Rabu, 05 September 2012

Sekilas pandangan pomparan butar raja (sinabutar) dalam pesta tugu silahisabungan


Minta tanggabannya untuk masukan kepada kita semua dalam rangka mensukseskan DOA BERSAMA POMPARAN RAJA SILAHISABUNGAN dibona pasogit

By Ama Sara (Ketua Umum), on 03-12-2010 17:02

Pengantar.
Kepada saudara-saudaraku dimanapun berada (desa naualu)  melalui forum ini kami undang memberikan ide-ide dan masukannya  atau adek-adek  Butar Raja atau Sinabutar atau Dabutar dan Sidabutar yang bukan Parna, cetaklah artikel ini dan berikan kepada orangtua dan minta tanggabannya untuk masukan kepada kita semua dalam rangka mensukseskan  DOA BERSAMA POMPARAN RAJA SILAHISABUNGAN dibona pasogit Silalahi nabolak pada November 2011.

Tulisan ini hanya interpretasi saya terhadap apa yang saya lihat, apa yang saya dengar dan apa yang saya ketahui  yang mungkin saja salah, oleh sebab itu bagi mereka pribadi, kelompok dll, yang saya  sebut kurang berkenan saya mengucapkan Mohon Maaf yang sedalam-dalamnya.


Panggung Itu akan Kita Isi.

 
Amak atau tikar dan anak kunci rumah parsattian sudah diterima turpuk Butarraja dari hahadoli Sondiraja diakhir Pesta Luhutan Bolon Tugu Silahisabungan pada Minggu 21 November 2010 yang lalu, artinya Butarraja akan menjadi tuan rumah (manghobasi) pesta yang sama ditahun yang akan datang yakni 2011, lalu apa yang akan kita lakukan?


Apabila ditelisik sepuluh tahun terakhir, pesta ulang tahun Tugu Silahisabungan di Silalahi nabolak selalu diwarnai dengan perdebatan siapa ompung boru kita atau istri dari Silahisabungan, satu kelompok mengatakan boru Padang Batangari seperti yang tertulis ditugu Silahisabungan kelompok lain berpendapat boru Matanari? Persoalannya tidak sesederhana ini melainkan berkait langsung dengan bagaimana pesta itu dilaksanakan, sebab dalam pesta yang meriah tersebut ada prosesi menerima (mangalo-alo) tulang, menerima tulang adalah wajib dilaksanakan supaya syah acara tersebut. Seingat saya (penulis) pendapat yang menyatakan istri Silahisabungan boru Matanari kali pertama dilontarkan alm. Saing Sihaloho pada Pesta Bonataon Loho Raja sejabodetabek di gedung Sejahtra Jakarta tahun 2000 yang lalu. Beliau berdalih ingin menebus kesalahan masa lalu sekaligus meluruskan sejarah Silahisabungan yang nyata-nyata beliau sendiri termasuk pelakunya ketika meresmikian tugu Silahisabungan pada tahun 1981.  â€dang mambahen lutu, napatingkoshon do” demikian salahsatu penggalan kalimat beliau mengenai hal ini. Penulis sengaja tidak membahas apa alasannya mengapa boru Matanari atau boru Padang batanghari, karena pihak-pihak mempunyai argumentasi untuk menguatkan pendapat masing-masing atau debatebel. Tahun 2002 ketika Sondi Raja menyelenggarakan pesta Ulangtahun Tugu sekaligus peresmian rumah parsattian dan pelantikan pengurus Badan Pengembang Makam dan Tugu Ompu Raja Silahisabungan ada prosesi penyambutan Padangbatanghari sebagai tulang. Waktu terus berjalan diawal tahun 2003 kelompok yang menyatakan ompung Boru Silahisabungan br. Matanari semakin gencar mensosialisasikan pendapatnya  baik dibonapasogit maupun diperantauan, bahkan sebelumnya mereka sudah mendatangi huta Balna yang dipercaya  asal-muasal ”opung baru kita Pinta Haomasan boru Matanari”.



Ketika Butar Raja menjadi bolahan amak pada  pesta ulang tahun tugu tahun 2003, disepakati tidak ada prosesi menyambut tulang dari marganya ompung boru,  sebagi penggantinya diundang marga Sagala yaitu marga istri Butar Raja, yaitu anak keempat dari Raja Silahisabungan. Hal ini disepakati didalam rapat yang sangat alot, sebab Raja Turpuk di Silalahi nabolak sangat berkeinginan ada prosesi menyambut  marga Padang Batangari sebagai tulang, namun keinginan ini ditentang keras oleh ketua panitia pada saat itu Op. Tumpal dari Jakarta menyebutkan dalam rapat, santabi dihamu (maksudnya Raja Turpuk), alani namasa perbedaan pandapot taringot tulangta, dang sanggup dope hami manggokkon tulang Padangbatanghari apala tingki on alani i, hula-hula marga parsondukbolon ButarRaja ma hujou hami, ima marga Sagala.  Maka jadilah pada acara puncak yang yang disambut sebagai tulang adalah marga Sagala. Mungkin alasannya sederhana menjaga hubungan baik atau kesetiakawanan kepada haha doli punguan Loho Raja dan Tungkir Raja sejabosetabek sebab dalam setiap agenda bonataon dalam 20 tahun terakhir dan acara adat lainnya kedua haha doli ini sangat dekat dengan Butar Raja,  atau mungkin beliau mempunyai informasi yang menguatkan argumentasi alm. Saing. Akan tetapi HS dalam sambutannya yang mewakili turpuk haha/anggi doli kala itu terselip ucapan yang kurang pantas kedengarannya dengan sebutan”Langkahi dulu mayat saya kalau mau mengganti nama opung boru yang tertulis ditugu itu” sambil menunjuk kearah tugu Silahisabungan yang terletak disisi lapangan upacara. Dan kalimat itu menjadi preseden dikalangan Silahisabungan khususnya di Jakarta beberapa waktu lamanya.
Puncaknya ketika tahun 2008 kala itu turpuk Loho Raja bertindak sebagai tuan rumah Pesta Ulangtahun Tugu Raja Silahisabungan. Secara demografi semakin jelas pihak-pihak yang berseberangan dan pengikutnyapun semakin agresif, khususnya di Silalahi nabolak, sehingga pesta ulangtahun tugu terpaksa diselengarakan dua kali pada bulan dan tahun yang sama. Pertama tanggal 22-23 November 2008 bagi kelompok Padangbatangari,  pendukungnya pada umumnya dikota-kota dan daerah di Sumatra Utara seperti Silalahi, Simalungun, P. Siantar dan Medan tokohnya atl Mayjen TNI (Purn.) Haposan Silalahi, Irjen. Pol. (Purn.) Drs. Edison Haloho  dkk, tempat acaranya ditugu Silahisabungan, dalam acara ini lahir pula Punguan Silahisabungan Sedunia yang dipimpin oleh  Irjen. Pol. (Purn.) Drs. Edison Haloho.  Kedua  seminggu sesudahnya yaitu tanggal 28-29 November 2008 dihuta Sihaloho disekitar Silalahinabolak, bagi pendukung Matanari yang diusung Loho Raja dari Jakarta dan sekitarnya serta sebagian dibonapasogit, tokohnya adalah Drs. M. Haloho, M.M.  (Op. Miduk), Drs. Maruba Haloho, M.M, Let. Jen Pur. Japurba Situngkir, Kombes (Purn.) Maringan Haloho dkk.  

Pembentukan Panitia
                Dengan  alasan-alasan yang dapat diterima, adanya keinginan baik dari Silalahinabolak, P. Siantar dan Medan agar kepanitiaan Pesta Luhutan Bolon Tugu Silahisabungan tahun 2011 secara khusus ketua, jatuh keButar Raja yang ada di Jakarta,  walaupun pada tujuh tahun yang silam secara aklamasih disepakati kepanitiaan berikutnya dipimpin dari Sumatra. Untuk memenuhi keinginan tersebut, ada beberapa prasyarat yang perlu diperhatikan dari pihak-pihak yang ambilbagian dalam perhelatan tersebut.
1. Untuk jalan tengah baiknya tidak mengundang tulang marga dari ompung boru yaitu istri dari Silahisabungan, sebagai penggantinya dapat mengundang hula-hula marga istri Butar Raja yaitu marga Sagala seperti Bolahan Amak 2003 yang lalu. Tujuannya adalah untuk menjaga hubungan baik agar tetap terpelihara kepada pihak-pihak yang bersebelahan. Dalam hal ini dituntut kearifan para Raja-raja Turpuk  di Silalahi. Sebab ada umpasa yang mengatakan ”dohor dongan partubu, dohoran do dongan parhundul”. Artinya Loho Raja dan Tungkir Raja dan haha/anggi lainnya adalah dongan partubu sekaligus dongan parhundul Butar Raja di Jabodetabek. Namun pilihan ini mungkin tidak sefaham dengan apa yang disebut ”luhutan bolon” yaitu pesta semua pomparan Silahisabungan walaupun Butar Raja sebagai panitia pelaksana yang disebut bolahan amak.
2. Panitia dari Sumatra dan ketuanya kita ambil yang ada dibona pasogit, mungkin belum pernah terjadi tetapi mari kita mulai. Dengan segala kekurangannya kita harus bersepakat untuk mengangkat dan mendukungnya, dengan demikian tidak ada hambatan  pshikologis dalam melaksanakan penyambutan tulang. Mungkinkah tercapai? Jawabnya ada pada rapat yang akan diselenggarakan pada pertengahan Januari 2011 yang akan datang dibona pasogit. 
3. Sambutan dari haha/anggi doli pada hari H hendaknya tidak dalam rangka ”kampanye atau sosialisasi terhadap apa yang sedang diinginkannya, bahkan kebulatan tekad atau mungkin intimidasi kepada kelompok yang lemah” akan tetapi hendaknya tidak lari dari apa motifasi perhelatan yang tidak murah itu yaitu bersatupadu bersekutu, merendahkan hati memohon kepada sang Pencipta agar diberkati semua pomparan Silahisabungan dimanapun berada.
4. Sudah waktunya karya bakti kita mulai dengan tema-tema yang bersifat umum dan  universal serta cinta Indonesia,  misal tema lingkungan hidup seperti seminar limnologi yang berkait dengan pelestarian air danau toba, gempa bumi dan mitigasi, pemanasan global dan penghijauan, olah raga dll. Utuk itu dituntut kesamaan visi dan missi kita Butar Raja.

        Bila digambarkan peristiwa demi peristiwa laksana panggung sandiwara yang dimainkan diatas mimbar dimana episode demi episode mengalir seiring waktu berjalan dan para pemainnyapun silih berganti pula tergantung tahun tayang dan giliran siapa. Ya seperti judulnya Panggung itu akan kita isi tahun depan kita Butarraja akan mengisi panggung itu apa ceritra kita dan siapa bertindak menjadi sutradara?


Penulis

Ir. Johansen Sinabutar M.M.
Ketua Umum Punguan Butar Raja Boru & Bere Se Jabodetabek

Noot : - Raja Turpuk adalah  lembaga  perwakilan dari masing-masing turpuk di Silalahi yang jumlahnya sejumlah anak (turpuk) dari Raja Silahisabungan, yang bertugas memberikan keputusan/pertimbangan-pertimbangan adat.
-  Raja Daoton adalah pimpinan rapat.
-  Raja ijolo adalah juru kunci.
-  Bolahan amak adalah Panitia Pelaksana Pesta (manghobasi).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar