Selasa, 01 Mei 2012

suku batak - Pengaruh Kebudayaan Hindu di Sipirok

(suku batak) [Informasi seputer batak Toba, Pakpak, Karo, Simalungun, Angkola, Mandailing dan Wisata Danau Toba]

Pengaruh Kebudayaan Hindu di Sipirok


Putra Sipirok – 12 October 2010
Ditulis oleh : Hesty Asnita Lubis
Delapan mata angin yang merupakan bahagian dari kosmologi yang terdapat dalam tradisi budaya masyarakat Sipirok, masing-masing disebut Purba (timur), Anggoni (tenggara), Dangsina (selatan), Nariti (barat daya), Pastima (barat), Manyabia (barat laut), Utara (utara), dan Irisannya (timur laut). Nama kedelapan mata angin tersebut menunjukkan persamaan besar dengan nama mata angin yang terdapat dalam budaya Hindu, yang masing-masing disebut : Purva, Agni, Daksina, Nairrita, Pascima, Vayawi, Utara dan Isanaa. Adanya persamaan yang besar itu memberikan petunjuk bahwa dalam sejarah perkembangannya tradisri budaya masyarakat Sipirok sedikit banyaknya telah dipengaruhi oleh unsur kebudayaan Hindu pada masa yang lalu.

Dengan kata lain, unsur kebudayaan Hindu kedalam tradisi budaya masyrakat Sipirok tidak telepas dari kenyataan yang pernah dialami oleh masyarakat tersebut dalam perjalann sejarahnya pada masa lalu. Karena pada waktu masyarakat Sipirok menjalani perkembanganny dikawasan Sipirok dan kawasan Saipar Dolok Hole, pengaruh kebudayaan Hindu sudah berabad-abad lamanya berkembang dikawan Padang Lawas (Kecamatan Padang Bolak yang sekarang) yang terletak berdampingan dengan kedua kawasan yang ditempati oleh masyarakat Sipirok tersebut. Berkembangnya pengaruh kebudayaan Hindu pada masa yang lalu di kawasan Padang Lawas dibuktikan oleh candi-candi yang runtuhannya sampai sekarang masih dapat kita temukan dikawasan tersebut. Beberapa candi tersebut masih dapat kita temukan dan telah dijadikan sebagai objek wisata, seperti Candi Bahal dan Portibi.

Menurut F. M Schnitger (1964:85), candi-candi yang tedapat dikawasan Padang Lawas  itu pada umumnya berasal dari abad le 12 dan 13 . Ia memperkirakan bahwa candi-candi tersebut merupakan bahagian dari Imperium Panai yang namanya sering disebut-sebut dalam catatan sejarah Cina pada abad ke 6. Dalam caatatan tersebut orang Cina menyebut Imperium Panai itu dengan nama Poeni atau Poli.

Schnitger mengemukakan bahwa sekitar tahun 1000 Masehi, Imperium Panai yang berpusat di Padang Lawas itu merupakan Negara paling terkemuka diantara negara-negara yang terdapat di Sumatra pada zaman itu. Tetapi kemudian Imperium yang terkemuka itu takluk dibawah kekuasaan  raja Rajendrakola yang dating menyerang dari India Selatan pada sekitar taahun 1025 Masehi atau pada abad ke 11. Menurut Schnitger, pada abad-abad berikutnya Imperium Panai membangun banyk candi yang megah. Tetapi kemudian pada abad ke 14, kerajaan besar tersebut masuk ke bawah kekuasaan Mojopait, seperti tercatat dalam kitab Negarakertagama yang ditulis oleh Prapanca pada tahun 1365.

Dan keterangan Schnither ini dapatlah diperkirakan bahwa sejak abad ke-6 di kawasan Padang Lawas yang berdampingan  letaknya dengan kawasan Saipar Dolok Holedan Sipirok, sudah berkembang satu kerajaan besar, yaitu imperium Panai yang hidup dibawah pengaruh tradisi budaya Hindu. Melihat dekatnya jarak antara kawasan Padang Lawas dengan Saipar dolok Hole dan Sipirok, besar kemungkinan kedua kawasan ini dulunya juga termasuk dalam kekuasan Imperium Panai pada masa itu. Dengan demikian, ada pula kemungkinan sebelum Ompu Palti Raja dan sanak keluarganya datang ke kawasan Saipar Dolok Hole, dikawasan tersebut telah terdapat kelompok masyarakat yang hidup dibawah pengaruh tradisi budaya Hindu.

Dalam hubungan ini dapat dikemukakan bahwa tidak jauh dari Sipagimbardan juga tidak jauh dari tempat yang bernama Sibatang Kayu itu, terdapat sebuah gunung yang dikenal ssebagai Tor Batara Wisnu (Gunung Batara Wisnu). Nama gunung tersebut jelas sekali berasal dari nama dewa Batara Wisnu yang dipuja oleh penganut agama Hindu. Sebahagian penduduk Sipagimbar berpendapat bahwa Tor Batara Wisnu merupakan tempat keramat. Dan mereka percaya bahwa gunung tersebut dihuni oleh makhluk halus. Adanya pendapat yang seperti itu, membawa pengaruh positif untuk kelestarian hutan, sebab pendapat tersebut membuat masyarakat tidak berani untuk memasuki wilayah Gunung Batara Wisnu

Menurut cerita beberapa orang penduduk setempat, sampai pada tahun 1950-an pada satu tempat di Tor Batara Wisnu terdapat sebuah patung batu besar yang menggambarkan orang menunggang kuda. Tetapi dibelakang hari, patung tersebut hilang karena terjatuh dan terguling dan jatuh kelembah yang ditumbuhi hutan yang lebat. Pada satu tempat yan berbukit-bukit kecil, tidak jauh dari Tor Batara Wisnu terdapat banyak pecahan patung-patung batu. Sebahagian dari pecahan patung itu tampak menggambarkan bentuk bagian tubuh manusia. Pada lokasi tersebut terdapat juga banyak lempengan batu dengan bentuk empat persegi, dan terletak dalam susunan yang berbaris menyerupai pagar. Bahagian-bahagian tanah yang terpagar oleh lempengan-lempengan batu itu tersusun bertingkat menyerupai permukaan anak tangga. Tetapi bangunannya tidak dapat dilihat dengan jelas karena sudah tertimbun tanah yang ditumbuhi semak belukar yang lebat.

Menurut keterangan beberapa orang penduduk Sipagimbar, pada masa pemerintahan colonial Belanda pernah dating seorang kontelir Belanda dari Padang Sidimpuan untuk melakukan penggalian pada tempat tersebut diatas. Ia membawa beberapa orang penduduk setempat untuk melakukan penggalian itu. Tetapi baru saja mereka melakukan penggalian, tiba-tiba berhembus angin kencang dan hujan yang sangat lebat. Melihat kejadian itu sang Kontelir memerintahkan agar penggalian dihentikan dan mereka segera meninggalkan tempat itu. Tidak lama setelah itu sungai yang tedapat tidak jauh dari tempat itu banjir besar dan menghanyutkan sawah milik penduduk yang terletak disekitarnya.

Menurut pendapat orang-orang yang menceritakan kejadian itu, timbulnya kejadian aneh yang menakutkan itu karena makhluk-makhluk halus penghuni tempat tersebut marah kepada oraang-orang yang hendak menggali tempat mereka. Dalam hubungan ini dapat dikemukakaan bahwa Schnitger yang pernah melakukan penggalian dikawasan percandian Padang Lawas pada tahun 1935, mmengemukakan juga dalam tulisannya hal-haal yang yang berkaitan dengan pengaruh sihir makhlik hakus. Ia mengatakan (1964:91):” setiap hari saat matahari tegak pada puncaknya, kami melompat dari tebing sungai kedalam air dengan cara inilah kami menghindari pengaruh-pengaruh buruk makhluk halus yang tidak diragukaan lagi masih terus terpencar ditempat-temapat persembunyian mereka yang terdapat disekitar kami”.

Pada waktu melakukan penelitian di Sipagimbar, diperoleh pula keterangan dari beberapa penduduk setempat yang mengungkapkan adanya patung-patung batu di tempat tersebut. Mereka menceritakan bahwa pada waaktu mereka akan membangun perumahan di pasar Sipagimbar pada awal tahun 1950-an, mereka menemukan banyak patung batu yang berukuran cukup besar di tempat tersebut. Sebahagian masih dalam bentuk utuh yang menggambarkan bentuk manusia. Sebahagian patung ada yang tertimbun didalam tanah, karena mereka menganggap patung-patung tersebut tidak berguna, maka mereka membuang dan menjadikan patung-patung tersebut sebagai penguat untuk pondasi perumahan yang akan mereka bangun. Menurut cerita masyarakat tersebut pada waktu masih dalam keadaan utuh patung-patung yang dahulu terdapat di pasar Sipagimbar yang sekarang itu umumnya tepat menghadap kearah Tor Batara Wisnu yang tidak begitu jauh dari tempat tersebut..

Terdapatnya banyak pecahan patung batu didaerah Sipagimbar dan adanya gunung yang menggunakan nama Batara Wisnu menjadi pertanda bagi kita bahwa pada masa dulu ditempat tersebut telah berkembang kebudayaan Hindu. Yang dating dari Imperium Panai di Padang Lawas. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa menurut M. Djafar Daulay (1963:327) dari Portibi (Padang Lawas) pembangunan candi-candi menyusur ke hulu dari sungai batang Panai terus ke Sipagimbar, Sipirok.

Pada bahasan sebelumnya, Soetan Pangoerabaan telah mengemukakan bahwa pada tahun 1550 di Tambatan Gaja, Sipirok, keturunan Ompu Palti Raja yang pindah dari sibatang Kayu, melakukan musyawarah untuk membuat rencana pembukaan tempat-tempat pemukiman baru. Keterangan itu member petunjuk bahwa, rombongan keluarga Ompu Palti Raja sebagai cikal bakal yang mengawali proses terbentuknya masyarakat Sipirok, mulai memasuki kawasan Saipar Dolok Hole (Sibatang Kayu) dan kawasan Sipirok (Tambatan Gaja) pada masa setelah Imperium Panai yang berpusat di Padang Lawas masuk kebawah kekuasaan Mojopahit pada abad ke 14. Dan berdasarkan keterangan ang dikemukakan oleh soetaan Pangoerabaan itu dapat pula diperkirakan bahwa perkembangan masyarakat Sipirok dibawah kekuasaan Harajaon Natolu berlangsung setelah runtuhnya kekuasaan Mojopahit pada abad ke 15. Namun demikian pada abad-abad sebelumnya pengaruh kebudayaan Hindu sudah berkembang di wilayah Tapanuli Selatan. Dan pada gilirannya pengaruh kebudayaan Hindu itu menyusup pula sebahagian kedalam masyarakat Sipirok, seperti terlihat dari nama mata anginnya seperti disebutkan diatas.

Disamping itu, nama-nam hari dalam satu minggu yang ttedapat dalam masyarakat Sipirok memperlihatkan juga pengaruh masyarakat Hindu. Karena nama-nama hari tersebut mempergunakan bahasa Sanskerta. Seperti ditampilkan dibawah ini :
Perbandingan nama hari dlam dialek sipirok, Sanskerta, dan Bahasa Indonesia

Dialek Sipirok Bahasa Sanskerta Bahasa Indonesia Adittia Aditya Minggu Suma Soma Senin Anggara Anggara Selasa Muda Budha Rabu Boras Pati Brhaspati Kamis Sikkora Sukra Jum’at Samisara Sanaiscara Sabtu

Pengaruh kebudayaan Hindu menyusup pula kedalam bahasa (dialek) Sipirok yang menyerap kata-kata bahasa Sanskerta. Contohnya dapat dilihat dibawah ini :
Perbandingan beberapa kosa kata bahasa Sipirok dan bahasa Sanskerta

Dialek Sipirok Bahasa Sanskerta Artinya Arga Argha Harga Ari Hari Hari Arta Artha Harta Bada Vada Perkelahian Bale Vala Balai Bangso Vangsa Bangsa Barita Virtha Berita Bisa Visha Bisa (racun) Bodo Abodha Bodoh Dando Danda Denda Debata Devta Dewata Jala Jala Jala Jolma Janman Manusia Gaja Gaja Gajah Guru Guru Guru Hala Kala Kalajengking

Itulah contoh konkrit dan sejumlah kata-kata bahasa Sanskerta yang telah masuk kedalam perbendaharaan kosa kata bahasa (dialek) Sipirok. Masuknya unsur bahasa Sanskerta ke dalam kehidupan dan tradisi budaya masyarakat Sipirok, dapat member petunjuk bahwa dalam perjalanan sejarahnya pada masa yang lampau masyarakat Sipirok pernah berhubungan atau berintegrasi dengan suatu masyarakat yang kebudayaannya telaah dipengaruhi kebudayaan Hindu. Ada kemungkinan bahwa masyarakat tersebut mempunyai kedudukan yang lebih unggul pada masa terjadinya interaksi itu. Karena menurut lazimnya kebudayaan masyarakat yang lebih unggul kedudukannya yang selalu dapat mempengaruhi masyarakat lain yang berintegrasi dengannya. Ada pula kemungkinan bahwa interaksi yang dialami masyarakat Sipirok dengan masyarakat yang kebudayaannya telah dipengaruhi oleh kebudayaan Hiindu itu berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama pada masa yang lampau. Karena proses masuknya pengaruh suatu kebudayaan tertentu kedalam kebudayaan atau masyarakat yang lain biasanya memerlukan waktu yang cukup panjang. Apalagi kalau prose situ berlangsung melalui sarana komunikasi yang masih terbatas dan sederhana sebelumnya. Sejauh ini tidak tedapat bukti-bukti ataupu keterangan yang bisa menunjukkan secara pasti dari masyarakat mana pengaruh kebudayaan Hindu it diterima oleh masyarakat Sipirok pada masa yang lalu.

Sejalan dengan kronologi dan dan periodisasi sejarah yang telah berlangsung dalam kehidupan masyarakat di nusantara ini, berlangsungnya pengaruh kebudayaan Hindu dalam masyarakat Sipirok secara berangsur-angsur jadi berakhir dengan masuk dan berkembangnya agama islam. Tetapi meskipun begitu, dalam sejarah perkembangannya pada masa yang lalu, sebelum masyarakat sipirok menerima masuknya Islam, masyarakat telah menjalani masa perkembangan budaya aslinya sendiri yang ditandai oleh kepercayaan animism yang dinamakan pele begu (pemujaan roh nenek moyang).


Sumber : Buku “Sipirok Na Soli, Bianglala Kebudayaan Masyarakat Sipirok.”
Editing & Publishing : Harmein Pane

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar