Rabu, 06 Juni 2012

suku batak - MIGRASI MARGA HARAHAP

(suku batak) [Informasi seputer batak Toba, Pakpak, Karo, Simalungun, Angkola, Mandailing dan Wisata Danau Toba]
MIGRASI MARGA HARAHAP

Marga Harahap terjadi selaku pecahan dari grup marga Borbor, di Habinsaran sudah agak jauh sebelah timur dari Danau Toba. Berlainan dengan marga Lubis, seluruh marga Harahap ikut bermigrasi. Tidak satu pun anggota dari marga Harahap yang tertinggal di Batak Utara

Awalnya marga Harahap bermigrasinya bukanlah ke selatan, namun ke timur. Orang-orang marga Harahap turun dari dataran tinggi Habinsaran, menapaki sepanjang pinggiran (down-hill) sungai Kualu, dan masuk ke dataran (prairies) di daerah Padanglawas.Pertanian adalah hal yang muskil di daerah pedataran,akibatnya orang-orang marga Harahap beralih dari pertanian ke peternak (cattle breeders). Mereka terpaksa pula berpindah-pindah (nomadic), mengikuti arah merumputnya ternak (grazing cattle). Orang-orang marga Harahap menjadi horse mounted Cow Boys. Menunggang kuda (horse riding) mengembara mengikuti  arah ternak merumput. Padanglawas memang bagus untuk peternakan catlle, sapi dan  kerbau.

Hanya dalam waktu dua generasi, masayarakat marga Harahap sudah menguasai daerah yang begitu maha luas antar sungai Asahan dan sungai Rokan. Di situlah di tepi sungai Barumun, Gunungtua menjadi sentra perdagangan ternak dari orang-orang marga harahap. Di sekitar daerah Langgapayung terjadi transit point, di jalur perdagangan di daerah  Padanglawas yang hanya menghasilkan ternak. Tidak ada beras, karena bukan daerah pertanian. Maka terjadilah barter di Langgapayung.

Tidak semua masyarakat marga Harahap merasa bahagia dengan kehidupan nomaden. Ada juga sebagian yang ingin menetap menjadi peladang,mempunyai rumah yang tetap, dengan kebun singkong, dengan tata cara kehidupan yang tetap. Lalu mereka mencari daerah pertanian sepanjang sungai Barumun, dan memasuki daerah Sipirok di Bungabondar, Hasang, dan Hanopan.

Daerah Sipirok sudah dilewati oleh orang-orang marga Lubis sebelummnya. Artinya: Daerah Sipirok hutan-hutannya sudah habis dibakar, dan top-soil (lapisan subur tanah) sudah hanyut. Erosi menjadi tanah tandus. Sebagian besar dari orang-orang marga Harahap berjalan terus, dan turun memasuki daerah Angkola. Hutan-hutan di Angkola pun sudah habis dibakari oleh orang-orang marga Lubis yang lewat disitu. Akan tetapi, daerah Angkola bukannya menjadi tano Garing ( = tanah tandus ). Malah sebaliknya, daerah Angkola menjadi bertambah subur karena tanah rendah. Top-soil dari jurusan Sipirok terakumulasi (berkumpul) di Angkola, tepatnya di sekitar sungai Batang Angkola.

Orang-orang marga Harahap berdiam (settled) di Angkola, daerah plus, dan menjadi peladang yang makmur di daerah tersebut. Tidur di dalam rumah yang tetap, tidak lagi di bawah bintang-bintang cemerlang di samping kuda tunggangannya, seperti semula di Padanglawas. Seperti the horse mounted Sheiks Of Arabia, begitu jugalah orang-orang marga Harahap membawa feodalism ke tanah Batak Selatan. Berlainan dengan tanah Batak Utara, di tanah Batak Selatan terjadi Feodal Lords. Mulai di Angkola, di mana timbul The Feodal Lord of Losungbatu, The Feodal Lord of Batunadua, dan The Feodal Lord of Hutarimbaru. Kemudian ditiru oleh orang-orang marga Siregar di Sipirok, dan orang-orang marga Nasution serta orang-orang marga Lubis di Mandailing.

Demikianlah caranya, orang-orang marga Harahap yang berasal dari Habinsaran di sebelah South East (Tenggara) dari Toba, menjadi orang-orang tanah Batak Selatan di daerah pengaliran sungai Batangkola. Menjadi horse mounted slave owners pula,yang menganggap dirinya setinggi langit lebih tinggi daripada manusia lainnya.


Sumber:
http://sumatera.freeservers.com/Adattapanuli/migrasi_marga_harahap.htm

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar