Jumat, 06 April 2012

suku batak - Bermusik dari Rumah

(suku batak) [Informasi seputer batak Toba, Pakpak, Karo, Simalungun, Angkola, Mandailing dan Wisata Danau Toba]
Bermusik dari Rumah
Ilham Khoiri

Rizaldi Siagian (60), seorang etnomusikolog, memilih bekerja meneliti musik etnik di rumahnya. Dengan membangun studio rekaman dan berbagai peralatan musik yang tersedia di rumah, dia menghasilkan karya-karya penelitian dan produk rekaman. ”Saya bisa bekerja kapan saja,” katanya.

Rumah itu berada di Perumahan Cinere Megapolitan, Cinere, Kota Depok, Jawa Barat. Ini adalah perumahan lama yang cukup hijau dengan berbagai pepohonan. Bangunannya terdiri dari dua lantai di atas lahan 200 meter persegi.

Suasana serba musik memang langsung terasa saat kami mengunjungi rumah itu, Jumat (20/8) pagi lalu. Masuk ruang tamu, kami disambut serangkaian kendang dari Danau Toba yang disebut taganing. Di dekatnya, ada sebuah vina, semacam gambus dari India Selatan.

Di ruang keluarga ada puluhan alat musik yang ditata di dekat perpustakaan. Instrumen itu rata-rata berasal dari berbagai daerah di Nusantara. Sebut saja, antara lain, saluang yang mirip seruling besar dari Sumatera Barat, lalofe dari Palu, seruling Bali, ndruri dana dari Nias.

”Ke mana saja, ketika pulang saya bawa alat musik. Saya belajar bagaimana cara alat itu menghasilkan bunyi,” kata Rizaldi.

Sebagian instrumen itu punya sejarah yang tua. Rizaldi menunjuk kledi, alat musik suku Dayak di Kalimantan. Alat musik tiup yang dibuat dari bambu dan buah labu itu pernah tercatat dalam ornamen di nekara (tembikar) dari Dong Son yang diproduksi sekitar 600 tahun sebelum Masehi. Bahkan, gambarnya juga muncul dalam relief di Candi Borobudur.

Studio
Suasana musik lebih kental di studio yang terletak di dekat ruang keluarga, berdampingan dengan taman terbuka di belakang. Ruang berukuran 2,8 meter x 5 meter persegi itu dilapisi dinding peredam suara. Berbagai peralatan rekaman digital memenuhi ruang ini.

Ada alat perekam audio digital sebesar genggaman orang dewasa yang bisa dibawa ke lapangan. Laptop yang nyambung dengan mixer sound recording. Ada juga alat perekam multitrack yang punya delapan channel rekaman.

Rizaldi biasa merekam musik dari lapangan, lantas diolah di komputer. Kadang, suaranya diedit agar lebih rapi atau ditranskrip menjadi tangga nada notasi visual. Notasi ini dipakai untuk membandingkan dengan struktur musik lain.

Semua itu bagian dari kerja seorang etnomusikolog yang memang mempelajari musik-musik yang hidup di luar musik Barat (klasik Eropa). ”Saya sudah mendokumentasikan musik Batak, Melayu, Dayak, dan Jawa. Semuanya saya rampungkan di studio ini,” kata lulusan Program Master Etnomusikologi dari San Diego State University, Amerika Serikat, tahun 1985 itu.

Dari ruang studi itu pula, lahir satu album Rizaldi bersama Rinto Harahap, Grenek (tahun 2000). Beberapa aransemen musik pop serta ilustrasi musik untuk sejumlah film dokumenter juga digarap di sini. Termasuk juga konsep musik pentas Megalitikum Kuantum pada ulang tahun ke-40 Kompas pada tahun 2005.

Dengan studio di dalam rumah, Rizaldi merasa lebih bebas untuk bekerja sesukanya. Dulu, kerjanya nyaris tanpa jadwal. Dia bisa berkutat di studio itu sejak pagi, lantas begadang hingga dini hari.
”Kalau capek, saya tidur. Tetapi, begitu bangun, masuk studio lagi,” katanya.

Namun, setahun terakhir, dia mengatur jadwal lebih sehat. Soalnya, Rizaldi terkena serangan jantung dan harus menjalani operasi. ”Saya bekerja pagi hari sampai siang. Kalau capek, main musik di ruang keluarga. Malam tidur lebih awal, sekitar pukul 21.00,” katanya.

Rizaldi mengaku betah menekuni penelitian musik di rumah itu. Rumah dengan tata ruang terbuka itu terasa longgar. Begitu membuka pintu depan di lantai pertama, kita langsung merasakan suasana lega. Ruang tamu, ruang keluarga, dapur, perpustakaan, hingga tembus ke taman belakang dibiarkan terbuka tanpa sekat.
Dengan begitu, sirkulasi udara mengalir lancar. Suasana jadi adem.

Lantai dua terdiri dari tiga kamar. Satu untuk gudang dan tempat cuci atau menyetrika. Dua kamar lagi untuk dua anaknya yang masih tinggal bersama. Dua anak lagi sudah hidup terpisah. Dua kamar itu juga punya jendela yang tembus ke taman di belakang.
”Rumah ini sangat intim. Saya lebih banyak beredar di studio, ruang keluarga, dan kamar tidur,” kata Rizaldi sambil menunjuk kamar utama di dekat ruang tamu.

Meski dipenuhi pernak-pernik musik, rumah itu juga menjadi media ekspresi istri Rizaldi, Musdalifah (54). Perempuan ramah yang belajar desain interior di San Diego State itu merancang banyak perabotan, seperti bedcover, kursi, gorden, kap lampu, wallpaper, dan berbagai pernak-pernik lain.

”Saya rancang sendiri perabotan itu dengan memesan kepada tukang langganan,” kata Musdalifah yang biasa menangani kamar pengantin itu.


Sumber:
http://nasional.kompas.com/read/2010/08/22/04024979/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar