Minggu, 04 Maret 2012

suku batak - SEJARAH MARGA SARAGIH GARINGGING

(suku batak) [Informasi seputer batak Toba, Pakpak, Karo, Simalungun, Angkola, Mandailing dan Wisata Danau Toba]
Dalam buku Rondahaim yang diterbitkan oleh Bina budaya Simalungun Medan 1993 pada halaman 24, Menurut penelitian Taralamsyah Saragih Garingging, nenek moyang Raja Raya adalah pendatang dari AJINEMBAH (di kabupaten Karo -sekarang). Pada halaman 49, Keanehan yang sama kita jumpai juga dalam silsilah Raja-Raja Raya yang konon datang dari Garingging (huta di Karo). Sipinangsorimengawini putri Raja Nagur untuk kemudian muncul sebagai salah satu kerajaan di Simalungun.
Dalam buku sejarah 100 tahun Pekabaran Injil di Simalungun, 2 Sept 1903–2003 tertulis di Halaman.31, Tuan Sipinangsori leluhur Raja Raya bermarga Saragih Garingging nikah dengan Puteri (bou) Raja Nagur.Halaman 90, J. Wismar Saragih dan B. Damanik yang menuliskan Tarombo sejarah asal usul Raja Raya bermarga Saragih Garingging. Di situ diterangkan bahwa nenek moyang mereka bukanlah berasal dari Samosir (Kemudian ditegaskan Raja Raya Tuan Gomok Saragih Garingging dan dikutip oleh J.Tideman), melainkan dari keturunan Raja di Ajinembah Karolanden.

Pada buku Saragih Garingging na binatur Taralamsyah Saragih Garingging pada hal.5 dan 6, terjadi perkelahian yang bersaudara di Ajinembah, saat itu (1427) pergilah Sipinangsori dari Garingging (huta di Karo) ke Tikkos (huta di Karo) bersama hade hade (Sanina, Kawan-kawan), ikut juga marga Sigumondrong.
Perjalanan diteruskan ke PurbaTua, disini ada yang ikut bergabung, terus ke Hinalang, dari sini ikut marga Sitopu. Begitulah selama 1 tahun dan sampai di Raya Simbolon(1428).
Setelah 1 bulan di Raya Simbolon, Sipinangsori diharapkan menghadap Raja Nagur (ke rumah bolon di Nagurusang). Raja Nagur mengajak Sipinangsori untuk mengusir musuh Raja Nagur. Setelah dilihat Sipinangsori memihak (Marbija) pada Raja Nagur, Sipinangsori dinikahkan dengan bou (putri) Raja Nagur yang tidak punya saudara Laki-laki (1428).
Pada 1430 Lahirlah Tuan Lajang Raya dari istri bou Nagur. Sipinangsori terus berperang. Setelah setahun tinggal (Tondok) di Talun Huta Batu, dilarikan (Iluahon) Sipinangsori Bou dari Harajaon Huta Batu ke Padang Bolag, bertempat tinggal (Marianan) bani Harangan (hutan) Dali. Disini lahirlah anaknya satu bernama si DALI (1444). Sipinangsori pergi berperang ke hilir (kehen) hutan Dali, ditinggalkanlah si Dali dan Inangnya (Bou Huta Batu). Dalam peperangan ini kalahlah Sipinangsori dan rencananya akan mundur kembali ke Raya Simbolon atau ke Ajinembah. Dalam perjalanan sampai di Lombang (jurang) di Dolok Lubuk Raya, kerbau Sinaggalutu tidak bisa berjalan. Itoktok ma huta bani talun ni Lubuk Raya ai, dibuatlah nama huta Sipinangsori. Mati disinilah kerbau Sinaggalutu.
Kira-kira 1470 si Dali mencari Bapaknya (Sipinangsori). Setelah bertemu, dibawa si Dali lah Inangnya (Bou Huta Batu) ke Huta Sipinangsori. Disinilah Sipinagsori dan balani beserta pengikutnya sampai matua.Kembali ke Raya Simbolon. Yang menggantikan Raja Nagur adalah Tuan Lajang Raya (lahir 1430), Selanjutnya Tuan Rayasimbolon (lahir 1465), Tuan Raya Gukguk (lahir 1500), Tuan Raya Unduk (lahir 1530),Tuan Raya Denggot (lahir 1590), Tuan Raya Poso (lahir 1615), Tuan Raya Nengel (lahir 1640). Pada masa Tuan Raya Nengel yang hendak mengawini bou Raja Panei dibuatlah syarat sebagai berikut:
1. Ningon dihut sini (..........................) Panei hu Raya manjaga bou Panei.
2. Ningon hasusuran bou Panei do boi Rajaankon i Raya.
3. Ganupan ai ningon ibagas bulawan (..................................).
Pada Tahun 1670, pernikahan telah dilaksanakan, dibangunlah pagar i lambung Rumah Bolon dan disebut Pagar Panei Bosi. Pada bulawan Tuan Raya Nengel rap pakon Harajaon Raya, Tuan Raya Tongah, Tuan Raya Bayu, Nagodang Raya diambil satu keputusan sebagai berikut:
a) Ningon hasusuran ni Sipinangsori do na boi jadi Raja, janah ningon bou Panei sibolononkon i Raya.
b) Halani ai iubahma morga ni Raya; Na boi jadi Raja i Raya aima morga Saragih Garingging
hasusuran ni Sipinangsori dari Ajinembah nahinan, jadi Gamot Bolon pakon harajaon ni Raya,
Tuan Raya Tongah ma sisukkunon Adat i Raya (Raja Adat), janah itodohma sanina ni jadi Tuan
Rumah Tongah, Tuan Parhuluan, Tuan Nagodang.
c) Ningon tading i Raya sanina Raja Panei manjaga bou Panei na jadi puangbolon Raya Aima use jadi
guru huta i Raya, tondong ni Raya.
d) Ipabakkit ma marga Sitopu anakboru Raya.
Raja Nengel sempat berhubungan dengan botounya, dan lahir 1 anak yang diasingkan di Harangan (hutan) sinumbah Onggou ilambung Sipoldas. Disebutlah Tuan Mortiha, yang setelah dewasa pergi ke Baulian menjadi Raja untuk menghadang musuh. Tuan Mortiha inilah awalmula (Bona) ni Raja Padang (Tebing Tinggi).

Raja Bolon (lahir 1675), Raja Martuah(lahir 1710), Tuan Morakhalim (lahir 1755), Tuan Jimmahadim (lahir 1790), Tuan Rondahaim (lahir 1828). Pada masa Tuan Rondahaim ini terkenal sampai keluar negeri dan tidak pernah dijajah Belanda, Tuan Rondahaim telah mendapat Bintang Jasa Utama dari Pemerintah Indonesia.

Tuan Sumayan disebut Tuan Hapoltakan (lahir 1857), Tuan Baja Raya. (Lahir 1881), Tuan Jahali (lahir 1922), terakhir Tuan Aribert (lahir 1947). Untuk Mamangku Tuan Jahali sebagai Raja, maka diangkatlah Tuan Jaoelan Kadoek sebagai pemangku Raja Raya(1940 – 1946).

Inilah penjelasan singkat marga Saragih Garingging menjadi Raja di Raya yang selanjutnya diteruskan sampai Pamangku Raja Raya Djaoelan Kadoek Saragih Garingging (buku J100 GKPS hal. 212 dan 277), Sejarah Simalungun oleh D Kenan Purba SH & Drs J.D.Purba hal. 98 (”Raja Raya Tuan Kaduk .....”) yang menjadi korban revolusi sosial 1946 (1947) pada usia 47 tahun. Joe Imbang adalah anak ke-5 laki-laki dari Djaolan Kadoek Saragih Garingging.
(diambil dari tarombo yg sdg disusun o/ Doriachman Saragih Garingging, update dari buku tarombo saragih garingging yg sdh pernah ada)

Sumber:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar