Senin, 30 April 2012

suku batak - Pahlawan Bumi dari Tapanuli

(suku batak) [Informasi seputer batak Toba, Pakpak, Karo, Simalungun, Angkola, Mandailing dan Wisata Danau Toba]

Pahlawan Bumi dari Tapanuli


Adalah  Marandus Sirait, sosok ‘penjaga hutan’ dari Tapanuli yang menerima penghargaan Kalpataru dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjelang pertengahan Juni 2005 di Istana Cipanas, Jawa Barat. Lelaki lajang (38 tahun) ini merupakan satu dari sepuluh orang penyelamat bumi Indonesia yang mendapatkan penghargaan “pohon kehidupan” tahun ini.

Saat ditemui di “Taman Eden 100” Desa Sionggang, Kecamatan Lumbanjulu, Toba Samosir—sekira 15 Km dari Parapat—Marandus baru saja turun dari Vespa kesayangannya. Dia bertegur sapa dan bercanda akrab dengan para volunteer yang membantunya menjaga hutan yang kelak diharapkannya menjadi taman bak surga di bumi Sumatera Utara, bahkan Indonesia.

Wisata keluarga
Taman Eden 100 tampak cukup ramai di hari Minggu akhir bulan. Beberapa keluarga tampak asyik berwisata menikmati keindahan aneka tanaman di sini, demikian pula serombongan pelajar yang baru tiba segera bergegas turun dari bus untuk merasakan kesegaran taman ini.

Taman seluas 40 hektare berisi macam-macam tanaman khas Danau Toba, seperti jabi-jabi, hariara, ingul, sampinur bunga, andaliman, andalehet, anturmangun, sampinur tali, antarasa dan lain-lain. Ada pula tanam-tanaman yang ditanam sendiri oleh pengunjung, ditandai pencantuman nama-nama mereka di atas tanaman yang mereka tanam, seperti Joy Tobing, Ade Manuhutu dan lain-lain. “Siapa saja boleh menanamkan pohon di sini, tapi kita mengutip Rp20 ribu per tanaman untuk merawatnya,” kata Marandus.

Itulah satu daya tarik yang dibuat Marandus. Daya tarik lain: kalau mau sedikit berjalan mengikuti tali air menembus hutan di taman ini, pengunjung dijamin terpesona menikmati air terjun yang menyiramkan air jernih, bening dan sangat sejuk di salah satu sudutnya. Sesekali tampak hamparan sawah menguning milik masyarakat Desa Sionggang di balik rimbunan pohon-pohon yang terbuka.

“Beginilah Taman Eden 100,” kata Marandus. Dia memberikan kebebasan kepada para pengunjung untuk menikmatinya, tanpa dipungut bayaran, kecuali kalau mau menanam tanaman sendiri di sini “Tapi kalau mereka tetap mau menyumbang, silakan ke kotak di sana, ” katanya menunjuk kotak berbentuk segiempat terbuat dari kepingan plastik yang transparan. Tak banyak uang di dalamnya, hanya beberapa lembar pecahan Rp5.000 dan Rp1.000.

Dia mengatakan tidak mengutip retribusi apapun kepada rombongan keluarga dan pelajar yang berkunjung, kecuali bagi pengunjung dari kalangan instansi. “Retribusi itu pun tidak sepenuhnya untuk kami, sebagian masuk ke kas daerah,”ungkapnya, “kami mengutipnya juga atas saran pemerintah daerah.”

Peringatan Tuhan:lestarikan alam
Marandus memang tak mau membebani pengunjung untuk menikmati taman yang dijaganya. Dia mengaku merintis Taman Eden 100 untuk mengingatkan orang supaya terus menjaga dan melestarikan alam. “Tuhan sudah mengingatkan Adam untuk mengusahakan dan melestarikan bumi, maka sebagai generasi berikutnya kita wajib meneruskannya,” jelasnya.

Dia mengemukakan peringatan Tuhan itu merupakan pemicu terkuat yang mendorongnya untuk membangun Taman Eden 100. Semula, katanya, di tahun 1991 dia hanya meneruskan peringatan-peringatan itu lewat musik di sekolah-sekolah tempatnya mengajar sebagai guru musik, baik di sekitar Tobasa maupun hingga ke Kota Pematangsiantar, demikian pula di gereja-gereja. “Tapi saya merasa tak cukup hanya begitu, perlu contoh nyata,” katanya.

Lalu Marandus pun menyambangi keluarga untuk membangun taman yang diharapkan bisa mirip surga berisi 100 jenis tanaman khas Danau Toba yang kini sudah mulai langka. “Mereka setuju, saya diberi hak mengelola 40 hektar lahan keluarga di sini,” kata anak ke 3 dari 10 bersaudara yang berayahkan Lea Sirait ini.

Marandus gembira mendapat dukungan keluarga berkat sang ayah. Dia pun mulai mewujudkan Taman Eden 100 pada tahun 1998. “Saya berharap di sini nanti benar-benar ada 100 jenis tanaman langka, syukur kalau bisa lebih dari jumlah itu.”

Jual alat band untuk Taman Eden

Tetapi untuk membangun taman wisata ini tentu saja tidak mudah, apalagi dana yang dimilikinya sangat terbatas. Tak ada bantuan dari manapun, termasuk pemerintah daerah setempat. Marandus tak peduli, semua penghasilan yang diterimanya sebagai guru musik digunakan untuk membangun taman ini. “Sampai-sampai saya terpaksa menjual alat-alat band punya saya untuk membangun taman ini,” tuturnya.

Syukurlah, dia mengemukakan, sekarang Taman Eden 100 mulai dikenal masyarakat. Beberapa hotel di Parapat mulai tertarik membawa tamunya untuk datang ke sini. Begitupun, dia menegaskan, bantuan langsung dari pemerintah daerah masih belum ada juga. “Tapi tak soal, sekalipun saya hampir selalu tak punya uang di kantong, yang penting taman ini bisa memberi arti pentingnya melestarikan alam.”

Dia juga masih bersyukur ada beberapa program pembangunan yang dikelola pemerintah daerah melintasi kawasan Taman Eden 100, misalnya pembangunan tali air oleh Dinas Pengairan. Dinas ini membangun tali air yang mengalirkan air dari air terjun di tamannya untuk mengairi sawah-sawah di sekitar Lumbanjulu. “Saluran tali air ini memanjang di lahan taman sehingga mirip sungai kecil,” ungkapnya, “semua ini kebetulan yang menguntungkan bagi taman.”

Berbagai “kebetulan” itu pun semakin memacu Marandus untuk melestarikan alam. Bahkan dia hampir lupa kalau di usianya yang tinggal dua tahun lagi memasuki kepala empat [38 tahun] belum ada seorang wanita mendampingi hidupnya. Saat disinggung soal ini, Marandus hanya tersenyum—namun sekitar pertengahan 2006 diapun melangsungkan pernikahan di tengah ‘hutan’ Taman Eden 100.

Marandus cukup bahagia. Mungkin karena musik yang dimainkannya sudah semakin nyata, bukan sekadar lagu dan nada tapi ada Taman Eden 100 dan penghargaan Kalpataru. “Sekarang pemerintah daerah juga memberi hak kepada saya mengelola hutan di sini hingga seluas 1000 hektar,” ungkapnya lagi. Tapi…lagi-lagi tanpa dana.

sumber:Nurhalim Tanjung-tabloid analisa

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar