Kamis, 07 Juni 2012

suku batak - Sepuluh hari MENCARI HARIMAU

(suku batak) [Informasi seputer batak Toba, Pakpak, Karo, Simalungun, Angkola, Mandailing dan Wisata Danau Toba]
Sepuluh hari MENCARI HARIMAU


Seiring dengan adanya program monitoring keanekaragaman hayati khususnya spesies Harimau (Phantera tigris sumatrae) di Taman Nasional Batang Gadis, dilakukanlah kunjungan di beberapa program konservasi Harimau di Sumatera.

Oleh: Anton Ario
GGNP Biodiversity Research Coordinator
Sugesti
GIS Technical Assistant for NSC program


Kunjungan dilakukan di seluruh kegiatan beberapa lembaga yang meneliti harimau antara lain di Lampung yang dilakukan oleh Wildlife Conservation Society -Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (WCS-TNBBS), di Jambi: Zoological Society of London (ZSL-Asiatic Persada) dan di Riau: World Wide Fund For Nature (WWF-Tesso Nilo) yang menjadi target kunjungan.

Ombak di jalanan

Perjalanan dimulai dari Jakarta mengendarai mobil milik NSC program. Sesekali kaki kiri dengan reflek mencari pedal kopling di kendaraan tersebut, maklum belum terbiasanya kami menggunakan kendaraan yang tidak ada pedal koplingnya alias automatic transmition car. Tetapi hal tersebut tidak berlangsung lama, kendaraan dapat segera dikuasi dan dipacu dengan mulus menuju penyeberangan Merak, Banten.

Dua jam terombang lautan—Selat Jawa-- akhirnya roda kendaran mendarat mulus di tanah Sumatera. Kendaran dipacu menuju lokasi pertama yaitu program konservasi harimau WCS di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Dilanjutkan ke lokasi kedua yaitu program harimau ZSL di Asiatic Persada. Kemudian pada etape terakhir yaitu program harimau WWF di Taman Nasional Tesso Nilo.

Tidak disangka bahwa kondisi jalan lintas Sumatera saat ini mengalami kerusakan yang parah. Diputuskan untuk menempuh lintas timur. Tetapi apa lacur, jalan lintas timurpun mengalami hal serupa, rusak, bergelombang dan bolong-bolong. Akibatnya kendaraan yang kami kemudikan secara bergantian itu harus sering mengalami perhentian mendadak karena kondisi jalan yang tidak memungkinkan kendaraan dipacu dengan kecepatan tinggi. Tetapi dalam kondisi jalan seperti itu, kami masih diuntungkan dengan transmisi mobil yang automatic sehingga tidak menyebabkan kami kelelalahan dalam mengemudi.

Menjadi offroader

Dalam setiap kunjungan, kami sempatkan untuk turun ke lapangan. Artinya menyaksikan dan mengikuti kegiatan camera trapping yang dilakukan masing-masing program harimau.

Hampir setiap lokasi yang kami kunjugi ke lapangan, selalu melalui jalan-jalan yang dalam kondisi parah. Lumpur yang melompat-lompat hingga memasuki kabin mobil, selalu menemami kami setiap perjalanan ke lapangan. Tidak mengherankan dalam setiap kegiatan ini mereka menggunakan kendaraan-kendaraan Four-wheel drive untuk aktivitasnya. Sebut saja kendaraan double cabin Mistubhisi Strada dan Toyota Landcruiser keluaran tahun 1980 yang dipergunakan ZSL. Begitu juga di TNBBS dan Tesso Nilo, Kendaraan Taft Hi-Line menjadi tunggangan keseharian mereka dalam kelapangan.

Sunarto, koordinator program harimau WWF sengaja menunjukkan kepada kami kondisi mobil operasionalnya yang penuh lumpur tidak tercuci. “Sengaja gue nggak cuci tuh mobil ton..sampe elu dateng,”.. canda Sunarto dengan bangga.

Dilihat kondisi medannya memang sebagian besar merupakan jalan-jalan bekas HPH yang tentunya kondisinya parah seperti di Asiatic persada dan Tesson Nilo. Tetapi terdapat keunikan tersendiri mencoba track berlumpur, cocok untuk menguji ketangguhan berkendara di medan yang rusak berat. Pemandangan seperti ini seakan membawa kami menjadi offroader yang selalu bergelimang lumpur.

“Berburu” harimau

Kegiatan pertama kami lakukan di Lampung tepatnya di program WCS. Dengan panjang lebar Untung “Tiung”, koordinator program Harimau di WCS mejelaskan kepada kami tentang kegiatan penelitian harimau dengan camera trapping di TNBBS. Selain metodelogi, teknis operasional lapangan hingga pengembangan database kami dapatkan informasi tersebut. Program harimau di WCS tergolong sudah cukup lama berlangsung. Program di WCS ini, merupakan salah satu referensi untuk kegiatan serupa di Taman Nasional Batang Gadis nantinya.

Di program harimau ZSL di PT Asiatic Persada – Jambi, kami juga mendapatkan informasi dari Dolly Priatna, koordinator program Harimau ZSL. Dolly juga memberikan informasi dan masukan-masukan kepada kami tentang kegiatan harimau di Sumatera. Dia juga menjelaskan kegiatan harimau di lokasi yang merupakan perkebunan kelapa sawit dan berbatasan dengan HPH Asialog tersebut. Walaupun penelitian bukan dikawasan konservasi tetapi manajemen Asiatic Persada memiliki komitmen dalam kegiatan konservasi khususnya Harimau, Dolly menjelaskan.

Lain halnya di program harimau WWF-Tesso Nilo. Lokasi ini merupakan target lokasi terakhir kami. Sunarto menjelaskan dengan gamblang dan banyak membantu kami dalam memberikan masukan-masukan untuk kegiatan di Taman Nasional Batang Gadis. Karena kebetulan Sunarto juga pernah terlibat dalam perencanaan tersebut.

Penggunaan camera trap setiap lokasi berbeda-beda tipenya. WCS menggunakan tipe Camtrakker dalam operasionalnya, sedangkan ZSL menggunaakan tipe Photo Scout dan Camtrakker. Di WWF menggunakan jenis kamera tipe Deer Cam. Walaupun berbeda tipe, secara prinsip tidak ada perbedaan. Perbedaannya hanya pada komponen dan sedikit dalam pengoperasiannya.

Begitu juga dalam penggunaan metodelogi pada ketiga lokasi tersebut hampir sama, hanya saja dalam penetapan dan tekniknya yang mengalami pengembangan dalam teknis, datasheet maupun database-nya. Selain itu dalam pemilihan lokasi pemasangan di tiga lokasi juga ada yang berdasarkan sistem acak (random) dan ada juga yang berdasarkan dari lokasi potensial keberadaan harimau.

Tujuan dari penelitian harimau yang dilakukan pada masing-masing lokasi kunjungan tersebut, selain mengetahui estimasi populasi dan distribusi dan kelimpahan mangsa (prey), juga dilakukan peningkatan kesadaran masyarakat melalui awareness / campaign dan pendidikan. Selain itu ada juga yang ingin mengetahui home range harimau dengan menggunakan radio collar seperti yang dilakukan di ZSL. Pemantauan melalui kegiatan anti poaching seperti yang dilakukan ZSL dan WWF tidak ketinggalan dilakukan untuk memonitor keberadaan dan ancaman terhadap satwa belang ini. Intinya dari kesemua aktivitas tesebut memiliki satu tujuan yaitu konservasi Harimau sumatra yang tingkat ancamannya tidak pernah berkurang. (Anton.doc)


HARIMAU SUMATRA (Panthera tigris sumatrae)
di Taman Nasional Batang Gadis

By:
Anton Ario
GGNP Biodiversity Research Coordinator

Taman Nasional Batang Gadis yang berada di kabupaten Mandailing Natal (Madina) propinsi Sumatera Utara, memiliki luasan lebih kurang 108.000 ha. Hasil kegiatan RAP (Rapid Assessment Program), buah kejasama antara CII, PHKA, Litbang Kehutanan dan LIPI, mengemukakan bahwa Taman Nasional Batang Gadis menyimpan potensi keanekaragamn hayati yang tergolong tinggi, termasuk Harimau sumatra (Panthera tigirs sumatrae).

Harimau Sumatera merupakan satu-satunya dari subspesies Harimau yang masih tersisa di Indonesia. Keberadaannya hingga saat ini semakin mengkhawatirkan. Kehilangan habitat dan mangsa (Bovidae dan Cervidae) menyebabkan satwa yang hidup di pulau sumatera ini semakin terancam keberadaannya. Saat ini diperkirakan berkisar 400-500 ekor yang masih tersisa di alam (Seidenstiker,1999). Keadaan yang mengkhawatirkan inilah yang menyebabkan Harimau sumatera berstatus critically endangered (IUCN 2004). Selain itu juga, dengan maraknya perburuan dan perdagangan menjadikan Harimau sumatera tergolong Appendix I (CITES) artinya satwa yang dilarang keras untuk diperdagangkan dengan alasan apapun.

Harimau merupakan satwa yang menempati posisi puncak dalam rantai makanan di hutan tropis. Peranannya sebagai top predator, menjadikan harimau menjadi salah satu satwa yang berperan penting dalam keseimbangan ekosistem. Kepunahan akan terjadi pada Harimau sumatera apabila ancaman terhadap kehidupan satwa ini terus berlangsung, seperti halnya yang terjadi pada Harimau bali (Pantera tigris balica) dan Harimau jawa (Pantera tigris sondaica) yang mengalami kepunahan sejak tahun 1940-an dan 1980-an.

Keberadaan harimau di Taman Nasional Batang Gadis, diketahui berdasarkan pemasangan perangkap kamera (Camera trap) di beberapa lokasi. Kegiatan ini telah dilakukan seiring penetapan kawasan tersebut menjadi Taman Nasional. Berdasarkan temuan keberadaan harimau tersebut, dilakukanlah program konservasi harimau untuk lebih memaksimalkan program konservasi di Taman Nasional Batang Gadis. Melalui program konservasi Harimau tersebut, sekiranya dapat menjadi salah satu program yang akan mendapatkan keluaran penting dalam konservasi spesies dan habitat dalam pengelolaan taman nasional Batang Gadis. Selain itu kegiatan pendidikan dan awareness, diharapkan dapat menumbuhkan kepedulian masyarakat di sekitar kawasan taman nasional terhadap Harimau.

Hingga saat ini telah dioperasikan tujuh camera trap (kemungkinan besar bertambah menjadi 20 kamera) yang tersebar di beberapa lokasi penempatan kamera yang selama ini dilakukan oleh NSC team. Selama pengoperasian Camera trap di dapat 2 individu harimau. Selain itu satwa lain yang juga terekam diantaranya burung Kuau (Argusianus argus), Tapir (Tapirus indicus), Kambing hutan (Naemorhedus sumatrae), Kijang (Muntiacus muntjak), Kucing hutan ( Felis bengalensis), Kucing emas ( Catopuma temminckii), dan lain-lain (Anton).


http://www.conservation.or.id/tropika.php?catid=43&tcatid=250&page=g_tropika.index

http://horasmadina.blogspot.com/2007/07/sepuluh-hari-mencari-harimau-seiring.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar