Minggu, 01 Juli 2012

suku batak - HISTORY OF SUMATRA KARYA WILLIAM MARSDEN DALAM KAJIAN HISTORIOGRAFI INDONESIA

(suku batak) [Informasi seputer batak Toba, Pakpak, Karo, Simalungun, Angkola, Mandailing dan Wisata Danau Toba] HISTORY OF SUMATRA KARYA WILLIAM MARSDEN DALAM KAJIAN HISTORIOGRAFI INDONESIA

Oleh    : Lailatusysyukriyah
Humas Himpunan Mahasiswa Pascasarjana UGM


1. Latar Belakang
            Wilayah Sumatra merupakan sebuah kemegahan bentang alam yang terangkai dari untaian belantara hutan dari ujung Lampung hingga membujur kepelosok-pelosok wilayah Aceh. Jangkauan geografis Sumatra yang melampaui luasnya pulau Jawa menyimpan beragam keunikan dari segala sisinya meliputi aspek demografis, sosio kultural dan potensi-potensi alamnya sebagai sebuah kekuatan yang saling membangun. Kajian tentang Sumatra belum banyak ditulis oleh para peneliti dari berbagai penjuru dunia, terutama dari sisi historiografinya. Sejarah tentang Sumatra juga belum banyak dikaji secara ilmiah berdasarkan pada tradisi lokal atau karya-karya sastra seperti hikayat, kitab-kitab klasik atau syair-syair, terutama pada abad ke-17 – 18. Pada masa awal kedatangan para penjelajah  Eropa ke Nusantara, orang-orang Inggris selama masa pemerintahannya di Bengkulu mengungkapkan kekagumannya atas wilayah koloninya tersebut sebagai sebuah penghargaan terhadap bangsa Eropa, sebagaimana ditulis oleh Alan Harfield dalam A History of the Honorable  East India Company’s Garrison on West Coast of Sumatra 1685 – 1825.
            Sumatra adalah sebuah misteri tersembunyi dibalik pesona keindahan alamnya yang menyihir setiap orang untuk menjelajahinya. William Marsden, seorang kulit putih berkebangsaan Irlandia telah berhasil menuliskan historiografi Sumatra dengan begitu menakjubkan, tentu saja dengan segala keterbatasannya dalam masalah metodologi dan sumber diluar profesinya sebagai sejarawan profesional. Marsden bukanlah orang Eropa pertama yang mengunjungi Sumatra, pada abad ke 13 seorang pelancong dari Venesia juga pernah singgah sejenak di pulau Sumatra, akan tetapi catatan perjalanan Marcopolo tidak secara detail mendeskripsikan Sumatra sebagaimana dilakukan oleh Marsden. Pengalaman-pengalaman dan observasi  Marsden tentang Sumatra diungkapkan dalam History of Sumatra, sebuah mahakarya dari abad ke-18 yang melampaui pemikiran-pemikiran manusia dizamannya. Karya dari William Marsden tersebut merupakan sebuah prestasi besar dalam mengkaji wilayah-wilayah asing di luar benua Eropa.

2. Sejarah Sumatra: Sebuah Tinjauan Terhadap Karya Legendaris Abad 18
            History of Sumatra mengajak siapapun untuk menelusuri Sumatra pada abad ke 17-18 yang masih origin, dimana sebagian besar wilayahnya belum mengalami banyak persentuhan dengan peradaban-peradaban luar. William Marsden dengan latar belakangnya sebagai manusia Eropa yang hidup di empat musim, benar-benar dibuat takjub dengan eksotisme ‘ketimuran’ Sumatra yang membentang disepanjang pantai Barat hingga Timur. Ia mencoba menelusuri setiap lekuk eksotisme alamnya dengan mendeskripsikan geografis Sumatra, potensi alam dan hasil buminya, dengan bahasa yang sangat memukau. History of Sumatra menghabiskan 1/3 halaman untuk menggambarkan hal-hal yang berkaitan dengan kondisi alam di Sumatra, sehingga Mary Catherine Quilty dalam Textual Empires menyebut karya Marsden tersebut sebagai History of Nature. 
            History of Sumatra bukan hanya catatan perjalanan William Marsden berdasarkan romantismenya dipulau tersebut sebagaimana kesan-kesan yang pernah ditulis Raffles tentang kekagumannnya terhadap Sumatra. Tulisan Marsden tentang Sumatra merupakan sebuah karya besar pada abad ke-18 yang ditulis berdasarkan hasil observasi dan metodologi yang sudah tergolong canggih apabila meninjau kurun waktu dimana ia hidup. Pemikiran-pemikiran  Marsden dalam History of Sumatra belum pernah ditulis oleh peneliti-peneliti asing pada abad ke-18, oleh karena itu layak apabila karyanya tersebut disejajarkan dengan karya-karya besar dari penulis kajian Timur seperti Michael Symes (1795), Thomas Stamford Raffles (1817), John Crawfurd (1820) dan John Anderson (1826) sebagai Textual Empires. Marsden sendiri pada bagian pendahuluan dalam History of Sumatra mengungkapkan segala kendala-kendala dan kesulitan  yang dihadapinya untuk menyelesaikan tulisannya tersebut, secara garis besar dapat disimpulkan sebagai berikut, (1). Informasi yang diperlukan tidak dapat dikumpulkan dari penduduknya sendiri karena pengetahuan dan perhatian mereka sangat terbatas terhadap tanah kelahiran mereka. (2). Rimba raya Sumatra sangat sulit ditembus dan jarang dimasuki orang-orang Eropa sampai jarak yang cukup jauh. Hasil-hasil pemantauan orang yanng menulis tentang Sumatra juga banyak cacatnya karena hanya disimpan dalam ingatan tidak tercatat. (3). Banyaknya suku yang hidup dibawah bentuk pemerintahan merdeka sehingga membagi pulau ini dalam banyak corak. Kesulitan itu muncul bukan hanya karena jumlah dan perbedaan bahasa serta adat istiadat melainkan pembagian-pembagian daerah sangat membingungkan karena tidak memiliki garis-garis batas yang jelas. William Marsden, sang penjelajah dunia Timur, telah berhasil menaklukkan rintangan-rintangan tersebut menjadi sebuah karya besar yang diakui dunia. Buku Marsden yang luar biasa itu diterbitkan di London pada tahun 1783, dicetak ulang pada tahun berikutnya, dan direvisi serta diterbitkan kembali pada than 1811 (Bastin: 1965). Karya itu merupakan tulisan pertama tentang Indonesia yang ditulis secara mendalam dalam bahasa Inggris, sehingga merupakan bahan yang penting sekali bagi dunia imu pengetahuan.
            William Marsden sebagai orang Eropa yang berusaha memasuki sebuah dunia asing dari kehidupannya, terlepas dari kendala-kendala yang dihadapinya dalam proyek penelitiannya tersebut telah berhasil menyumbangkan khazanah ilmu pengetahuan yang sangat penting bagi peradaban manusia disepanjang zaman. Marsden bukan hanya mengumpulkan informasi-informasi secara acak melalui orang-orang suruhannya yang terlibat dalam proyek penelitian tersebut, tetapi juga berhasil menggali informasi mengenai struktur sosiologis dan budaya masyarakat Sumatra dengan mempelajari bahasa dan huruf alfabet dibeberapa daerah. Mempelajari bahasa lokal dan bentuk alfabet Sumatra bukanlah pekerjaan mudah mengingat setiap daerah/ suku menggunakan bahasa dan corak tulisan yang berbeda-beda, disamping perkembangan bahasa dan tulisan lokal yang sudah mengalami akulturasi dengan budaya  asing seperti Arab dan Portugis. Pada bab ke 10 dalam tulisannya, Marsden membandingkan susunan alfabet Sumatra, antara huruf Rejang, Batak, dan Lampung dimana setiap daerah memiliki corak dan kerumitan yang berbeda-beda. Ia juga membedakan pesimen bahasa Ibu dengan membandingkan antara bahasa Inggris, Melayu, Aceh, Batak, Rejang dan Lampung sehingga dengan cara demikian dapat ditelusuri akar kebudayaan dari masyarakat Sumatra. Marsden menaruh perhatian pada bahasa, adat dan hokum Indonesia, serta menganggap pokok persoalan itu terletak dalam konteks luas bukunya, maka kini ia dipandang sebagai salah seorang pelopor studi linguistic bahasa Indonesia dan hukum adat (Bastin: 1965).
            Penguasaan terhadap bahasa lokal dan tulisan merupakan kunci untuk mengetahui secara lebih mendalam tentang seluk beluk masyarakat suatu wilayah. Pada bab ke 11 hingga bab 22 dalam tulisannya, Marsden telah berhasil mendeskripsikan secara rinci mengenai sosiologi masyarakat, adat istiadat dan hukum adat, ritus perkawinan, tradisi, perbedaan penduduk hingga sejarah kerajaan-kerajaan di Sumatra dari kerajaan Minangkabau, kerajaan-kerajaan Tepi Sungai, kerajaan di Batak dan kerajaan di Aceh. Marsden adalah orang Eropa pertama yang memiliki dedikasi dan kapabilitas yang tinggi dalam melihat Sumatra dari berbagai sisi yang berbeda. History of Sumatra adalah sebuah kajian multidisipliner yang memberikan gambaran umum dan terperinci meliputi kajian geografis, demografi, sosiologi, antropologi, budaya dan sejarah masyarakat Sumatra. Kegigihan dan ketelitian William Marsden tersebut patut dijadikan contoh bagi para akademisi atau sejarawan yang ingin mengadakan penelitian terhadap suatu wilayah secara profesional.

3. Sudut Pandang Orientalisme dalam History of Sumatra
            History of Sumatra betapapun mencoba memasuki ruangan dunia ‘Timur’ dalam sudut pandang yang universal, tidak akan bisa melepaskan unsur-unsur subjektifitas dari penulisnya sendiri sebagai bangsa Eropa yang hidup dibelahan dunia ‘Barat’. Sejarah Indonesia sesudah tahun 1600 lebih bersifat ‘companies-historie’ yang umumnya ditulis oleh penulis-penulis asing terhadap dunia Timur (Sartono Kartodirjo:1968). Marsden, pada setiap bab dalam tulisannya memandang wilayah ‘Timur’ di Sumatra sebagai objek kajian yang mengundang minat orang-orang asing untuk mendalaminya. Disinilah  satu sisi dari orientalisme yang mulai berkembang menjadi sebuah disiplin akademis pada akhir abad ke 18. Orientalisme bukanlah hanya satu doktrin positif mengenai Timur yang selalu hadir di Barat, orientalisme juga merupakan tradisi akademis yang berpengaruh, disamping itu orientalisme juga merupakan satu kawasan minat yang ditentukan oleh para wisatawan, perusahaan-perusahaan dagang, pemerintah, ekpedisi-ekpedisi militer, pembaca-pembaca novel dan kisah-kisah petualangan yang eksotik, sejarawan-sejarawan alam dan pengunjung-pengunjung tempat suci yang menganggap Timur sebagai sejenis ilmu mengenai tempat-tempat, bangsa-bangsa dan peradaban-peradaban. (Said:1985). History of Sumatra ditulis oleh William Marsden bukan dalam kapasitasnya sebagai seorang akademisi tulen atau sejarawan profesional, melainkan sebagai sebuah proyek penulisan ilmiah untuk kepentingan pemerintah Inggris sebagaimana sedikit diungkapkan Marsden dalam Pendahuluan bukunya: “di Inggris saya juga didesak untuk segera menulis karena subjeknya baru sama sekali…”. William Marsden adalah seorang residen EIC yang berdinas dikompeni Hindia Timur. Pada tahun 1685-1825 Inggris membangun koloni di Bengkulu dengan mendirikan perusahaan dagang bernama EIC yang berpusat di Benteng Malborough. History of Sumatra tidak lepas dari kepentingan Inggris di Bengkulu sebagai daerah koloni yang potensial, buku tersebut juga ditulis pada periode yang sama masa pemerintahan Inggris di Bengkulu. Penulisan buku tersebut tidak lepas dari tujuan-tujuan eksploitatif perusahaan dagang Inggris, khususnya di wilayah pantai Barat Sumatra. Hal tersebut sesuai dengan apa yang dinyatakan John Bastin bahwa periode-periode akhir abad ke 18 adalah sebuah masa dimana Inggris membidik wilayah dan penduduk di Asia Tenggara untuk memperluas industrialisasi di Inggris dari hasil komoditas bahan material koloninya sebagai pasaran potensial dalam rangka menyediakan bahan-bahan untuk industri manufaktur (Bastin:1957). Tulisan Marsden mengenai Sumatra tidak dapat dilepaskan dari usaha-usaha untuk memuluskan imperialisme Inggris di daerah koloninya, walaupun pada kenyatannya Inggris ‘hanya’ mendapatkan hasil dari produksi lada untuk komoditas eksport, tidak sebanding dengan biaya dan tenaga yang dikeluarkan untuk membangun kedudukannya di Bengkulu. Ini berarti bahwa semua jenis dari konsep dan representasi yang digunakan dalam teks-teks literatur, catatan perjalanan, memoir, dan studi akademik melalui disiplin ilmu humaniora dan sosial dapat dianalisa sebagai sebuah pengertian untuk memahami pembiasan prektek ideologi dari kolonialisme (Young:1995). History of Sumatra sebagaimana telah disinggung diawal, menghabiskan 1/3 dari kajiannya untuk membahas aspek-aspek geografis, terutama yang berhubungan dengan potensi kekayaan alam beserta komoditas perdagangan. Pada akhir lampirannya, dengan ilustrasi sederhana Marsden juga menggambarkan berbagai hasil potensi alam untuk komoditas dagang seperti lada, damar, buah-buahan khas Sumatra dan lain-lain. Kekayaan alam Sumatra bukan hanya dihasilkan dari varietas flora dan faunanya yang berasal dari hutan, kekayaan dari perut bumi berupa emas, timah, tembaga, bijih besi dan lain-lain adalah objek dari tujuan-tujuan eksploitatif bagi upaya kolonialisasi diwilayah-wilayah Timur. Geografi pada dasrnya merupakan materi penunjang bagi pengetahuan mengenai Timur. Kosmopolitanisme geografi adalah kepentingan universal bagi seluruh Barat, yang hubungannya dengan bagian dunia yang selebihnya merupakan hubungan ketamakan terang-terangan (Said:1985).
            Masyarakat manusia dari budaya-budaya yang lebih maju, jarang sekali menyodorkan apa-apa kepada seseorang individu kecuali imperialisme, rasialisme dan etnosentrisme (Ibid). Orientalisme membantu dan dibantu oleh tekanan budaya umum yang cenderung menjadikan kesadaran perbedaan antara belahan-belahan dunia yang Eropa dan yang Asia lebih baku (Ibid, hal. 265). Kajian-kajian terhadap budaya dan masyarakat Timur adalah tahap-tahap dari imperialisme suatu bangsa untuk lebih mengenal kekuatan dan kelemahan ‘objek’nya. Pada bab ke 11 dalam Sosiologi Masyarakat Sumatra, Marsden membagi klasifikasi manusia dalam 5 kelas. Orang Sumatera yang paling beradab berada dikelas ketiga, sedangkan sisanya berada dikelas keempat. Kelas pertama diduduki oleh orang Yunani, Romawi, termasuk orang Eropa ‘berperadaban maju’ dan orang Cina. Golongan kedua mencakup bangsa-bangsa Persia, Moghul dan Turki. Golongan ketiga bangsa-bangsa pesisir utara Afrika, bangsa Arab paling maju, orang-orang Sumatra dan beberapa kerajaan dibagian Timur Nusa Tenggara. Dan kelas terakhir orang Sumatra yang peradabannya lebih kuno, kerajaan Meksiko, Peru dan orang-orang Tartar. Marsden secara membabi buta menganggap orang Melayu sebagai bangsa biadab setelah regenerasi dari masa kejayaan kerajaan Aceh abad ke 16 yang mengubah karakter mereka secara total. Marsden memberikan contoh dari ‘kebiadaban’ bangsa Melayu tersebut dari ulah sekelompok bajak laut dipantai Timur. Lebih lanjut Marsden juga menyamakan orang Melayu dengan kerbau dan macan dimana kedua jenis binatang tersebut merupakan hewan asli Sumatra yang kemudian diidentikkan dengan sifat dan kualitas manusia yang tinggal didaerah tersebut. Orang Melayu bersifat malas, keras kepala dan suka bersenang-senang seperti seekor kerbau, sebaliknya dalam petualangannya mereka penuh muslihat, haus darah dan senang menjarah seperti seekor macan. Pandangan-pandangan semacam itu sangat rasialis dan tidak memiliki landasan berpikir yang logis, karena hanya berdasarkan pengamatan sekilas saja. Marsden juga tidak menyebutkan teori antropologi mana yang ia gunakan untuk menafsirkan klasifikasi dan karakteristik dari orang-orang Sumatra untuk memperkuat argumennya tersebut. Marsden hanya menemukan beberapa contoh kasus dari sifat dan karakteristik orang Melayu akibat dari ‘keterbelakangan’ mereka, kemudian ia menyimpulkannya menjadi sebuah generalisasi umum. Inilah yang disebut oleh Quilty sebagai cojectural history atau sejarah rekaan. Pemisahan sejarah manusia kedalam tahapan perkembangan yang berbeda memungkinkan mereka untuk mempertahankan klasifikasi dan kategorisasi berdasarkan sejarah alamnya. Setiap sifat atau tradisi yang mereka lewati dapat dipetakkan kedalam sistem  pengklasifikasian atau susunan dimana masa sejarah atau periode ditempatkan berdasarkan ‘keturunan’ dan ‘spesies’ (Quilty: 1998). Pandangan superioritas William Marsden sebagai orang yang datang dari ‘bangsa paling beradab’ dimuka bumi terlihat dari bagaimana seorang manusia ‘modern’ Eropa yang diwujudkan dalam dirinya menilai tingkatan-tingkatan peradaban manusia menurut kerangka berpikirnya. Orang Sumatra adalah ‘ Other’ bagi peradaban Barat, sehingga mereka dapat membuat penilaian terhadap manusia berdasarkan ciri-ciri fisiknya, yang kemudian disebut ras (rasisme), dan dihubungkan dengan ‘tingkat peradaban manusia’. Rasisme sendiri menurut Robert Miles, seorang dosen sosiologi dari Amerika Serikat yang banyak meneliti tentang rasisme, adalah sebuah ideological Phenomenon. Ideology dari rasisme ini memiliki karakteristik sebagai berikut (Miles:1989), (1). Rasisme adalah asumsi dari proses rasialisasi, hal itu merupakan karakter dialektikal yang secara bersamaan adalah representasi dari ‘Other’ untuk membiaskan sebuah representasi dari ‘Self’. Rasisme kemudian menjadi sebuah penafsiran yang menunjukkan ciri-ciri khusus dari kolektifitas manusia, yang berfungsi sebagai ideologi tertutup dan terbuka. (2). Rasisme membentuk sebuah teori keterpaduan secara relatif, menujukkan struktur yang tidak logis dan mengemukakan bukti dalam mendukungnya. Tetapi teori tersebut juga menunjukkan bentuk kekurangberpaduan dari rangkaian stereotip, bayangan, atribut dan penjelasan yang dibangun untuk menunjukkan kehidupan sehari-hari. Kolonialisasi Eropa yang berlangsung sekitar pertengahan abad 17 hingga awal abad 20 merupakan sebuah pengenalan panjang terhadap sifat dan karakteristik dari penduduk jajahannya. Para penjelajah dan pedagang Eropa pada abad 16 dan 17 tidak mungkin melaksanakan misinya tanpa mengenal karakteristik dari orang-orang yang akan mereka jumpai melalui pengalaman dari kontak langsung. Lebih dari itu mereka menduduki posisi kelas dalam hierarki masyarakat feudal yang sebelumnya telah memiliki tradisi panjang dan menganggap mereka sebagai ‘Other’ (Ibid). Dengan demikian rasisme sebagai sebuah ideologi sengaja dibangun untuk mengekalkan kedudukan orang-orang kulit putih Eropa dalam stratifikasi sosial ditanah jajahannya. Orang-orang Sumatra sebagaimana orang-orang Indian di Amerika Utara dan orang-orang Aborigin adalah proyek ‘suaka’ yang harus ‘dilindungi’ eksistensinya untuk dimanfaatkan bagi kepentingan Eropa yang ‘lebih maju’. Pemerintah Inggris dapat memelihara keaslian budaya orang-orang Sumatra karena mereka dapat menghargai kesederhanaan dari tatanan masyarakat Sumatra yang paling rendah (Quilty:1998).

Sumatra menempati posisi strategis penting, merupakan wilayah yang dipersengketakan Inggris dan Belanda, karena menghasilkan lada dan komoditi berharga lain (Riclefs:1991). Histoy of Sumatra merupakan hasil observasi Marsden selama keberadaannya di Sumatra Barat dari tahun 1771-1779, juga sebuah informasi penting bagi kolonialisasi Eropa di Asia Tenggara.

DAFTAR PUSTAKA

            Bastin, John. 1957. The Native Policies of Sir Stamford Raffles on Java and Sumatra. Oxford: Oxford University Press.
Bastin, John. 1965. Sumber-sumber Inggris Bagi Sejarah Indonesia Modern dalam Soedjatmoko. 1995. Historiografi Indonesia Sebuah Pengantar. Jakarta: P.T. Gramedia Pustaka.
            Kartodirjo, Sartono.1968. Historiografi dan Beberapa Persoalan di Sekitar Sedjarah Indonesia. Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM.
            Marsden, William. 1966 . History of Sumatra. Kuala Lumpur: Oxford University Press
Miles, Robert. 1989. Racism. New York: Routledge.
Ricklefs, M.C. 1991. Sejarah Indonesia Modern. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada Press
            Said, Edward. W. 1985. Orientalisme. Bandung: Pustaka
            Quilty, Mary Catherine. 1998. Textual Empires. Australia: Monash University.
            Young, Robert J.C. 1995. Colonial Desire Hybridity in Theory, Culture and Race. New York: Routledge.
PROGAM STUDI ILMU SEJARAH
PROGAM PASCASARJANA FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA


Sumber:
http://hmp.ugm.ac.id/2012/05/history-of-sumatra-karya-william-marsden-dalam-kajian-historiografi-indonesia.htm

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar