang paling logis adalah Barus.

9. Tanda bukti pelayaran Kuno Mesir-Libya ke berbagai negara khususnya Amerika telah terbukti dengan temuan prasasti di Irian Jaya dan Cili. Titik-titik ini merupakan jalaur-jalur pelayaran kuno dari Afrika Utara ke Amerika melalui Nusantara selain pelayaran kuno jalur Cina yang juga banyak mengambil jalur di Nusantara Indonesia. Pelabuhan tertua di Nusantara Indonesia adalah Barus.

10. Mengapa disebut Tanah Tuhan??? Pertama karena agama-agama pagan kuno banyak menggunakan kemenyan dalam ‘berkomunikasi’ dengan tuhan-tuhan mereka, dan kemenyan hanya tumbuh di Tanah Batak. Kedua, Produk lain seperti benzoin, kapur dan lain sebagainya yang bermanfaat untuk pengobatan dan pemumian di dapat di Tanah Batak. Apakah ini dapat diperkuat bahwa hanya di Tanah Bataklah sebuah legenda manusia pertama diciptakan langsung oleh Mulajadi Nabolon, tentunya, selain dari informasi Kitab Suci, teori evolusi Darwin dan kepercayaan Sinto.

11. Di berbagai tempat sebelum masuknya Belanda, di tanah Batak juga mengenal tradisi pemumian mayat yang menandakan hubungan kultur yang sangat erat antara Batak dan Mesir kuno, sehingga misteri “Tanah Punt” semakin mudah untuk dipahami.

Mungkin cerita di bawah ini sangat mengada-ngada tapi fakta-fakta di atas sepertinya membuat cerita ini semakin menarik. Dulu, di Bonapasogit, sesama anak-anak sering saling berbagi cerita satu sama lain. Cerita-cerita yang mereka dapat dari orang tua masing-masing. Salah satu cerita tersebut adalah mengenai kedatangan pelaut Mesir ke Barus. Karena sesuatu hal, mereka tidak dapat kembali ke negerinya dan menetap di huta-huta dekat pantai. Tiga orang di antaranya berinisiatif untuk mencari tempat yang lebih nyaman.

Dari pantai mereka berjalan ke desa-desa di perbukitan dan terus menanjak ke arah timur. Setelah tiba di pegunungan sekitar Danau Toba, mereka melihat pemandangan yang sangat indah dan memutuskan untuk menetap di daerah tersebut.

Mereka mencari tempat yang sesuai yang nyaman untuk dihuni. Mereka kemudian memilih satu wilayah yang kalau dari atas dapat melihat danau mengelilingi tempat tersebut. Setelah mereka menetap di sana, barulah orang-orang Batak mengetahui bahwa tanah tersebut telah dihuni oleh tiga orang Mesir.

Ketiga Mesir tersebut akhirnya menikah dengan orang-orang yang lalu lalang dan tempat tersebut akhirnya menjadi ramai. Daerah yang ternyata adalah sebuah pulau di Danau Toba tersebut akhirnya disebut dengan Sam-Mesir. Sam adalah angka tiga yang digunakan pada zaman kuno yang berari tiga. Dan Mesir adalah nama untuk orang Mesir. Sam-Mesir yang berubah menjadi Sam-Sir berarti tanah yang dibuka dan dihuni pertama sekali oleh tiga orang Mesir. Nama Sam-sir akhirnya mengalami perubahan dan akhirnya menjadi Sam-o-sir. Huruf o yang ditengah sepertinya berguna sebagai partikel sambung seperti kata Philosophy yang berasal dari Phil-o-sophy.

Nama Samosir sendiri sekarang ini merupakan nama sebuah pulau di Danau Toba yang menjadi tujuan wisata di Parapat. Kalau dibahas, memang tidak ada arti dari Samosir dari bahasa Batak. Sama seperti beberapa nama yang juga tidak mempunyai arti seperti Toba, Dairi, Balige, dan lain sebagainya. Nama Samosir yang terkenal menjadi aneh, karena biasanya semua nama tempat di Tanah Batak biasanya mempunyai arti yang terbuat dari bahasa Batak seperti Pancur, Fansur, Dolok, Toruan, Lintong Ni Huta, Sosor Gadong, Hauagong dan lain sebagainya. Benar tidaknya cerita tersebut, tidak ada yang tahu.

addthis_url='http://batak.blogspot.com/2009/02/tanah-batak-dan-tanah-tuhan.htm
l'; addthis_title='Tanah Batak dan Tanah Tuhan'; addthis_pub='senget';



http://i-batak.weebly.com/1/post/2010/09/adat-istiadat-pernikahan-batak-di-sumatra.html

suku batak - Keunikan Geofisik Kaldera Danau Toba sebagai Potensi Geowisata

(suku batak) [Informasi seputer batak Toba, Pakpak, Karo, Simalungun, Angkola, Mandailing dan Wisata Danau Toba]
Keunikan Geofisik Kaldera Danau Toba sebagai Potensi Geowisata
2010 April 19
Oleh Agus Hendratno (Staf Pengajar Jurusan Teknik Geologi UGM)
Keindahan kawasan Danau Toba

Danau toba adalah danau terbesar di Indonesia yang terletak di Propinsi Sumatra Utara yang berjarak 176 km ke barat dari ibukota propinsi ini yaitu Medan. Danau Toba dapat dicapai dengan kendaraan roda empat dari Medan dengan jarak tempuh sekitar tiga sampai empat jam. Dengan pesawat menuju kota Medan hanya memakan waktu 40 menit dari Singapura dan 2 jam dari Jakarta, ibukota Indonesia.

Sebagai danau hasil volcano tektonik terbesar di dunia, dengan panjang danau 87 km dari baratdaya ke tenggara dan lebar 27 km, lokasi ketinggian 904 meter di atas permukaan laut dan kedalaman maksimal 505 meter, danau ini menjadi salah satu aset pariwisata yang penting bagi Indonesia. Keindahan alam Danau Toba telah tersebar ke seluruh penjuru dunia. Perairan danau yang biru, penduduk yang sangat ramah dan budaya Batak yang sangat mempesona, menarik wisatawan dari seluruh dunia dengan tujuan menikmati pemandangan Danau. Pada bagian tengah danau terdapat pulau indah yang dikenal dengan Samosir.

Berkeliling dari tepi danau hingga pulau Samosir adalah suatu petualangan agung dan sangat mengesankan bagi para pengunjung. Danau Toba meliputi luasan daerah 3,658 km2, dengan luas permukaan danau 1,103 km2. Sisa dari luasan area tersebut sekitar 43% merupakan bukit-bukit dan 30% bergunung-gunung, dengan puncak tertinggi 2,000 m di atas permukaan laut.
Lingkungan biota (flora dan fauna) yang menarik, suhu udara yang dingin dan lingkungan yang menyegarkan, udara bersih, lahan yang subur menjadikan tempat ini sebagai tempat ideal untuk tempat tinggal manusia

Tidak heran berabad-abad yang lalu nenek moyang dari Suku Batak memilihnya sebagai lokasi tempat tinggal permanen mereka. Di tempat inilah keturunan mereka berkembang menjadi lima kelompok kesukuan Batak, yakni dikenal dengan Angkola-Mandailing, Karo, Pakpak-Dairi, Simalungun dan Toba. Pulau Samosir dan tepi danau Toba menjadi lokasi perkembangan dari budaya Batak asli, yang mengandung budaya yang tinggi dari nilai sejarah dan peninggalannya, budaya dan seninya. Sesungguhnya, budaya Batak masih hidup dan dapat disaksikan di sini, yang masih terpelihara dalam format aslinya.

Posisi geografis yang unik juga terlihat karakter sumber mata pencahariannya yang penting bagi pengembangan ekonomi, yang sebagian besar diperoleh dari perairan yang bersih, sumber daya yang berlimpah-limpah dan hutan hujan tropis yang lebat. Danau Toba terletak di pusat suatu puncak topografi dengan panjang 300 km, dengan beda tinggi berkisar antara 100-1,000 m di dalam peta topografi Sumatra Utara. Puncak morfologi ini biasanya disebut Batak Tumor yang sejajar dengan arah memanjang Pulau Sumatra.

Badan air Danau Toba dengan luas 1.103 km2 yang menempati 3 area, Pulau Samosir di dalam danau mempunyai luas daratan 647 km2 dan suatu Pulau Pardapur yang lebih kecil dengan luas area 7 km2. Panjang danau adalah 87 km, dengan ukuran panjang keliling danau 294 km. Area cekungan danau dikelilingi oleh batuan vulkanik, dengan tinggian yang berkisar antara 400 hingga 1200 m di atas muka air danau. Danau ini terletak pada garis lintang dan garis bujur antara 98030′ BT; 3005′ LS dan 99020 BT’; 2040′ LS.

Batas perairan Danau Toba meliputi suatu area seluas 3,704 km2 yang terbagi ke dalam lima Kabupaten, yaitu. Kabupaten Tapanuli Utara, Toba Samosir, Simalungun, Dairi dan Karo. Di wilayah Danau Toba, terdapat suatu area untuk tujuan konservasi yang berfungsi sebagai resapan air, pengendalian polusi udara, pencegahan erosi lahan dan stabilisasi lahan.

Kabupaten Toba Samosir yang terdiri dari duabelas kecamatan merupakan daerah paling besar dari seluruh batas perairan (64%), yang diikuti oleh Kabupaten Tapanuli Utara empat kecamatan (21%), lima kecamatan di Kabupaten Simalungun (10%), Kabupaten Karo satu kecamatan (3%) dan satu kecamatan di Kabupaten Dairi (2%), (gambar 1).

Duapuluhtiga (23) daerah yang terbagi dalam lima (5) kabupaten telah termasuk dalam area perairan danau Toba, yaitu antara lain, 1)Sianjur Mula-mula, Harian, Simanindo, Pangururan, Palipi, Onanrunggu, Onanrunggu Timur, Lumbanjulu, Porsea, Silaen, Laguboti dan Balige di Kabupaten Toba Samosir; 2)Silimakuta, Purba, Dolok Pardamean, Sidamanik dan Girsang Sipanganbolon di Kabupaten Simalungun; 3)Doloksanggul, Muara, Lintongnihuta and Siborong-borong of Kabupaten Tapanuli Utara; 4)Merek di Kabupaten Karo; dan 5)Sumbul di Kabupaten Dairi.

Kegiatan kepariwisataan
Cekungan Danau Toba memberikan suatu kontribusi cukup besar dalam pengembangan ekonomi lokal, daerah, maupun ekonomi nasional. Keindahan alam dan kesempurnaan budaya Batak telah menimbulkan kegiatan pariwisata yang menyediakan manfaat ekonomi kepada masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Letak geografis Danau Toba yang unik memiliki sejumlah potensi ekonomi yang dapat digunakan untuk kepentingan luas masyarakat, terutama sebagai sumber air bersih yang besar, dan hutan tropis yang dapat menarik minat dari investor untuk menanam modal di daerah ini bagi pengembangan kepariwisataan yang ramah lingkungan.

Dari segi estetika, daya pikat Danau Toba terdapat dalam kecantikan alamnya yang sangat terkenal di dunia internasional. Dari sudut manapun danau tersebut menggiurkan dan dapat membuat setiap pendatang seperti yang sedang dibuai oleh perasaan sangat gembira. Kecantikan dari tiap sudut Danau Toba, dengan bukit hijau yang merias Pergunungan Bukit Barisan yang diselimuti dengan air terjun yang menghiasinya membuat wisatawan yang datang ke kawasan Toba dapat menyaksikan atraksi alam yang sangat agung. Pulau Samosir dan garis pantai Danau Toba menjadi pusat kelahiran Budaya Toba Batak dan rumah peninggalan budaya dan historis yang tidak ternilai harganya. Di tempat ini, budaya Batak masih kental dan tersaji dalam bentuk aslinya. Modernisasi telah menyebabkan migrasi penduduk dan saat ini ada banyak penduduk Batak yang tinggal di luar daerah itu dibanding yang tinggal di sekitar tempat itu atau di sekitar Danau Toba. Meskipun demikian, kota asal ini tetap merupakan identitas mereka sebagai Batak kendati mereka tinggal di tempat jauh sekali. Total penduduk dari lima daerah wisata utama Danau Toba terdiri dari Tomok/ Simanindo, Balige, Porsea, Ajibata dan Parapat adalah 102,477 orang atau 17% dari jumlah penduduk seluruhnya yang tinggal di batas perairan Danau Toba. Kegiatan pariwisata di sekitar kawasan Danau Toba, telah mendorong pengembangan 168 hotel, dari yang tradisional/Batak home-stay sampai hotel bintang empat.

Keunikan geofisik dan sejarah terbentuknya Danau Toba sebagai daya tarik geowisata

Citra satelit Pulau Sumatera yang menunjukkan arah pergerakan Lempeng Australia (Australia Plete) dan Lempeng Eurasia (Eurasia Plate). Nampak, kawasan kaldera Danau Toba bersebelahan dengan Patahan Besar Sumatera (Great Sumatera Fault – GSF) (sumber: www.geology.sdsu.edu).
Geologi Danau Toba telah menjadi suatu topik yang menarik untuk dipelajari. Secara geologi, pembentukan danau ini merupakan hasil suatu aktivitas volkanik besar sepanjang zaman Kuarter atau dua setengah juta tahun yang lalu. Perlu diketahui bahwa bagian barat Pulau Sumatera merupakan sistem busur vulkanik yang memanjang dari Aceh hingga di Teluk Lampung. Busur vulkanik tersebut terbentuk oleh tumbukan dua lempeng besar yang dimulai sejak Jaman Eosen atau 65 juta tahun yang lalu. Lempeng ini adalah lempeng samudera India atau Lempeng Australia di barat-daya dan Lempeng Eurasia yang terletak di timur-laut (Gambar 2). Tumbukan lempeng ini membentuk suatu zone subduksi yang panjang dengan suatu rangkaian gunungapi sepanjang Sumatra-Jawa-Nusa Tenggara sampai ke Kepulauan Maluku. Di Sumatra mengakibatkan terbentuknya suatu patahan geser besar (transform fault) yang disebut dengan Zone Patahan Besar Sumatra ( SFZ= Sumatra Great Fault Zone). Patahan ini memiliki ukuran panjang 1700 km, tersingkap dari Teluk Lampung di bagian selatan hingga daerah Aceh di ujung utara Pulau Sumatra. Danau Toba terletak di bagian timur laut dari zone Patahan Sumatra (Gambar 3 dan Gambar 4). Sedangkan sungai Batang Toru dan Sungai Renun terletak di sepanjang patahan itu.

Dua penjelasan ilmiah yang utama mengenai sejarah geologi Danau Toba diterangkan sebagai: (a)produk satu ledakan dahsyat; atau (b)produk gabungan dari berbagai peristiwa erupsi gunungapi. Kedua hipotesis ini dibagi lagi menjadi beberapa pendapat yang lebih kecil dan penjelasan yang lebih detail. Ada perdebatan yang sengit mengenai penentuan waktu terjadinya peristiwa geologi ini, apakah kejadian itu terjadi baru-baru ini (kurang dari 75.000 tahun yang lalu) atau merupakan hasil satu rangkaian yang menyangkut proses geologi antara lain proses pembentukan kubah (up-doming), peledakan, pensesaran, sedimentasi, dan up-wrapping yang yang terjadi sejak dua juta tahun yang lalu. Keunikan geofisik dan Danau Toba adalah landsekap yang terbentuk dari erupsi super kuat, sehingga membentuk kaldera Danau Toba tersebut. Keunikan inilah yang menjadi dasar minat seseorang mengunjungi dan berpetualang di kawasan Danau Toba.

Gambar 3. Kaldera Danau toba dan Pulau Samosir, di bagian timur dari zone Patahan Besar Sumatera. (www.volcano.si.edu)
Menurut hipotesis yang dilakukan oleh van Bemmelen (1949), seorang ahli geologi dari Belanda menyimpulkan sejarah danau diawali dengan pembentukan Batak Tumor dengan bentuk oval seperti bentuk telur seluas 300 km dengan darerah 150 km, terletak di antara sungai Wampu di bagian utara dan Sungai Barumun di Selatan. Pembentukan kubah (dome) akibat suatu pengangkatan hingga 2,000 m yang ditunjukkan oleh puncak pegunungan seperti G. Sibuatan (2.457 m) di Barat Laut, G. Pangulubao (2.151 m) di timur, dan G. Surungan (2.173 m) di Tenggara, dan G. Uludarat (2.157 m) di Barat.

Van-Bemmelen (1949), mengatakan bahwa kawasan Danau Toba dikelilingi oleh kelompok batuan hasil letusan gunungapi, dan danau tersebut merupakan suatu bekas caldera volkanik yang sangat besar. Letusan abu vulkanik yang menyebabkan terbentuknya kaldera Toba, tersebar hingga wilayah Malaysia dan India, hingga jarak 3.000 km. Hal tersebut, dibuktikan dengan dijumpai abu riolit yang sama di sekitar Danau Toba dengan yang ditemukan di wilayah Malaysia dan India, bahkan di dasar lautan India Timur dan perairan Teluk Bengal.

Gambar 4. Pola patahan besar Sumatera, pola Pulau Samosir, geometri Danau Toba yang berbentuk elipsoid searah dengan memanjangnya patahan besar Sumatera (Sumatera Fault Zone : SFZ) (Knight et.al., 1986; Pdf document).

Kaldera yang berukuran (30 hingga 100 km) dan mempunyai relief dengan ketinggian hingga mencapai 1.700 m. Kaldera ini dibentuk dalam beberapa periode letusan. Letusan besar terjadi 840.000, sekitar 700.000, dan 75.000 tahun yang lalu. Letusan 75.000 tahun yang lalu memproduksi endapan Toba Muda dengan kandungan tuf (abu vulkanik berukuran sangat halus) yang tinggi.

Letusan Toba, yang diperkirakan terjadi 73.000 ± 4000 tahun yang lalu, menjadi letusan terakhir dan terbaru sebagai “supervolcano”. Bill Rose dan Craig Chesner dari Michigan Technological University menyimpulkan bahwa total jumlah material dari letusan adalah sekitar 2800 km3; dengan 800km3 ignimbrite yang mengalir di dataran dan di 2.000km3 itu jatuh sebagai abu yang diterbangkan oleh angin yang bertiup ke arah barat. Letusan yang sangat besar itu mungkin bertahan hampir dua minggu. Hanya sedikit binatang dan tumbuhan di Indonesia yang selamat, dan mungkin letusan menyebabkan suatu bagian yang luas dari kehidupan planet mati satu per satu. Ada beberapa bukti, berdasar pada mitochondrial DNA, bahwa ras manusia berkurang menjadi hanya beberapa ribu individu akibat letusan Toba. Suatu area besar yang anjlok setelah letusan akibat dimuntahkannya material letusan (material vulkanik) dalam volumen yang sangat besar dan kuat, kemudia membentuk suatu kaldera, yang terisi dengan air yang membentuk Danau Toba. Kemudian, dasar dari kaldera terangkat membentuk Samosir, suatu pulau besar di dalam danau. Pengangkatan seperti itu sering terjadi pada kaldera yang sangat besar, hal tersebut terjadi akibat tekanan keatas oleh magma. Toba merupakan caldera yang terbesar yang terbentuk di atas permukaan bumi ini (Yokohama dan Hehanusa, 1981).

Gambar 5. Peta kawasan Kaldera Danau Toba (Knight et.al.,1986), (www.volcano.md.nodak.edu.)
Menurut Knight et.al. (1986), Pulau Samosir dan Semenanjung Uluan adalah bagian-bagian dari satu atau dua kubah yang terbentuk kembali. Endapan danau di Pulau Samosir menunjukkan telah terjadi pengangkatan, kurang lebih mencapai 450 m. Pusukbukit, merupakan suatu stratovolcano kecil sepanjang garis tepi barat dari kaldera Toba, terbentuk setelah letusan 75,000 tahun yang lalu (Gambar 5). Terdapat juga solfatara yang masih aktif pada sisi utara dari gunungapi.

Setelah terjadi letusan 74.000 tahun yang lalu, mulai terbentuk kubah (dome) di dalam kaldera yang luas yaitu sebagai proses pembentukan Pulau Samosir dengan ketinggian 750 m di atas muka air Danau Toba. Endapan Tuff Toba yang muda, diperkirakan memiliki volume 2.800 kilometer kubik (km3) dan meletus sekitar 74.000 tahun yang lalu. Sebagai perbandingan letusan yang terjadi di Gunungapi Yellowstone sekitar 2.2 juta tahun yang lalu, meletuskan volume piroklastik hingga 2.500 km kubik. Volume piroklastik dari letusan termuda tersebut, menjadi letusan yang paling besar dalam seperempat abad terakhir. Aliran piroklastik menutupi suatu area sedikitnya 20.000 km2. Ketebalan endapan Tuff Muda Toba yang terdapat pada dinding kaldera mencapai ketinggian 400. Pada Pulau Samosir, endapan tuff tersebut mempunyai ketebalan hingga lebih dari 600 m. Debu volkanik menutup suatu area sedikitnya 4 juta km persegi (sekitar separuh ukuran benua Amerika Serikat). Debu volkanik juga ditemukan pada cekungan di Teluk Bengal dan di India, kurang lebih 300 miles ( 500 km) dari pulau ( 1,900 miles, 3100 km dari Toba).

Keunikan geofisik dan sejarah terbentuknya kaldera Danau Toba inilah yang dapat memunculkan apresiasi geowisata bagi siapa pun yang berkunjung ke kawasan Danau Toba. Kentalnya budaya Batak yan asli di kawasan Danau Toba ini juga dapat menimbulkan apresiasi wisatawan untuk melakukan proses pembelajaran budaya masyarakat Batak terhadap kondisi geofisik Danau Toba dari waktu ke waktu.

Referensi
Knight, M. D., Walker, G. L., Ellwood, B. B. and Diehl, J. F. 1986. Stratigraphy, palaeomagnetism, and magnetic fabric of the Toba tuffs: constraints on sources and eruptive styles. Journal of Geophysical Research 91, 355-382.
Anonym, 1989, Danau Toba (Lake Toba), Data Book of World Lake Environments, Survey of the State of World Lakes, edited by Lake Biwa Research Instituite and International Lake Environment Committee, Otsu, Japan.
Anonym, 1990, A Study of the Decline in Water Level of Lake Toba, Indonesia, a report prepared by the Overseas Development Admonistration, UK for BPPT Teknologi, Jakarta
Bemmelen, R.W. van, 1949, The Geology of Indonesia, Vol. 1a., 732 p., Governmental Printing Office, the Hague, Netherlands.
Borre, Lisa, 2000, Feasibility Study for the Lake Toba Science and Education Center, for the Lake Toba Heritage Foundation, Jakarta, Indonesia.
Hehanussa, P.E., 1981, Sejarah Geologi Tufa Toba, dalam Seminar Bendungan Asahan, Universitas Sumatera Utara, Medan.
Nontji, Anugerah, 1990, Review of the Limnology of Lake Toba, International Conference on Lake Toba, 1990, Jakarta.
Tjia, H.D. and Kusnaeny, K., 1976, An Early Quaternary Age of an Ignimbrite Layer, Lake Toba, Sumatera, Sains Malaysiana, 5, p.67-70, Kuala Lumpur.
Yokoyama, T. and Hehanussa, P.E., 1981, The Age of ‘Old Toba Tuffs’ and Some Problems on the Geohistory of Lake Toba, Sumatera, Indonesia, in Paleolimnology of Lake Biwa, Japan Pleitocene, Vol.9 p.177-186, Kyoto.
Zen, M.T. 1990, Inventory of the Toba Problems, presented at the International Toba Conference, Jakarta.

www.gefweb.org
www.geology.sdsu.edu
www.volcano.md.nodak.edu.
www.volcanolive.com
www.volcano.si.edu.
www.hsfindo.org
www.menlh.go.id
www.unesco.or.id
www.worldlakes.org



 http://geologi.iagi.or.id/2010/04/19/keunikan-geofisik-kaldera-danau-toba-sebagai-potensi-geowisata/